logo

Konflik Ras Dalam Komedi – Pantas Menangkah?

 

 

Oleh : Bobby Rahadyan

Kemunculan Tony “Lip” Vallelonga sebagai sosok pemberani dan arogan dalam montase awal di Copa, sebuah klub di pinggiran New York ditegaskan lewat ketidak-peduliannya ketika memukuli salah satu tamu klub yang nakal. Dan ketika Tony dengan pongahnya membayar dan memaksa penjaga mantel dan topi, agar mau menyerahkan topi kesayangan salah satu bos mafia setempat. Pada akhirnya, Tony mengembalikan topi itu kepada pemiliknya untuk mendapatkan simpati dan rasa hormat. Strategi unik untuk dapat berkawan dengan bos mafia besar. Kira-kira seperti itulah karakter Tony Lip yang diperankan dengan apik oleh Viggo Mortensen.

Khas figur mafia Italia di era-era film Godfather, Tony Lip, bagi penulis merupakan penggambaran preman yang terhormat. Secara rapi, Peter Farrelly sang sutradara, menempatkan porsi Tony dalam dua kehidupan yang berbeda. Sebagai tukang pukul sebuah klub dan kepala keluarga yang mencintai istri dan kedua anaknya. Secara tepat, kehadiran sentimen ras terhadap negro (afro-amerika) dalam keluarga Tony digambarkan melalui scene saat ada dua orang teknisi pipa kulit hitam yang memperbaiki saluran air di rumahnya. Dengan bahasa Itali, ayah Tony dan saudara-saudaranya membicarakan dua orang tersebut, dalam dialog epik. Sebuah percakapan yang seolah menjadi justifikasi terhadap arogansi ras, meskipun mereka menyadari bahwa mereka dan dua orang teknisi tersebut adalah sama-sama imigran.

Penulis mencatat sebuah transisi yang cukup menarik ketika Tony melihat ke arah gelas yang digunakan oleh dua orang teknisi untuk minum limun buatan istrinya. Peter sepertinya enggan memberi jeda pada isu sentimen rasis ini dengan membuat Tony membuang gelas tersebut ke tong sampah.

Cerita kemudian mengalir saat Tony membutuhkan pekerjaan karena klub tempatnya bekerja harus tutup sementara untuk direnovasi. Beberapa kali Tony dihadapkan pada pilihan untuk bekerja—yang sepertinya mengarah pada hal-hal kriminal dan dunia mafia. Dalam beberapa scene misalnya, Tony dipertemukan dengan figur khas mafia yang menawarkan sebuah pekerjaan, yang meskipun tidak secara detail dijelaskan tapi ekspresi dramatik yang dimunculkan menyampaikan pesan tentang hal-hal yang berbahaya dan beresiko.

Pertemuan Tony Lip dengan Don Shirley, seorang musisi jazz jenius yang mendapat panggilan doctor terjadi dengan dramatis. Keangkuhan Shirley yang diperankan oleh Mahershala Ali dan ekspresi kikuk yang ditampilkan Viggo memberi efek yang memukau. Entah kenapa, dialog yang dibangun dengan cepat terasa memiliki ritme untuk menyampaikan pesan adanya jarak kultur diantara keduanya. Tony sebagai mayoritas yang “ndeso”ni dan Don Shirley warga minoritas yang justru menyajikan sikap gentlemen ala bangsawan dan intelektual. Singkat cerita, Tony diminta menjadi supir untuk mengantar Shirley melakukan konser di beberapa negara bagian selatan. Di Amerika, terutama di wilayah selatan pada era itu terkenal akan sikap intoleransinya terhadap warga kulit hitam. Tony menerima pekerjaan dari Don Shirley dengan syarat bayaran yang cukup menggiurkan dan atas persetujuan istrinya terlebih dahulu dalam sebuah percakapan melalui telepon pada dini hari.

Perjalanan dimulai. Petualangan Tony Lip dan Don Shirley mengarungi sentimen ras masyarakat kulit putih terhadap orang afrika-amerika terus ditampilkan dalam adegan-adegan yang sebenarnya bisa dengan mudah ditebak. Green Book sendiri berasal dari buku berjudul The Negro Motorist Green Book karangan Victor Green. Sebuah buku yang digunakan oleh orang-orang afrika-amerika untuk mencari tempat-tempat yang aman dan ramah bagi orang kulit hitam di selatan. Buku inilah yang diberikan oleh salah satu teman band Don Shirley kepada Tony untuk mendapat rute yang aman selama perjalanan.

Adegan demi adegan berlanjut dalam konsep prasangka yang cukup menyegarkan pikiran. Dunia seolah di bolak-balik dalam kardus antara sentimen ras, kultur dan kemanusiaan. Persahabatan yang terjalin antara Tony yang kasar dan terkesan sembrono dengan Don Shirley yang begitu mengagungkan etika dan estetika dalam setiap detail kehidupannya, menjadi plot yang membuat penonton berada dalam nuansa haru, bahagia dan ketegangan yang cukup unik.

Bagi penulis, Green Book bukan sekedar drama komedi yang menyiratkan satire dalam dialog dan sikap. Tapi dalam setiap scene dan adegan yang berkesinambungkan menciptakan perubahan pandangan dari dua tokoh sentral dalam film.

Dan penghargaan Best Pictures yang didapatkan Green Book dalam perhelatan Oscar 2019 rasanya menjadi kewajaran yang harus diterima oleh semua penikmat film. Mahershala Ali sendiri mendapat piala Best Supporting Actors, meskipun sebenarnya penulis berharap hal sama juga terjadi kepada Viggo Mortensen yang aktingnya layak disebut epic. Terlepas dari penilaian dan polemik yang muncul soal tepat atau tidak tepatnya Green Book yang mendapat Best Pictures, ada satu fakta yang tidak bisa dinafikan dalam industri film Hollywood yang masih selalu menyukai tema-tema film berbau isu rasial.

Isu intoleransi seperti ini agaknya bisa juga diaplikasikan dalam peta perfilman nasional asalkan tetap bisa jujur dan tidak berpihak. Seperti Green Book, yang menyampaikan konflik ras dalam komedi bukan untuk ditertawakan, tapi direnungkan. Bagi penulis, film ini sangat pantas mendapat Best Pictures dalam Oscar 2019, kamu setuju??

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *