logo

CHAPTER 1. “AYO, TEBAK YANG MANA?”

 

 

Jika saja pulang bukan sebuah keharusan, mungkin Fe lebih memilih tinggal dan menginap di rumah Ami, sahabatnya itu. Tapi nenek Fe sudah menelepon untuk yang ke empat kalinya ke rumah Ami, sejak satu jam yang lalu.

“Kamu yakin gak menginap aja disini? Biar ibuku yang bicara sama nenekmu,” kata Ami ketika Fe hampir selesai membereskan buku2 pelajaran mereka.

“Kau tahu sendiri nenekku kayak gimana, lagian aku tadi memang pamit pulang,” jawab Fe.

“Baiklah, setidaknya aku ikut mengantarmu pulang,” sahut Ami seraya mengenakan mantel yang sejak tadi dipegangnya. Fe mengangguk setuju.
Fe memang tinggal berdua saja dengan neneknya. Orangtua Fe bekerja di luar pulau dan Fe dititipkan ke neneknya dengan alasan tidak ada sekolah yang berkualitas di tempat orang tua Fe bekerja. Nenek Fe sebenarnya wanita yang baik dan menyenangkan. Hanya saja, nenek Fe adalah orang yang sangat menjunjung kedisiplinan. Seperti ketika tadi sore saat Fe pamitan ke rumah Ami untuk mengerjakan tugas. Nenek Fe sebenarnya menanyakan apakah Fe menginap di rumah Ami, tapi Fe menjawab tidak. Kalau saja Fe bilang menginap sejak awal, jelas diijinkan. Tapi Fe mengatakan akan pulang paling lama jam 9 malam. Jadi mau tidak mau, Fe harus berkomitmen untuk pulang. Apalagi ini sudah hampir dua jam dari waktu yang Fe dan neneknya sepakati.

 

***********

 

Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil Ami yang dikemudikan Ayah Ami, Fe terlihat diam saja. Merenungi nasib tugas makalah yang seharusnya selesai jika ia dan Ami tidak hanya menghabiskan waktu untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting.
“Maaf ya, harusnya kita lebih cepat mengerjakan tugas tapi malah kebanyakan ngobrol,” kata Ami tiba2.

Fe hanya tersenyum. Dalam hati meskipun agak menyesal, ada perasaan lega karena tugas mereka masih tiga hari lagi untuk dikumpulkan.
“Ya, mungkin sebaiknya kita kerjakan saat jam istirahat di sekolah,” sahut Fe sekenanya. Matanya masih tertuju pada pemandangan di luar kaca jendela mobil. Fe baru sadar, jalanan di kotanya begitu sepi saat hampir tengah malam.

 

*******

 

Nenek Fe menyambut hangat kedatangan Fe dan Ami. Meskipun sudah ditawari untuk mampir, Ami lebih memilih langsung pulang setelah ia menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan Fe kepada Nenek Fe.
Ami masuk ke dalam mobil dan melaju cepat meninggalkan Fe dan Nenek Fe yang masih melambaikan tangan di depan teras.
“Kamu sudah makan apa belum?” tanya nenek kepada Fe ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah.

“Sudah nek, Fe mau langsung tidur ya, besok mau berangkat pagi2 ke sekolah,” kata Fe sambil mencium pipi neneknya. Nenek Fe tersenyum.
“Ya sudah, minum dulu susumu, itu sudah nenek buatkan di dapur,”
“Makasih nek,” kata Fe sambil berlalu menuju dapur.
Di dapur, Fe langsung menyambar segelas susu putih yang ada di atas meja. Masih hangat, mungkin nenek membuatnya dengan air yang betul2 panas, pikir Fe. Sekilas Fe kira nenek mengikuti langkahnya dari belakang. Biasanya nenek yang mencuci gelas susu Fe setelah kosong. Tapi saat Fe menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa.
“Nek?” Fe memanggil neneknya dengan suara yang agak keras untuk memastikan pikirannya salah.

Hening….
Tak ada suara. “Nenek…?!!”

Hening. Fe hanya mendengar detak jarum jam yang ada di ujung dapur. Suasana menjadi mencekam secara tiba2. Agak takut, Fe menoleh ke sekitar, bermaksud mencari neneknya. Tapi sepi. Kalau ini halusinasi, kenapa tadi langkah kali nenek di belakangnya begitu terdengar jelas? Lagipula, untuk naik ke atas kamar, mereka pasti harus melewati dapur, tidak ada sekat lain di rumah Fe. Agak terburu2, Fe menghabiskan susunya dengan cepat. Fe setengah berlari ke arah tangga yang menuju ke kamarnya di lantai 2. Fe baru sadar, ia tak pernah semalam ini merasa sendirian di dalam rumahnya sendiri. Fe memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar atau paling malam jam 9 sudah selesai menonton tv bersama nenek di ruang tengah. Setelah itu, Fe lebih banyak ada di dalam kamarnya. Kamar nenek juga ada di atas, persis berhadapan dengan kamar Fe. Meskipun sangat dekat, baik Fe atau nenek sangat menghormati privasi masing2. Nenek tak pernah sembarangan masuk ke kamar Fe, begitu juga sebaliknya.

 

*****

 

“Fe, baru pulang?” Fe baru beberapa langkah menapaki anak tangga, ketika tiba2 nenek berdiri persis di ujung tangga sambil melihat ke arah Fe. Nenek terlihat seperti baru saja bangun tidur. Kalian tahu? Tentu saja Fe langsung mematung dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan neneknya.

Di belakangnya, Fe merasa mendengar suara langkah menapaki anak tangga. Fe tak berani menoleh, ia hanya melihat ke atas, ke arah nenek yang masih melihatnya.

Tuk, tak, tuk, tak…..

Suara langkah di belakang Fe berhenti persis satu anak tangga di bawah Fe. Bulu kuduk Fe mulai berdiri, ia merasa ada sensasi menyeramkan yang selalu ia dapatkan dari film-film horor yang ditontonnya.

“Ayo tebak, nenek yang mana?” suara parau dengan sedikit serak yang tak biasa terdengar berbisik di telinga kanan Fe. Fe tak bisa bergerak, ia terlalu takut untuk menoleh ke belakang. Sekilas, Fe merasa akan jatuh pingsan, ketika nenek yang dilihatnya di ujung tangga, berlari turun ke arahnya dengan sangat cepat. Entah kenapa, Fe tak pernah melihat rambut nenek sehitam ini sebelumnya. Nenek melotot dan menyeringai, sementara suara parau di belakang Fe terdengar cekikikan. (SELESAI)

 

 

In Portfolios