logo

JADI KONSUMEN NAIF ATAU AKTIF UNTUK PRODUK AUDIO VISUAL??

Siapa bilang bikin produk audio visual itu gampang? Pertanyaan ini agaknya harus disampaikan secara tegas kepada orang yang menganggap pekerjaan kreatif itu gampang dan mudah dilakukan. Bagi kebanyakan orang, pekerjaan membuat video mungkin tidak menjadi hal yang berlebihan karena konsumsi terhadap hal tersebut bukan bagian dari hidupnya sehari-hari. Tapi apa benar keseharian kita tidak berkaitan dengan produk video? Mari sama-sama kita analisa.

Sejak kemunculan produk kreatif bernama film dan segala jenis produk audio visual lainnya, maka muncul segmen baru dalam kehidupan sosial kita. Kita tidak akan melompat jauh ke masa lalu. Tapi ke era dimana arus informasi dituntut bisa sampai secara cepat dan memenuhi kebutuhan sosial kita akan hal itu.

Televisi menjadi platform yang pertama bisa mencapai seluruh segmen yang penulis maksud dalam hal ini. Sejak televisi muncul sebagai teknologi yang mengantar perubahan arus informasi dalam tatanan sosial dunia, secara otomatis masyarakat sudah terbagi menjadi dua segmen. Sama seperti produk buatan manusia lainnya. Ketika televisi mencapai titik paling tinggi sebagai entitas produk yang dibutuhkan umat manusia, maka muncullah ruang industri di dalamnya. Dan industri akan jelas akan menciptakan dua pola perilaku untuk menunjangnya. Produsen dan konsumen. Sesederhana itu dasar dari tulisan yang dibuat ini.

Produsen dalam hal ini mewakili para pelaku industri yang dimaksud dan menjadikannya mata rantai ekonomi untuk mendapatkan hak hidupnya. Peluang ditangkap dan diolah untuk kemudian diproses menjadi satu produk yang disajikan kepada konsumen. Dalam konteks ini, konsumen mewakili para penikmat yang terbagi dalam beberapa segmen pula.

Betapa besar berpengaruhnya sebuah tayangan dapat merubah sudut pandang masyarakat terhadap sesuatu, membuat industri televisi tumbuh dan bersaing sedemikian rupa. Beberapa kalangan produsen yang dimaksud penulis, dengan sigap mampu membuat sebuah sistem yang mungkin terstruktur dalam konsep penyajian sebuah tayangan. Standar menjadi keharusan untuk mencapai batas mana produk yang bagus dan mana yang tidak bagus.

Pola selera aktualisasi diri masyarakat disegmentasi menjadi materi analisa yang naif untuk menentukan “tayangan apa tepat untuk siapa”. Popularitas, trending dan rating menguasai bahasa standar tayangan yang terus menerus menjadi sajian setiap-saat setiap waktu di televisi. Semakin absurd dengan munculnya platform digital dimana masyarakat secara bebas memilih tayangan apa yang tepat untuk dirinya sendiri.

Dalam fragmen paling substansial misalnya, televisi sudah menghadirkan jutaan tayangan yang mewakili masing-masing segmen konsumen televisi. Film, sinetron, serial, iklan dan ragam tayangan lainnya menjadi satu pola produk yang sebenarnya memiliki esensi yang sama—yaitu mewakili aktualisasi diri dari masyarakat untuk terbebas dari tatanan sosial yang mengikat dari identitasnya.

Lalu, apa hubungannya bikin video tidak gampang dengan analisa soal produsen dan konsumen tayangan di atas? Pertama, jika ditelusuri secara mendasar, analisa yang dipaparkan di atas merupakan bentuk sudut pandang untuk menentukan selera segmentasi kita sebagai masyarakat secara general. Ada substansi yang jelas dan terang soal segmen konsumen yang terbagi untuk menentukan mana yang bagus dan mana yang tidak bagus. Maka muncul pola dari produsen (pelaku industri) untuk menyampaikan standar untuk disajikan.

Gampang dalam konteks ini bagi yang orang yang duduk dan melihat dari sudut pandang konsumen naif tentu berbeda dengan orang yang duduk dan melihat dari sudut pandang konsumen aktif. Jadi pada pola waktu tertentu ketika si konsumen ini membutuhkan sebuah tayangan untuk mengaktualisasi dirinya, baik mewakili personal maupun korporasinya, akan ada interaksi yang bias untuk dinafikan menjadi sebuah standar.

Dari artikel ini, penulis hanya menyampaikan sebuah fakta bahwa pembuatan sebuah video sebenarnya tidak bisa diartikan sepele dan gampang. Ada banyak komponen yang tidak bisa dibaca secara awam jika kita duduk sebagai konsumen naif. Jadi ketika kita menjadi konsumen yang suatu waktu membutuhkan produk tayangan, tanyakan kepada diri sendiri dulu, apakah kita menjadi konsumen naif atau aktif? (BR)

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *