logo

Cerita Sore di Wakajzee

Tuhan Selalu Bersama Orang-Orang yang Berusaha

 

Sejak mula. Entah disengaja atau sekedar kebetulan. Saat tidak padat jadwal produksi, kami selalu senang menghabiskan waktu sore untuk berkumpul bersama.

Seluruh staf produksi dan administrasi akan duduk melingkar di ruang meeting atau teras kantor, lengkap dengan kopi dan camilan sore–pengganjal lapar–sebelum masuk jam makan malam. Paling sedikit, setidaknya dua kali dalam seminggu, rutinitas ini kami jalani.

Dari banyaknya sore yang pernah kami lewati. Ada satu sore yang mungkin tidak akan pernah hilang dari ingatan kami. Sore, di hari Minggu, 15 Maret 2020.

Kami semua sepakat, sore itu adalah sore yang paling menyesakkan sepanjang yang pernah kami ingat. Seperti biasa. Kami berkumpul di teras kantor.

Yudho Andriansyah CEO Wakajzee, pimpinan kami itu, datang sekira lima menit setelah seluruh staf berkumpul. Tak banyak kata, ia menunjukkan surat edaran social distancing dari Gubernur Jawa Timur. “Besok kita rilis kabar studio tutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” katanya dengan suara berat.

Panik? Tentu saja. Kami tak cukup pandai menyembunyikan perasaan panik yang kami alami seketika. Keputusan sudah jelas. Kantor kami harus ikut tutup sementara dan staf diminta untuk bekerja dari rumah. Resikonya terlalu besar dan tak sebanding dengan ragam cerita mencekam tentang virus corona yang kami baca di linimasa banyak media.

Pertemuan sore itu, kami tutup dengan tanpa banyak bicara. Kami pulang ke rumah masing-masing dalam diam. Membawa ratusan pertanyaan dan kegugupan menghadapi sesuatu yang selama ini kami kira hanya akan terjadi dalam film-film Hollywood.

Praktis, sejak 16 Maret 2020 Wakajzee Studio tutup. Seluruh kegiatan operasional kami kerjakan dari rumah. Jadwal produksi dengan beberapa klien terpaksa diundur. Sebagian besar kontrak kerja juga harus dibatalkan. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan pada awalnya. Denyut nadi perusahaan tiba-tiba harus berhenti seketika. Hampir tiga bulan studio tutup.

Untuk tetap dapat saling berkomunikasi, kami memanfaatkan aplikasi video conference. Sore kami yang biasanya berkumpul, berubah menjadi pertemuan berjarak dari rumah masing-masing.

Waktu terus berjalan. Kami tentu harus bertahan. Jika terus menerus menutup studio dan menghentikan produksi, darimana kami mendapat penghasilan? Kami tidak ingin menyerah begitu saja. Kami meyakini, Tuhan akan bersama orang-orang yang berusaha. Pertengahan Juli 2020, kami memutuskan untuk kembali beroperasional. Masa pandemi membuat kami menyadari banyak hal. Salah satunya adalah kesiapan untuk menerima perubahan sebagai bagian mutlak dari kehidupan. Berubah menjadi lebih baik tentunya. Banyak yang harus dikompromi memang.

Tapi kami jadi lebih peka dan peduli pada hal kecil yang mulanya sepele. Kami tahu, memberikan yang terbaik bagi klien Wakajzee adalah yang paling utama.

Tapi membuat mereka tetap aman dan sehat adalah kunci kebangkitan kami dalam menghadapi pandemi ini bersama mereka.

#Jembersae2021

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *