logo

“DI RADIO ADA KAMU”

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya kita jadi teman aja. Kalau memang sudah garisnya, kita
pasti dipertemukan, maafin Arine ya mas,”
Gio tersenyum. Ia pasrah mendengar jawaban Arine. Arine sekali lagi
mencium pipi Gio.
Arine
(berbisik saat usai mencium pipi Gio)
“Makasih ya mas,”
64
Gio menatap Arine. Ia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan
Arine. Baru beberapa langkah, Arine memanggilnya. Gio kembali
sumringah, berharap Arine merubah pikirannya.
Arine
“Mas Gio,”
Gio menoleh dengan senyum mengembang. Arine tersenyum dan menunjuk
ke arah tempat Gio memarkir motornya.
Arine
“Mas Gio mau kemana, motornya kan disitu,”
Gio salah tingkah. Ia menatap Arine dan hanya bisa tersenyum kikuk.
(fade out)
-CUT TOScene 31 (CLOSING)
EXT. JALAN RAYA
Malam
MAIN TITTLE
Lagu Sevendream “Akhiri Semua Ini” mengalun.
(fade in) Gio mengendarai motornya. Pulang dari rumah Arine. Gio
berusaha menahan tangis selama perjalanan. (fade out)
CREDIT TITTLE CLOSING
-THE END-

Oleh : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Gio, penyiar radio yang merasa selalu gagal menjalin hubungan cinta. Di kalangan teman-temannya, Gio dikenal sebagai “si cowok tiga bulan”. Hal ini karena setiap kali berhasil mendapatkan pacar, hubungan Gio dan pacarnya paling lama tak pernah lebih dari tiga bulan. Berbagai tipe cewek dipacari oleh Gio, tapi tetap saja hasilnya sama. Itulah yang membuat Gio merasa pesimis dengan semua yang berhubungan dengan cinta. Sampai suatu hari, dalam sebuah acara talkshow radio yang dipandunya, Gio bertemu dengan Arine, mahasiswi jurusan sastra yang aktif dalam organisasi kampus. Sosok Arine yang tegas, apa adanya
dan cenderung ceplas-ceplos, membuat Gio suka. Gio belum pernah menemui sosok seperti yang dilihatnya dari Arine.
Dengan usaha keras dan berbagai cara, Gio mendekati Arine. Termasuk memanfaatkan radio tempatnya bekerja menjadi sarana untuk mendekati Arine. Usaha Gio berhasil meluluhkan hati Arine, sehingga mereka sepakat untuk berpacaran dengan berbagai syarat yang ditentukan Arine. Berjalannya waktu, hubungan Gio dan Arine mengalami gejolak. AntaraGio mencoba mematahkan julukannya sebagai “si cowok tiga bulan” atau tetap bertahan dengan Arine tapi membuatnya sakit, menjadi titik balik bagi Gio untuk mengetahui kenapa selama ini ia selalu gagal menjalin cinta.

DRAFT 1
Opening Scene
BCU – Sebuah radio di atas meja. Tangan seseorang terlihat mencari
frekuensi radio. Sampai terdengar salah satu stasiun radio yang
menyiarkan acara musik malam.
-Suara Gio siaran pagi dengan latar musik “Cuma Ingin Kamu”- sevendream band
Cut to
Scene 1
MONTAGE – Suasana malam Kota Jember dengan latar sound siaran Radio.
EXT. Up – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EST – Alun2 Jember/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EST – Pasar Tanjung/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EST – Gajah Mada/Keramaian jalan raya
EXT. Up – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EST – Jembatan Jompo/Keramaian jalan raya
EXT. EST -Emperan pasar tanjung dan lapak yang ada di trotoar
INT. Didalam mobil, seseorang mendengar siaran radio.
INT. Orang-orang nongkrong di cafe mendengar radio.
INT. Di dalam kamar, seorang perempuan cantik mengerjakan tugas sambil mendengar radio.
Back to Scene Opening – Radio masih menyala, mengantarkan akhir siaran.
(Credit tittle dan Main tittle muncul di scene ini)
-CUT TO Scene 2
EXT/INT. STUDIO RADIO
Malam
Di dalam studio. Di atas meja, selain peralatan mixing, juga tergeletak beberapa lembar majalah dan koran. Gio, laki-laki 23
tahun, tampak duduk menghadap monitor operator dan mic siaran. Di kepalanya masih terpasang earphone yang menutupi kedua telinga. Gio terdengar menutup acara musik malam yang dipandunya. Gio “Ok, terima kasih semuanya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama yaawww, dan pastiinkalian tetap stay tune, karena habis ini,akan ada
3
DJ Abdi yang nemenin malam kalian dengan musik-musik Dangdut Pilihan Nusantara, see u genkss…..”
Gio melepas earphone dan meletakkannya diantara stand mic siarannya. Saat sibuk mengecilkan volume sound mixing, Ragil, laki-laki 30 tahun, sahabat Gio yang juga bekerja di radio yang sama, muncul dibalik pintu studio. Ragil memanggil Gio. Ragil
(setengah berbisik)“Ssstt..Dan,”Gio menoleh ke Ragil. Ragil (tangannya memberi isyarat ke luar) “Eh, Viena datang tu, nyariin..”
Ekspresi Gio berubah. Sebelum beranjak, Gio masih sempat membereskan barang-barangnya. Sampai di pintu, Ragil menghalangi Gio. Ragil “Kenapa Dan? Putus lagi?” Gio mengeryitkan dahinya, pundaknya diangkat. Ekspresinya datar.
Ragil ikut berduka, ekspresinya ikut memelas dan menggelenggelengkan kepalanya, seolah tahu perasaan Gio. Gio keluar studio, baru beberapa langkah ia dikagetkan dengan sosok laki-laki dengan pakaian norak ala Elvis Presley, lengkap dengan syal dan selendang, kacamata jadul dan wig kribo. Laki-laki itu adalah DJ Abdi, penyiar acara Dangdut yang sempat disinggung Gio.
DJ Abdi
(dengan gaya pede yang naudzubillah)
“Halo Bro Gio, gimana udah selesai siarannya?”
DJ Abdi memberi isyarat mengajak “tos” ala Hollywood. Gio
menanggapinya dengan senyum terpaksa. DJ Abdi heran karena biasanya
Gio tak seperti itu. Gio seolah tak peduli, ia berjalan meninggalkan
DJ Abdi yang terheran-heran.
(in frame) Tak berapa lama, DJ Abdi seolah lupa pada Gio. Kembali
dengan ke-pede-annya yang naudzubillah, DJ Abdi ganti menyapa Ragil
yang masih berdiri di pintu studio. Ragil yang sudah merasa agak
risih dengan sikap DJ Abdi mulai memasang muka masam.
DJ Abdi
“Eh Bro Ragil, apa kabs bro? Siap bergoyang malam ini?”
DJ Abdi melangkah masuk ke studio dengan latar suara Ragil yang
mencak-mencak dengan sikap DJ Abdi. (out frame)
-INTERCUT-
4
EXT. Di halaman parkir Kantor Radio. Seorang perempuan cantik dan
kalem, tampak berdiri di sebelah sebuah mobil yang terparkir. Viena,
20 tahun, perempuan cantik itu adalah kekasih Gio. Maksud
kedatangannya ke kantor Gio terlihat jelas di wajahnya. Viena
mengajak Gio putus !!!
Gio keluar dari gedung Kantor Radio. Berjalan mendekati Viena dengan
langkah pendek. Saat Gio dan Viena saling berhadapan, persis sebelum
Gio membuka mulutnya untuk membuka pembicaraan, Viena memotongnya.
Viena
“Nggak bisa, aku udah capek!”
Ekspresi Gio memelas.
Gio
(nada memelas)
“Aku belum selesai ngom..”
Viena
“Kamu mau ngomong soal balikan kan?!!”
Gio
(nada memelas)
“Apa salahku?”
Viena
“Kamu masih tanya apa salahmu?”
Gio berusaha menggapai tangan Viena. Dengan cepat Viena menepisnya.
Viena
“Denger ya Dan, aku kesini bukan mau ngajak berantem atau diskusi
masalah kita, karena aku anggep itu semua udah selesai,”
Gio menunduk, perasaannya campur aduk. Viena mendengus kesal, dengan
gerakan cepat ia membalik badannya, membuka pintu mobil yang
terparkir di sebelahnya. Viena mengeluarkan dus berisi barang-barang
pemberian Gio. Viena meletakkannya dibawah, persis di bawah kaki
Gio.
Viena
“Ni!!! Ini kan yang kamu mau?!!!”
Gio hanya melongo. Ia tidak menyangka Viena mengembalikan barangbarang kenangan pemberiannya. Tak berapa lama, Viena segera
beranjak, masuk ke dalam mobil, meninggalkan Gio yang masih melongo.
Mobil Viena menyala. Pelan-pelan melaju keluar dari halaman parkir.
Mobil melewati Gio yang hanya bisa melihat Viena berlalu
meninggalkannya. Persis ketika posisi mobil Viena dan Gio sejajar,
kaca mobil Viena terbuka. Dari dalam mobil, Viena melempar boneka
yang ukurannya cukup besar persis ke arah Gio. Gio menangkapnya.
Viena melihat Gio dengan wajah yang sangat kesal. Mobil melaju,
meninggalkan Gio yang memeluk boneka. Ekspresinya memelas, menahan
perasaan sedih.
5
INT. Dari dalam lobi kantor radio, sekelompok orang melihat ke arah
Gio. Ragil, Pak Roy (manager Radio),Fiko (sahabat Gio), Nikita
(sekVienaris manager)dan beberapa kru radio lainnya. Mereka terlihat
bisik-bisik membicarakan Gio.
Nikita
(berbisik ke Ragil)
“Putus lagi ya?”
Ragil cuma manggut-manggut. Matanya masih konsentrasi melihat ke
arah Gio.
Ragil
(setengah berbisik dengan nada datar)
“Kayaknya sih iya, masa mau lamaran?”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Aduh gawat, bisa kacau siarannya nanti,”
Beberapa kru lainnya ikut manggut-manggut. Ketika melihat ke arah
Gio yang terlihat memeluk boneka dengan perasaan sedih, mereka
saling menggelengkan kepala seolah ikut merasakan kesedihan Gio.
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada datar ikut nimbrung. Suara itu
adalah suara DJ Abdi.
DJ Abdi
“ck,..ck,…ck,…kurang denger lagu dangdut tu si Gio,”
Semua orang kembali manggut-manggut. Seolah setuju dengan apa yang
dikatakan DJ Abdi. Termasuk Pak Roy. Beberapa saat kemudian Pak Roy
menyadari sesuatu. DJ Abdi meninggalkan siarannya.
INT. Footage dalam studio terdengar suara penelepon yang bingung
karena tidak ditanggapi penyiarnya.
Back to – Pak Roy melotot ke arah DJ Abdi.
Pak Roy
(menoleh ke arah DJ Abdi dengan bingung)
“Lho di, bukannnya kamu lagi siaran ya!!?”
DJ Abdi menyiratkan sebuah ekspresi antara malu, kikuk dan merasa
akan kena “semprot” bos-nya. DJ Abdi cuma bisa senyum kikuk
menanggapi Pak Roy.
Pak Roy
“Ayo, bubar…bubar…,temen lagi sedih kok jadi tontonan, ayo
bubar..bubar…”
Mendengar Pak Roy, semua orang yang awalnya bergerombol melihat Gio,
langsung bubar dengan kikuk. Mereka sama-sama menahan kesal pada DJ
Abdi yang merusak ajang gosip yang mulai seru……
6
Setelah semua bubar, Pak Roy sekali lagi melihat ke arah Gio.
Menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan berjalan
kembali ke ruang kerjanya.
EXT. Di luar. Di halaman parkir. Gio masih mematung. Memeluk boneka,
memandanginya lalu sesekali melihat ke dus yang ada di bawah
kakinya. Gio melihat ke arah langit. Memendam perasaannya. Malam
semakin beranjak…….
-CUT TOScene 3
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
EXT. Rumah kost Gio adalah rumah kost yang cukup besar. Terlihat
lebih mirip rumah susun, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir
mobil dan pondok untuk bercengkrama para penghuni kost. Rumah induk
semang ada di sudut pintu masuk.
Pagi menjelang siang. Suasana rumah kost yang rata-rata dihuni oleh
karyawan dan mahasiswa itu terlihat ramai dengan kegiatan pagi pada
umumnya. Tampak penghuni kost yang sedang menjemur pakaian, ada yang
bersiap berangkat kuliah, ada juga beberapa yang bercengkrama di
pondok.
Kamar Gio adalah kamar nomor 12. Ada di deVienan paling bawah.
-INTERCUTINT. Di dalam kamar Gio suasana yang terlihat tak begitu rapi.
Tampak dus berisi barang-barang kenangannya bersama Viena. Beberapa
barang sudah dikeluarkan dan tergeletak begitu saja di lantai.
INT. Gio tampak tidur telungkup di tempat tidurnya yang hanya kasur
tebal tanpa ranjang. Ia memeluk boneka yang sejak semalam dibawanya.
Posisinya diam mematung seolah seperti orang meninggal.
INT. Pintu kamar Gio terdengar diketuk seseorang.
EXT. Di depan pintu, Ragil dan Fiko mengetuk pintu kamar Gio
INT. Gio masih tertidur tak bergerak seperti orang mati.
EXT. Ragil dan Fiko semakin keras mengetuk pintu kamar Gio karena
tidak mendapat tanggapan. Fiko mulai terlihat panik. Ekspresinya
menyiratkan kecemasan.
Fiko
(menoleh dengan cemas ke Ragil)
“Gil, ini bener dugaanku gil, Gio bunuh diri gil…”
Ragil
(masih mengetuk pintu kamar Gio, menoleh ke Fiko)
“Perasaan tiap Gio putus, teorimu sama aja soal bunuh diri,”
7
Fiko mulai tengak-tengok sekitar, termasuk mengintip ke dalam
jendela kamar. Ekspresinya masih cemas.
Fiko
(menatap ke Ragil dengan tatapan yakin)
“Gil, inget ya, ini sudah yang kesekian kalinya Gio pacaran gak
sampek tiga bulan, padahal pedekate-nya masya allah lama-nya,”
Ragil berhenti mengetuk pintu. Menoleh ke Fiko dengan ekspresi
kaget, seolah menyadari sesuatu. Fiko menatap dengan ekspresi cemas.
Ragil melanjutkan mengetuk pintu dengan semakin keras.
Ragil
(mengetuk pintu dengan keras)
“Dan,,,Gio….Dan,,,,,Buka Dan!!!!”
Ragil dan Fiko menggendor-gedor pintu kamar Gio seolah mereka adalah
polisi yang menggerebek markas penjahat.
INT. Gio membuka pintu kamar dengan lemas. Dari luar Ragil dan Fiko
yang melihat Gio, langsung memeluk Gio dengan ekspresi yang sangat
bahagia.
EXT. Ragil dan Fiko memeluk Gio. Gio bingung, berusaha melepas
pelukan kedua teman dekatnya itu.
Gio
“Ada apa sih?”
Ragil dan Fiko saling menoleh. Sesaat kemudian menoleh ke arah Gio,
lalu sekali lagi memeluk Gio. Gio yang masih bingung berusaha lepas
dari pelukan Ragil dan Fiko.
-INTERCUTEXT. Masih di Rumah Kost Gio, tapi mereka sudah berpindah area ke
pondok tempat para penghuni kost biasa bercengkrama. Gio, Ragil dan
Fiko di tiga titik yang berbeda namun masih saling berhadapan.
Terjadi perbincangan diantara ketiganya.
Gio
(melihat ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Kalian kenapa sih? Orang baru mau tidur digangguin gak jelas,”
Ragil melihat ke Fiko dengan tatapan menyalahkan. Fiko ekspresinya
hanya datar saja, seolah teorinya tentang Gio bunuh diri adalah
kemungkinan yang masih bisa terjadi.
Ragil
(menoleh ke Gio)
“Tadi Fiko bilang kamu bunuh diri, kita jadi khawatir Dan,”
Gio
(tersenyum kesal)
“Bunuh diri kenapa?”
8
Fiko
(memotong pembicaraan Gio)
“Kau habis diputus lagi kan?”
Gio
(ekspresinya datar)
“Iya. Tapi apa hubungannya sama bunuh diri?”
Fiko
(dengan nada semangat berapi-api)
“Kau lagi sayang-sayangnya kan sama pacarmu itu?”
Gio
“Iya”
Fiko
“Dan ini sudah kesekian kalinya kau diputus dengan cara yang
menyakitkan?”
Gio bingung. Ia menoleh ke Ragil. Ragil membalas dengan tatapan sok
bijak.
Ragil
“Kami semua khawatir Dan,”
Gio
“Hah? Kami semua?”
Fiko
“Kami lihat semalam Dan. Kami bisa rasakan kesedihan kau dilempar
boneka sama mantanmu itu,”
Mendengar perkataan Fiko, Gio seolah tak bisa menjawabnya. Ia hanya
menghela nafas dan melihat ke langit-langit. Ragil dan Fiko saling
berpandangan, seolah saling memberi isyarat untuk segera menghibur
Gio. Ragil mendekat dan duduk disamping Gio. Ragil menepuk pelan
pundak Gio. Gio menoleh ke Ragil. Ragil masih dengan tatapan sok
bijaksana-nya.
Ragil
“Dan, kamu harus nyadarin kalau ada yang salah dari caramu ngejalin
hubungan sama cewek selama ini,”
Gio tak menjawab.
Ragil
“Ada yang salah sama kamu Dan,”
Fiko mendekat ke arah Gio. Berdiri di hadapan Gio dan mencodongkan
mukanya ke muka Gio.
Fiko
(dengan nada pede, setengah berbisik)
“Aku rasa kau perlu di rukayah Dan,”
9
Gio melongo merasa tidak tahu apa yang dimaksud Fiko. Ia menoleh
Ragil yang baru menyadari jika Fiko salah menyebut kata.
Ragil
(ke arah Fiko)
“Rukiyah dodol !!!,”
Fiko
(tersenyum kikuk lalu menoleh ke Gio lagi)
“Iya maksudku itu,”
Ragil kesal, karena wejangannya kepada Gio terganggu oleh Fiko. Lalu
buru-buru ia melanjutkan lagi.
Ragil
“Coba kamu pikir Dan. Tiap kali kamu suka sama cewek dan udah
pacaran, hubunganmu gak pernah awet kan? Padahal waktu pedekate-mu
selalu lama,”
Gio berusaha mendengar dan mencerna apa yang disampaikan Ragil.
Ragil melanjutkan.
Ragil
“Ni aku bilangin ya. Teorinya, orang kalau pedekate udah lama
berarti mereka udah harus saling kenal dong. Kenapa pas pacaran
malah gak pernah lama?”
Gio menyimak dengan konsentrasi penuh.
Ragil
(menoleh ke Fiko sebentar)
“Mending kayak si Fiko, pedekate lama, akhirnya ditolak, berarti
jelas cewek-cewek yang dideketin Fiko emang gak mau sama Fiko,”
Fiko merasa kesal karena pengalamannya dikait-kaitkan oleh Ragil.
Belum sempat membela diri, Ragil melanjutkan pembicaraannya lagi.
Sementara Gio masih menyimak.
Ragil
“Beda kasus sama kamu Dan. Semua cewek yang kamu deketin akhirnya
nerima kamu jadi pacar kan? Berarti mereka secara sadar mau karena
ngerasa kenal sama kamu. Lha kok kenapa pas pacaran ga sampek tiga
bulan udah pada lari?”
Gio manggut-manggut. Fiko ikut manggut-manggut merasa dapat
pencerahan.
Ragil
“Logikanya. Pedekate itu masa penjajakan untuk saling mengenali kan.
Terus pacaran, setidaknya harus jalan setahun dulu baru tahu sifat
asli masing-masing yang selama pedekate disembunyiin,”
Fiko
“Atau jangan-jangan….”
10
Gio kaget Fiko tiba-tiba memotong pembicaraan. Ragil juga menoleh ke
Fiko dengan ekspresi bingung.
Fiko
“Jangan-jangan kau munafik Dan,”
Gio
“Munafik?”
Fiko
“Iya munafik. Jadi selama pedekate kau ga pernah berusaha jadi diri
kau sendiri. Pas pacaran cewekmu akhirnya tau siapa kau dan mereka
nyadar kau bohong sama mereka?”
Ragil
“Atau sebaliknya,”
Gio menoleh ke Ragil. Fiko ikut menoleh.
Ragil
“Bisa jadi pacar-pacarmu itu yang munafik, ga mau terima kamu apa
adanya?”
Gio menghela nafas panjang. Ia berdiri. Melihat Ragil dan Fiko
secara bergantian.
Gio
(nada datar dan sedih)
“Mungkin memang sudah saatnya aku berhenti mikirin cinta-cintaan,”
Gio beranjak meninggalkan Ragil dan Fiko. Sementara Gio melangkah,
Ragil berdiri berdampingan dengan Fiko. Mereka saling menatap
sebelum melihat ke arah Gio. Ragil memanggilnya.
Ragil
“Dan….,”
(twice) Gio berjalan pelan. Saat mendengar suara Ragil ia berhenti
tanpa menoleh ke Ragil dan Fiko yang ada di belakangnya.
Fiko
(dengan suara cemas)
“Kau jangan mikir yang aneh-aneh Dan,”
Fiko dan Ragil saling memandang dengan perasaan khawatir kepada Gio,
ekspresi mereka sama-sama cemas. Gio hanya menjawab tanpa menoleh ke
belakang.
Gio
“Aku mau mandi. kalian tunggu situ aja, aku nebeng ke kantor,”
Gio berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ragil dan Fiko yang
masih saling berpandangan dan melempar isyarat dengan menganggukanggukan kepala. Pagi sudah beranjak, mentari mulai terik. Siang
sudah menjadi,………
11
-CUT TOScene 4
EXT/INT. TOKO KASET
Sore
INT. Gio tampak berdiri melihat-lihat deVienan kaset pita yang
terpajang di etalase dan rak-rak di dalam sebuah toko kaset yang
masih beroperasi di Jember. Gio mengambil salah satu kotak kecil
dengan sampul cover “SHEILA ON 7”. Gio membolak-balik kaset yang
dipegangnya.
Sekilas, Gio melihat sosok perempuan cantik di depannya. Gio seolah
tak menyangka masih ada pembeli di toko kaset yang ia pikir tak
pernah dikunjungi pembeli. Perempuan yang dilihatnya dengan langkah
santai seolah tak peduli dengan sekitar, berkeliling melihat-lihat
kaset yang terpajang. Meskipun memakai kemeja flanel dan celana
jeans belel, perempuan yang dilihat Gio cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat kemudian, Gio kembali sibuk membaca cover kaset yang
dipegangnya. Perempuan itu berlalu dari pandangan Gio….
-INTERCUT-
(out/in frame) Gio masih sibuk membaca cover kaset yang dipegangnya,
ketika Fiko tiba-tiba datang menghampirinya. Fiko memegang pundak
Gio, seolah ingin berbicara dengan berbisik. Gio menoleh ke arah
Fiko.
Fiko
(setengah berbisik)
“Pak Roy ngapain sih nyuruh kita kesini?”
Gio
“Observasi Fik,”
Fiko
(bersungut-sungut)
“Ya gak musti harus segininya juga kan?”
Gio
“Ya Pak Roy kan emang nugasin kita untuk bahas soal perkembangan
bisnis produk musik dari era ke era, jadi perlu referensi langsung
dari pelakunya kan?”
Fiko
“Padahal googling aja udah cukup, Pak Roy sok perfect sih orangnya.
Buat gaya-gayaan aja ni, sok peduli sama toko kaset yang jelas-jelas
mau bangkrut,”
Gio
(tersenyum seolah paham dengan arah pembicaraan)
“Fik, lihat sekeliling, kalau emang toko ini mau bangkrut, kenapa
sekarang masih aja buka?”
Fiko hanya memasang muka masam. Gio tersenyum. Tiba-tiba mereka
dikagetkan oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang sekilas tadi
12
dilihat oleh Gio. Perempuan itu adalah Arine. Mahasiswi jurusan
sastra berumur 20 tahun. Perempuan yang akan menjadi pasangan Gio
nantinya.
Arine
(mencolek pundak Gio)
“Mas, sori,,kasetnya mau dibeli apa enggak?”
Gio
(kaget)
“Kaset?”
Arine
(ekspresi datar dan dingin)
“Iya, kaset yang lagi mas pegang itu?”
Gio melihat kaset yang dipegangnya, lalu menunjukkan ke Arine.
Gio
(sambil menunjukkan kaset)
“Ini..?”
Arine memberi isyarat dengan mengangkat kedua alisnya. Gio
menyerahkan kaset itu ke Arine. Arine mengambilnya.
Gio
(menyerahkan kaset)
“Nih, aku gak mau beli kok?”
Arine
(mengambil kaset dari tangan Gio dan tersenyum kecil)
“Ok, makasih ya, mulai tadi aku nyariin soalnya,”
Tanpa berpamitan, Arine meninggalkan Gio dan Fiko yang masih
terheran-heran. Arine lalu menyapa pemilik toko kaset yang rupanya
baru muncul dari belakang ruangan. Pemilik toko kaset adalah pria
tua keturunan tionghoa yang dandanannya sangat necis, mengingatkan
pada sosok penyanyi era 70an. Arine dan pemilik toko kaset terlihat
sangat akrab. Sementara Gio dan Fiko akhirnya saling memandang.
Gio
“Tu ada pembelinya, yakin sama teorimu soal toko kaset yang
bangkrut?”
Fiko terlihat kalah dan akhirnya mendorong Gio menuju ke arah
pemilik toko kaset. Gio tersenyum menang….
-INTERCUTINT. Arine berbicara akrab dengan pemilik toko kaset yang dipanggil
Om Han oleh Arine. Tak heran, karena Arine adalah pelanggan yang
memang hobi mengumpulkan kaset pita dari toko kaset ini. Sementara
Arine bersiap membayar kaset yang dibelinya, Gio dan Fiko ada di
belakangnya, menunggu giliran untuk bicara dengan Om Han.
Arine
13
(sambil mengambil uang dari dalam tas ranselnya)
“Om, kalau ada carikan albumnya JAMRUD yang NINGRAT, kabari Arine
ya?”
Om Han
“Ok, ok Arine, udah kamu belanja ini aja?”
Arine
“Iya Om, lagi bokek ni, hehehe…”
Om Han tertawa mendengar jawaban Arine. Ia hanya manggut-manggut.
Setelah memberikan bungkusan yang berisi kaset yang dibeli Arine, Om
Han menoleh ke arah Gio dan Fiko dengan tatapan curiga. Gio dan Fiko
tersenyum kikuk. Om Han menatap ke Arine, sambil memberi isyarat ke
arah Gio dan Fiko yang terlihat kikuk.
Om Han
“Temenmu mau beli apa Arine?”
Arine yang sibuk memasukkan kaset ke tas ranselnya, menatap Om Han
heran, lalu baru menyadari sesuatu. Arine melihat ke belakang, ke
arah Gio dan Fiko. Lalu menoleh lagi ke Om Han sambil tersenyum.
Arine
“Bukan temen Arine Om. Arine pamit dulu deh kalau gitu, sampai
ketemu ya Om,,,”
Arine menjabat tangan Om Han yang manggut-manggut mengiyakan.
Sementara itu tatapannya masih tajam ke Gio dan Fiko. Saat Arine
sudah berlalu. Om Han baru membuka percakapan.
Om Han
“Lu..lu pada mau beli apa?”
Gio tersenyum kikuk. Dengan ragu mengajak salaman Om Han. Begitu
juga Fiko. Om Han masih menatap dengan curiga.
Gio
“Kenalin Om, saya Gio dan ini Fiko, kita berdua dari J Radio, minta
waktu buat interview,”
Om Han
(berpikir sejenak, lalu seperti menyadari sesuatu)
“Ouu…jadi elu tadi yang telepon ya,”
Gio
“Iya betul Pak, eh Om…”
Om Han
(mendengus seolah bicara dengan dirinya sendiri)
“Radio di kota ini udah lama gak belanja kaset di toko ini,”
Gio tersenyum kikuk. Fiko terlihat takut. Om Han masih menatap
dengan pandangan yang tidak enak.
Om Han
14
“Ok, lu orang tungguh sini dulu deh, Oe ambil kursi di belakang,
biar enak wawancaranya,”
Gio
“Ok, siap Om,”
Om Han melangkah ke belakang ruangan. Gio tersenyum lega. Fiko
memegang pundak Gio, mencodongkan badannya dan berbisik pelan ke
Gio.
Fiko
“Tu, keliatan banget mau curhat soal toko kasetnya yang mau
bangkrut,”
Gio tersenyum kecut….
-INTERCUTEXT. Gio dan Fiko baru selesai melakukan wawancara. Mereka keluar
dari dalam toko kaset. Fiko terlihat memeriksa recorder hasil
wawancara, sementara Gio membuka nota catatan hasil wawancaranya.
Beberapa langkah dari pintu toko kaset, Gio melihat sesuatu
tergeletak di jalan. Gio seperti mengenal benda yang tak sengaja
dilihatnya itu. Ia lalu mengambilnya, sementara Fiko seolah tak
peduli dan terus berjalan. Rupanya benda itu adalah kaset yang tadi
dibeli Arine. Sepertinya Arine tak sengaja menjatuhkan kaset itu dan
tak menyadarinya.
Gio memanggil Fiko yang beberapa langkah ada di depannya.
Gio
“Fik,,,Fiko,”
Fiko menoleh ke belakang menyadari bahwa Gio masih tertinggal di
belakangnya. Fiko menghampiri Gio.
Fiko
“Apa Dan?”
Gio
(menunjukkan benda yang dipegangnya)
“Ini kaset punya cewek yang tadi ada di toko sama kita,”
Fiko meneliti. Lalu manggut-manggut.
Fiko
(dengan perasaan tak bersalah)
“Bawa aja Dan, rejekimu ini,”
Gio
“Ngaco kamu, tunggu bentar, aku kembalikan aja ke toko, biar om-nya
yang kasih nanti ke cewek itu,”
Gio kembali masuk ke dalam toko kaset, sementara Fiko masih sibuk
memeriksa recorder sambil manggut-manggut….
15
-CUT TOScene 5
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio, Gio terlihat siaran seperti biasanya. Di
depannya ada Fiko yang memang bekerja sebagai manager program acara
yang dibawakan Gio. Gio baru saja menyiarkan waktu jeda untuk
memutar sebuah lagu.
Gio
“Ok untuk kalian semua, Gio puterin lagu spesial buat nemenin malam
seru kalian, jangan kemana-mana, habis ini Gio balik lagi,”
Gio melepas earphone. Meletakkannya, menoleh ke arah Fiko. Fiko
mengacungkan jempolnya tanda puas dengan hasil siaran.
Fiko
“Sip Dan, untung tak kau bawa masalah hatimu ke pekerjaan, hehehe,”
Gio tersenyum kecut. Sementara terdengar sayup-sayup lagu yang
diputar oleh Gio. Fiko terlihat sibuk dengan laptopnya. Gio
mengambil HP-nya yang tergeletak di meja di depannya. Gio lalu
tenggelam dalam dunia kecil media sosial.
Rupanya Gio sibuk dengan melihat status-status Viena, mantannya. Di
layar HP Gio, terlihat akun media sosial Viena. Dengan status HAPPY
SINGLE. Gio tersenyum kecut melihatnya. Lalu Gio sibuk melihat-lihat
foto-foto dalam akun media sosial Viena.
-INTERCUTINT. Ragil masuk ke studio. Menoleh ke arah Gio, dan memanggilnya.
Ragil
“Ssst…Dan….,sssttt,”
Gio menoleh ke arah Ragil. Alisnya diangkat, isyarat bertanya maksud
Ragil.
Ragil
“Habis siaran, dipanggil Pak Roy ke ruangannya,”
Gio manggut-manggut dan mengangkat jempolnya ke atas, isyarat
setuju. Ragil keluar. Sementara itu Fiko mulai mengingatkan Gio
untuk segera kembali ON AIR.
Fiko
“Ssstt…Dan, ready to ON AIR,”
Gio kembali mengangkat jempolnya, kali ini ke arah Fiko. HP nya ia
letakkan kembali ke meja. Gio mengambil earphone dan langsung
memasangnya. Tangannya sibuk mengatur volume mixer sound. Saat
terdengar penghujung lagu, Gio mulai ON AIR.
16
-CUT TOScene 6
INT. STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Ruangan Pak Roy adalah ruang kerja khas pimpinan sebuah
perusahaan. Di meja kerjanya, terlihat tumpukan berkas dan beberapa
CD demo band. Pak Roy terlihat duduk di kursinya. Sementara Gio,
Ragil dan Fiko duduk berjejer berhadapan dengan Pak Roy.
Pak Roy membuka pembicaraan seraya tangannya mendorong tumpukan
berkas dan CD demo band yang ada di mejanya ke arah Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Ini ada berkas proposal sama demo band-band lokal yang mau ikut
festival yang mau kita adain tiga bulan lagi,”
Ragil mengambil salah satu proposal untuk dibaca. Sementara Fiko
langsung meneliti satu per satu CD demo. Gio hanya sekilas menengok
berkas-berkas dan tumpukan CD demo yang ditunjukkan Pak Roy.
Pak Roy
“Ini belum semua. Sampai bulan depan kita masih buka registrasinya,
jadi masih ada kemungkinan band-band lainnya bakal ngirim demo
mereka”
Ragil
(sambil manggut-manggut membaca proposal)
“Siap pak,”
Gio
“Untuk lokasi bagaimana pak?”
Pak Roy
(ekspresinya berpikir)
“Untuk tempat, masih kita rundingin sama vendor, yang jelas sponsor
udah ada yang masuk, kalau memang di halaman kantor ga mungkin, kita
bisa cari tempat yang representatif,”
Ragil, Gio dan Fiko manggut-manggut tanda setuju. Pak Roy memandang
ketiganya.
Pak Roy
“Saya cuma mau mastiin kalian bertiga siap, tiga bulan ga begitu
lama, jadi persiapannya bener-bener harus fix. Kalian bagi tugas
deh, untuk pimpinan produksinya tetep si Ragil ya, Gio sama Fiko
coba rancang konsepnya yang beda dari festival lainnya,”
Pak Roy secara khusus menatap Gio.
Pak Roy
“Dan, saya pingin kamu konsentrasi sama acara ini ya, jangan sampai
ada masalah,”
17
Gio
(merasa tahu apa maksud pembicaraan Pak Roy)
“Siap pak, Insyaallah saya amanah,”
Ragil dan Fiko manggut-manggut. Pak Roy juga ikut manggut-manggut.
Pak Roy
“Bagus deh kalau gitu, besok kita rapat-in lagi sama tim marketing
dan yang lain, berkas sama demonya kalian bawa deh, sambil
diseleksi, kalau perlu survey pas mereka latian ya?”
Ragil
“Ok, siap pak 86,”
Ragil, Gio dan Fiko mulai membereskan berkas proposal dan tumpukan
CD demo untuk mereka bawa. Baru saja beranjak, Pak Roy mulai
berbicara lagi.
Pak Roy
“Oh iya Dan, kalau gak salah tiga hari lagi ada talkshow news
ngundang organisasi kampus. Mbak Dewi kan cuti hamil tu, kamu
gantiin dia bawain acara ya?”
Gio
(kaget)
“Lho pak, bukan segmen saya pak, saya ga begitu paham kalau
materinya pembahasan yang serius,”
Pak Roy
“Ayolah, ga ada lagi yang mau. Yang paling fix dan siap kayaknya
cuma kamu Dan, kalau acara batal malu sama radio lainnya, dikira
kita ga bisa serius Dan,”
Gio menoleh ke Fiko dan Ragil secara bergantian. Ragil dan Fiko
tersenyum kecut.
Pak Roy
“Entar, Fiko bikin running-nya deh, dibantu sama Ragil juga, saya
juga ngubungi Mas Wawan, reporter senior buat bantuin bikin panduan
pertanyaan,”
Gio
“Kenapa bukan Pak Wawan aja pak yang siaran?”
Pak Roy
“Emoh, suaranya fals!! Udah kamu aja Dan,”
Gio
(dengan nada terpaksa)
“Ok pak, ntar saya coba deh,”
Pak Roy
(tersenyum menang)
18
“Nah gitu, mantap. Ya wes, jangan lupa didenger juga tu demo-demo
lagunya,”
Gio, Ragil dan Fiko berpamitan lalu melangkah keluar. Pak Roy sempat
menyuruh mereka untuk tidak lupa menutup pintu.
Pak Roy
“Tutup pintunya jangan lupa!”
-INTERCUTGio, Ragil dan Fiko baru saja keluar pintu dan berjalan beberapa
saat mereka berpapasan dengan Nikita, sekVienaris Pak Roy. Perempuan
muda manis yang diam-diam ditaksir Fiko.
Fiko
“Eh, Nikita…”
Nikita
“Hei, halo,….”
Nikita terlihat membawa berkas dan masuk ke ruangan Pak Roy. Fiko
hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Tatapan orang naksir
yang jelas pasti akan ditolak. Ragil langsung menepis tatapan Fiko,
menyadarkannya dari mimpi panjang. Fiko tersenyum kecut. Gio gelenggeleng kepala. Saat mereka berjalan dengan posisi sejajar. Gio
seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian lalu menghela nafas)
“Hmmm, mampus aku ketemu narasumber ngomongin politik,….”
Ragil dan Fiko hanya mengangkat alis seolah tak peduli. Ketiganya
berjalan dengan langkah pelan…….
-CUT TOScene 7
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi
INT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan kerja di kantor radio. Ragil
terlihat bersama beberapa kru sedang membahas sesuatu. Fiko di dalam
studio menemani penyiar radio perempuan. Pak Roy dan Nikita,
sekVienaris cantiknya tampak sibuk menemani beberapa orang tamu di
lobi.
EXT. Di halaman parkir, Gio baru saja memarkir motornya. Ia
melangkah masuk ke dalam kantor.
INT. Gio memasuki lobi, langsung disambut oleh Pak Roy. Gio mendekat
ke arah Pak Roy yang tengah menemui tamu. Tamu yang ditemui Pak Roy
ada tujuh orang, terdiri dari empat orang laki-laki dan tiga orang
perempuan. Dari tampilannya mereka terlihat seperti mahasiswa karena
mengenakan jas almamater sebuah kampus. Gio langsung tertuju pada
satu dari tamu tersebut. Arine, perempuan yang sempat bertemu
19
dengannya di toko kaset beberapa hari yang lalu. Nikita yang melihat
Gio juga menunjukkan gelagat seperti orang yang mengingat sesuatu.
Saat sudah saling berhadapan, Gio bersalaman dengan satu per satu
tamu yang datang. Termasuk dengan Arine. Arine membuka percakapan
dengan Gio.
Arine
“Mas, yang ketemu di toko kaset Om Han beberapa hari lalu ya?”
Gio
(tampak berusaha mengingat, padahal jelas-jelas ia mengingatnya)
“Oh, iya, kayaknya pernah ketemu ya kita?”
Pak Roy yang melihat adegan perkenalan Gio dan Arine berusaha
menyimak.
Pak Roy
“Lho kalian sudah saling kenal tho?”
Arine menoleh ke Pak Roy dan tersenyum tipis.
Arine
“Kami pernah ketemu di Toko Kaset Melodi pak,”
Gio
“Oh iya aku baru inget, kamu yang beli album Sheila ya?”
Arine
(tersenyum)
“Iya mas, eh ngomong-ngomong makasih ya udah nitipin kasetnya ke Om
Han,”
Gio tersenyum. Pak Roy bingung. Nikita dan teman-teman Arine
menyimak. Pak Roy berusaha mencairkan suasana dengan mengembalikan
topik pembicaraan.
Pak Roy
“Ok kalau gitu, yuk lanjut meeting-nya, sejam lagi kita On Air,”
Gio, Arine, Pak Roy, Nikita dan teman-teman Arine kembali duduk di
sofa. Pak Roy langsung membuka pembicaraan.
Pak Roy
(melihat ke Gio)
“Ok Dan, ini adik-adik dari organisasi kampus yang tempo hari aku
ceritain,”
Pak Roy langsung melihat ke Arine dan teman-temannya.
Pak Roy
“Nah ini Mas Gio yang akan bawain acara talkshow nanti,”
Gio tersenyum. Arine dan teman-temannya mengangguk-angguk tanda
setuju.
20
Pak Roy
(melihat ke Nikita, sekVienarisnya)
“Mel panggilin si Ragil gih, suruh bawah rundown acaranya,”
Nikita
“Ok pak,”
Nikita beranjak meninggalkan kumpulan. Pak Roy kembali membuka
percakapan.
Pak Roy
“Ok, saya harap nanti yang dibahas tidak terlalu melenceng dari tema
ya,”
Gio
“Yang kita bahas apa ya nanti?”
Pak Roy menoleh ke Gio. Ada perasaan kikuk karena Gio bertanya
sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gio akhirnya menjadi
kikuk karena memang ia setengah hati membawa acara yang bukan
segmen-nya. Arine dan teman-temannya bingung mendengar pertanyaan
Gio.
Pak Roy
(melihat ke Arine dan teman-temannya)
“Oh, tenang, Mas Gio baru dapat juknis-nya baru tadi subuh, hehehe,”
Gio merasa malu juga. Pak Roy langsung melihatnya.
Pak Roy
(tersenyum kecut)
“Wah kamu gak baca WA saya tadi berarti, tema talkshownya soal
Dilema PKL di Trotoar Jalan,”
Gio manggut-manggut. Untungnya suasana kembali normal ketika Nikita
datang bersama Ragil. Ragil langsung membagikan lembaran rundown
kepada masing-masing orang disana.
Pak Roy
“Nah ini dia rundownnya, yuk dibaca dulu habis itu dibahas sebelum
on air,”
Semua orang akhirnya sibuk membaca. Sekilas, Gio dan Arine saling
mencuri pandang. Ada senyum tipis di bibir Gio……
-CUT TOScene 8
EXT/INT. STUDIO RADIO
Pagi – selepas siaran
INT. Pintu ruangan studio terbuka. Orang-orang bergantian keluar
dalam studio (teman2 Arine). Terakhir Arine keluar bersama dengan
Gio.Teman-teman Arine berjalan lebih dulu, sementara Arine dan Gio
berjalan dengan posisi sejajar. Gio membuka pembicaraan.
21
Gio
(Menoleh ke Arine)
“Sori ya Arine, kalau siarannya tadi agak zonk sebentar, aku ga
biasa bawain acara yang serius soalnya,”
Arine
(manggut-manggut sambil tersenyum maklum)
“Santai mas, lagian juga mana ada yang denger tadi,”
Gio
(garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal)
“Ya bukan soal itu juga sih, cuma gak enak aja,”
Arine tersenyum penuh arti. Keduanya lalu berjalan keluar studio.
Arine kembali membuka pembicaraan.
Arine
“Eh mas, tapi bener ya, makasih banget udah nitipin kaset-ku ke Om
Han, asli aku gak nyadar kalau kasetnya jatuh,”
Gio
“Kamu kok bisa tahu kalau aku yang nitipin kasetnya,”
Arine
“Aku kan bisa menerawang, hahaha…,”
Gio bingung mendengar jawaban Arine. Arine langsung mengklarifikasi
pernyataannya.
Arine
“Enggak…enggak, Om Han yang bilang. Aku baru nyadar kasetku jatuh
pas sampai rumah. Om Han juga sms kalau ada yang ngembaliin kasetku.
Pas aku balik toko buat ngambil, Om Han cerita kalau mas yang
ngembaliin. Untung bukan orang lain yang nemu ya, hehehe,”
Gio
(menoleh ke Arine)
“Kamu koleksi kaset pita ya?”
Arine
“Enggak juga sih,”
Gio
“Terus buat apa beli kaset, bukannya sekarang lebih gampang download
lagu?”
Arine menghentikan langkahnya. Menoleh ke Gio.
Arine
“Di rumah, ayah punya radio sama tape yang masih bagus, sayang aja
kalau gak kepake,”
Gio diam mencoba mencerna jawaban Arine. Arine tersenyum.
Arine
“Kenapa masih di radio? Bukannya sudah ada youtube?”
22
Gio tersenyum maklum. Arine tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
EXT. Di halaman parkir, teman-teman Arine sudah bersiap menyalakan
motor mereka masing-masing. Arine dan Gio masih terlibat sebuah
pembicaraan.
Gio
“Arine, kalau boleh aku minta kontakmu ya?”
Arine
“Buat apa mas?”
Gio salah tingkah.
Gio
“Eh, ya ga buat apa-apa, cuma disimpen aja barangkali nanti ada
perlu,”
Arine
(tersenyum simpul)
“Ohh,….”
Arine lalu menyodorkan tangannya, seperti sebuah isyarat meminta
sesuatu dari Gio. Gio bingung.
Arine
“Mana HP-nya?”
Gio
“HP?”
Arine
“Iya, HP, katanya mau minta nomer,”
Gio
“Oh, sebentar,”
Gio segera merogoh kantong kemejanya, dengan cepat memberikan HP-nya
ke Arine. Arine tersenyum lucu dan menerimanya. Arine segera
mengetik nomernya ke HP Gio. Setelah selesai Arine kembali
menyerahkan HP Gio.
Arine
“Tu nomerku, tinggal di-save deh mas,”
Gio melihat layar HP nya sambil manggut-manggut. Salah satu teman
Arine lalu memanggil Arine dari kejauhan. Mengajak untuk segera
berangkat pulang. Arine menyahut sekenanya lalu berpamitan ke Gio.
Arine
“Ok deh mas, Arine pergi dulu ya, makasih ya”
Gio
“Oh, ok, Arine sama-sama,”
23
Arine menjabat tangan Gio. Lalu beranjak. Baru beberapa langkah, Gio
memanggilnya.
Gio
“Arine…”
Arine menghentikan langkahnya, menoleh ke Gio.
Gio
“Jangan panggil mas ya, aku kok ngerasa jadi “mas-mas” yang jualan
pulsa ya kalau dipanggil mas,”
Arine
(tersenyum lucu)
“Dipanggil apa dong, bapak, hehehehe,”
Gio tertawa kecil. Arine melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Gio melihat Arine dari kejauhan. Perasaannya dag dig dug…..
-CUT TOScene 9
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Malam
EXT. Tidak ada jadwal siaran. Gio, Ragil dan Fiko berada di pondok
tempat biasa nongkrong di rumah kost Gio. Mereka sibuk merancang
konsep festival musik sambil menyeleksi CD demo band-band lokal yang
mendaftar jadi peserta. Ketiganya sibuk dengan laptop mereka masingmasing. Mereka duduk secara terpisah tapi tetap saling berhadapan
membentuk posisi titik segitiga.
Fiko memasang salah satu CD demo di laptopnya. Tak berapa lama
terdengar sebuah lagu band lokal mengalun. Sementara Gio tampak
konsentrasi menggarap desain dan Ragil sibuk dengan grafik yang
terpampang di layar laptopnya. Saat lagu mulai mengalun, Fiko
membuka percakapan.
Fiko
(dengan nada semangat, mencoba menarik perhatian kedua temannya)
“Eh bro, coba kalian denger ni lagu,”
Gio dan Ragil terlihat menyimak.
Fiko
“Enak gak?
Gio dan Ragil mengubah posisi duduk untuk lebih menyimak lagu yang
diputar di laptop Fiko. Fiko tersenyum senang.
Fiko
“Dari AA(NB : AA hanya nama fiktif bisa diganti band lokal jember
asli), bandnya asyik, kayaknya serius kalau nge-lihat cover CD
demonya,”
24
Fiko mengambil kotak CD yang terpampang nama band AA dengan desain
cover yang menarik. Lalu Fiko menyerahkannya ke Ragil. Ragil melihat
sebentar sambil manggut-manggut, lalu menyerahkannya ke Gio. Gio
menelitinya.
Fiko
“Kayaknya dari semua CD yang dikirim, cuma band ini deh yang pake
cover segala,”
Gio masih meneliti cover CD demo band AA.
Gio
“Harusnya sih semuanya kayak gitu ya?”
Ragil
“Iya juga, daripada kayak gini?”
Ragil menunjukkan salah satu demo CD band yang hanya ditulis dengan
spidol merah dengan bentuk yang gak karuan.
Ragil
“Lihat dari covernya aja, orang udah males mau dengerin lagunya,”
Gio dan Fiko terkekeh mendengar Ragil ngomel.Saat selesai
menertawakan CD demo band yang ga karuan itu, Gio tiba-tiba
mengganti topik pembicaraan.
Gio
(menoleh ke Ragil)
“Eh gil, kamu inget si Arine gak?”
Ragil
“Arine?”
Fiko menyimak. Gio menoleh ke Fiko.
Gio
“Kamu inget gak?”
Fiko menjawab dengan ekspresi berusaha mengingat. Gio menghela nafas
pendek.
Gio
(menoleh ke Ragil dan Fiko bergantian)
“Arine, mahasiswa yang tempo hari ke studio buat talkshow-nya Mbak
Dewi!?”
Ragil
“Oh iya,,ya, tau aku,”
Fiko menyimak.
Gio
“Gimana menurut kalian?”
Ragil
25
“Apanya yang gimana?”
Fiko masih menyimak.
Gio
(nada semangat)
“Ya orangnya, cantik gak? asyik gak?”
Ragil menghela nafas pendek. Menoleh ke Fiko. Fiko mengangkat
alisnya tanda bingung. Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Dan, perasaan belum sebulan deh kamu patah hati,”
Gio diam sejenak. Seolah berpikir sesuatu.
Ragil
“Katanya gak mau mikir cinta-cinta’an dulu?”
Gio masih diam. Ekspresinya datar.
Gio
“Viena udah jalan sama cowok lain, Gil,….”
Ragil menyimak. Membuat gerakan seolah ia penasaran dengan apa yang
disampaikan Gio. Fiko mulai tadi masih menyimak.
Ragil
“Maksudnya?”
Gio menoleh ke Ragil. Gio menghela nafas pendek.
Gio
“Kenapa ya aku gak pernah berhasil mempertahankan hubunganku sama
perempuan yang aku sayang?”
Ragil melihat Gio dengan ekspresi memelas. Fiko tiba-tiba
menyeletuk.
Fiko
“Dan, kayaknya memang hubungan kau sama Viena itu udah jadi
pertanda,”
Gio menoleh ke Fiko, alisnya mengkerut.
Gio
“Pertanda?”
Fiko
“Iya pertanda bahwa predikatmu jadi “si cowok tiga bulan” itu memang
bener,”
Ragil menoleh ke Fiko. Gio merubah ekspresinya seolah menerima dan
membenarkan apa yang disampaikan Fiko.
Gio
26
“Masalahnya, aku gak pernah tahu apa yang jadi sebab mereka
ninggalin dan mutusin hubungan?”
Fiko dan Ragil saling menoleh. Gio juga melihat keduanya dengan
tatapan kosong.
Gio
“Aku kurang apa coba?”
Fiko
(memotong pembicaraan)
“Kurang tinggi kau Dan,”
Muka Gio masam mendengar Fiko. Ragil terkekeh.
Gio
“Sialan,,,”
Ragil dan Fiko terkekeh. Sementara Gio masih memasang muka masam.
Lagu demo band yang diputar di laptop Fiko masih mengalun, memberi
kesan karut marut perasaan Gio.
-CUT TOScene 10
EXT/INT. SDC
Sore
EXT. (SNAPSHOT) – Suasana kesibukan anak-anak produksi di SDC.
Beberapa kru tampak menata panggung. Terlihat juga beberapa orang
yang sibuk meeting di salah satu sudut area.
Sementara itu, di area outdoor dekat dengan pintu masuk, tampak
rombongan radio bersama tim SDC terlibat sebuah pembicaraan. Gio,
Ragil, Fiko, Pak Roy dan Nikita. Sementara itu tim SDC diwakili oleh
Yudo dan tim SDC lainnya.
Pak Roy
“Jadi seperti itu mas Yudo, sesuai dengan email yang kemarin kami
kirim soal konsep festival band radio kami,”
Yudo manggut-manggut sambil sibuk meneliti presentasi di layar
laptopnya. Yudo melihat Pak Roy.
Yudo
“Prinsipnya sih, kami setuju mas. Cuma harapannya sih, kerjasama
kayak gini gak sekedar hanya sebatas pada satu atau dua acara saja
nantinya,”
Pak Roy manggut-manggut. Semuanya menyimak.
Yudo
“Kami terbuka bagi siapa saja yang mau bikin acara disini asalkan
jelas. Yang jadi masalah itu, kebanyakan kan temen-temen di Jember
yang agak susah kalau diajak ngomong yang jelas, hehehe,”
27
Semua orang langsung terkekeh mendengar perkataan Yudo.
-INTERCUTEXT. Dari kejauhan, Aruna, Vebi dan Vega (personel SevenDream)
berjalan ke arah meja Yudo dan tim radio. Saat mendekat, semua orang
ikut berdiri, Aruna menyapa semua orang untuk saling berjabat
tangan. Aruna membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
Aruna
“Monggo dilanjutkan lagi,”
Yudo menoleh ke Aruna.
Yudo
“Sudah kok mas, barusan kita udah ngomong poin-poin pentingnya,”
Aruna tersenyum. Tiba-tiba Vebi menyeletuk.
Vebi
“Oh, ini temen-temen dari radio J ya? Boleh ni kapan-kapan kita
dapat slot interview sambil akustikan, hehehe,”
Vebi menoleh ke Vega memberi isyarat dengan mengangkat kedua
alisnya. Vega tersenyum lalu menoleh ke Pak Roy.
Vega
“Wah, boleh tu, kangen juga diinterview, hehehehe,”
Semua orang terkekeh. Termasuk Aruna yang tersenyum sambil gelenggeleng kepala.
Pak Roy
“Wah siap mas, masih aktif nge-band dong ya Sevendream?”
Aruna
“Wah, udah pada konsen sama kerjaan sama keluarga mas, gantian yang
muda-muda mas, kita nyoba ngasih kesempatan bagi temen-temen aja
untuk ngembangin musik dengan bikin tempat seperti ini,”
Semua orang menyimak. Aruna lalu berpamitan.
Aruna
“Ok kalau gitu, lanjutin lagi meetingnya,”
Aruna menoleh ke Yudo.
Aruna
“Apa gak dipindah ke dalem aja pertemuannya,”
Yudo manggut-manggut. Menoleh ke Pak Roy.
Yudo
“Gimana mas, apa kita pindah ke dalem aja?”
Pak Roy
28
“Udah gak usah mas, disini aja, lebih asyik, hehehe,”
Aruna, Vebi dan Vega lalu berpamitan dan berjalan ke dalam area.
Yudo dan semua orang kembali duduk di tempat masing-masing. Yudo
langsung membuka percakapan lagi.
Yudo
“Gimana kalau habis kita lihat venue-nya buat lokasi acara nanti?”
Pak Roy
“Boleh mas,”
Yudo langsung berdiri dan memberi isyarat ajakan kepada orang-orang
untuk mengikutinya.
Yudo
“Yuk,”
Yudo berdiri. Diikuti oleh Pak Roy dan tim radio lainnya. Sementara
itu Gio masih sibuk mematikan laptopnya. Pak Roy menoleh ke Gio.
Pak Roy
“Dan, ayo…”
Gio
(membereskan barang-barangnya di meja)
“Ok pak, duluan saja dulu, saya nyusul, saya mau beli kopi dulu
sebentar,”
Pak Roy
“Oh, ok deh,”
Gio membereskan barang-barang. Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan
ke dalam area. Saat Gio selesai membereskan barang, ia langsung
berdiri dan berjalan ke arah food truck yang berlawanan arah dengan
rombongan. (out frame)
Yudo dan rombongan Pak Roy berjalan santai. Semua orang terlihat
berjalan sambil sibuk berbicara satu sama lain. Tanpa saling sadar,
Arine berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan tersebut.
-CUT TOScene 11
EXT/INT. SDC – FOOD TRUCK
Sore
Gio menghampiri food truck di salah satu sudut SDC. Ia masih sibuk
merapikan tas ransel yang tersampir di pundaknya. Gio memesan kopi
kepada orang yang tampak sibuk meracik minuman di dalam food truck
tersebut.
Tak berapa lama, Arine menghampiri food truck yang sama dengan Gio
(in frame-backcam)
29
Arine seperti tak menyangka bertemu Gio. Sebuah kebetulan yang aneh
juga bagi Gio. Arine menepuk pundak Gio. Gio menoleh ke arah Arine.
Arine
(tersenyum)
“Mas Gio?”
Gio
“Lho eh…Arine?”
Gio dan Arine saling melempar senyum…..
-INTERCUTEXT. Gio dan Arine berjalan sejajar. Mereka sama-sama membawa gelas
kemasan kopi yang mereka pesan tadi di food truck. Gio menyeruput
kopinya, sambil menoleh ke Arine.
Gio
“Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini?”
Arine tersenyum. Ia sempat menyeruput kopinya sebelum menjawab
pertanyaan Gio.
Arine
“Lagi nemenin temen check sound, mas,”
Gio manggut-manggut. Arine melanjutkan.
Arine
“Mas Gio sendiri, ngapain kesini?”
Gio tersenyum.
Gio
“Oh,,aku lagi sama-sama anak-anak radio, lihat lokasi buat acara
radio sebulan lagi,”
Arine manggut-manggut. Gio tersenyum, lalu melanjutkan.
Gio
“Emang kamu kumpulnya sama anak band juga ya?”
Arine tersenyum geli.
Arine
“Kok kayaknya Mas Gio kaget banget? Hehehe?”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Ya enggak juga sih, waktu wawancara dulu kamu seperti mahasiswa
yang serius sih jadi agak ga percaya gitu, kamu bisa punya temen
anak band?”
30
Arine terkekeh. Ekspresinya berusaha menahan tawa yang siap meledak.
Arine
“Hahahaha, gitu ya? Eh, Mas Gio mau lihat band-nya temenku gak?”
Arine memberi isyarat ajakan untuk Gio. Gio berpikir sejenak.
Gio
“Boleh, aku bilang anak-anak dulu bentar, nanti aku susul kesana
deh,”
Arine mengangguk setuju. Gio tersenyum.
Arine
“Ok, yuk…”
Arine dan Gio kemudian berjalan bersamaan.
-INTERCUTINT. Band AA tampak asyik memainkan satu lagunya di atas panggung
yang ada di salah satu area dalam SDC. Arine tampak asyik berada di
sela-sela orang yang menonton band tersebut. Seolah terhanyut dalam
suasana lagu yang dibawa, Arine tampak sesekali meneriakkan katakata semangat kepada band bersama-sama dengan penonton lainnya.
Tanpa Arine sadari, Gio menghampirinya. Gio berdiri di sebelah Arine
sambil senyum-senyum sendiri. Saat menyadari orang disebelahnya
adalah Gio, Arine tersenyum. Arine masih asyik menghayati diri
seolah-olah menjadi fans dari band yang sedang main.
Gio
(dengan nada suara yang keras agar terdengar Arine)
“Ini band yang temenmu itu ya?”
Arine menoleh. Tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gio
“Kayaknya aku pernah denger deh lagu ini,”
Arine
(tanpa menoleh ke Gio)
“Oh iya, dimana?”
Gio berusaha mengingat sesuatu. Lalu menyadari bahwa lagu ini
didengarnya dari laptop Fiko beberapa hari yang lalu.
Gio
“Kalau gak salah, mereka ikut ngirim demo lagu ke radio deh, buat
ikut festival”
Arine
(masih asyik menonton band)
“Oh iya,”
31
Arine menoleh ke Gio dan tersenyum. Gio membalasnya. Ditengah
kebisingan suara musik yang menghentak, Gio masih berusaha mengajak
Arine bicara.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Suka nonton konser gak?”
Arine
“Tergantung,”
Gio
“Tergantung apa?”
Arine
“konsernya,”
Gio terlihat ragu. Baru kemudian melanjutkan.
Gio
“Arine,”
Arine
“Iya?”
Gio
“Lusa, nonton konser yuk?”
Arine
“Hah!?”
Arine tak mendengar ajakan Gio. Arine menoleh ke Gio. Gio tersenyum
kikuk.
Gio
(dengan nada keras)
“LUSA, NONTON KONSER YUK!!!”
Persis ketika Gio berteriak mengajak Arine nonton, musik berhenti.
Vokalis band rupanya menghentikan permainan karena ada yang tidak
pas dengan soundnya.
Semua orang langsung menatap Gio. Gio mati kutu, salah tingkah.
Arine mengeryitkan dahinya. Tak berapa lama Arine tersenyum.
Arine
“Nonton apa?”
32
Gio masih salah tingkah. Orang-orang yang notabenenya teman-teman
Arine saling tersenyum dan berbisik seolah membicarakan Gio. Gio
makin salah tingkah. Gio malu, sampai tak memperhatikan pertanyaan
Arine. Arine mengayunkan tangannya di depan muka Gio.
Arine
“Mas Gio, halo?”
Gio
“Eh, iya?”
Arine tersenyum maklum.
Arine
“Nonton konsernya siapa?”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Gio
(suasanya memelan)
“Eh, Armada,”
Arine seperti berpikir, lalu kemudian menjawab.
Arine
“Kapan?”
Gio
“Lusa, kebetulan aku dapet jatah tiket buat meet and great-nya
juga,”
Gio manggut-manggut semangat. Menunggu persetujuan Arine. Arine
tersenyum.
Arine
“Mas Gio jemput ya?”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Boleh..boleh, dimana?”
Arine
“Ntar Arine WA deh,”
Arine tersenyum. Gio membalas senyumannya. Band tiba-tiba mulai
memainkan lagu lagi. Arine mulai menikmati lagu yang mengalun.
Ekspresi Gio kegirangan…..
-CUT TO-
33
Scene 12
INT. RUMAH KOST – KAMAR GIO
Malam
(out/in frame) Gio masuk ke kamar. Setelah melepas sepatu sekenanya,
ia langsung melompat ke ranjang. Gio rebahan sejenak, lalu mengambil
gadget yang ia lempar lebih dulu.
Gio terlihat melakukan chatting dengan Arine via WA.
Ekspresi Gio menulis dan menerima pesan WA Arine.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine.
Gio
[Arine]
Arine
[Iya mas?]
Gio
[Lusa dijemput dimana?]
Arine
[jam berapa ya?]
Gio
[Sebentar…..]
[Jam 3 sore]
Arine
[Boleh jemput Arine dari kampus aja ya]
Gio
[Ok]
Arine
[Eh mas, tiketnya ada punya lebih gak?]
Gio
[Aku punya 3]
[Sebetulnya jatah Fiko sama Ragil]
[Tapi mereka gak mau…]
[Kenapa Arine?]
Arine
[Hmmm,,kalau Arine ajak temen boleh gak?]
Gio
[Oooo,]
Arine
[Boleh gak? ]
34
Gio
[ ok]
[ketemu besok ya]
Arine
[ok, makasih ya]
Gio agak berpikir tapi kemudian seolah tak peduli. Gadget ia
letakkan. Lalu Gio mulai tertidur.
-CUT TOScene 13
EXT/INT. SDC – NONTON KONSER
SORE
Sore di Sevendream, sebelum konser Armada dimulai. Gio dan Arine
tampak berjalan dan berbicara dengan akrab. Sampai di area
photobooth, HP Arine berdering, sebuah pesan masuk.
Arine berhenti memeriksa HP-nya. Sebuah pesan dari Sam. Tak berapa
lama kemudian, ia menoleh ke Gio.
Arine
(tersenyum)
“Sebentar ya mas,”
Gio tersenyum mengiyakan. Ia hanya bisa melihat dengan kesal ketika
Arine mulai menelepon seseorang yang ternyata adalah Sam.
Arine
(nada manja)
“Halo, Bang Sam dimana? Ini Arine udah nyampai di depan, Bang Sam
kesini”
INTERCUT
Sam (backcam) menerima telepon Arine.
Sam
“Halo, iya dek, ini aku udah di dalam, ok..ok, aku samperin deh,”
INTERCUT
Arine tersenyum ke Gio. Gio membalasnya.
Arine
“Mas, tiketnya yang semalem dibawa semua kan?”
Gio mengeluarkan 3 tiket dari kantong celananya. Menyodorkan ke
Arine.
Gio
(kikuk)
“Ini..,”
35
Arine
(tersenyum senang)
“Hehehe, gapapa ya satu buat temen Arine,”
Gio
(mengangguk kikuk)
“Iya, boleh…”
Persis ketika Arine dan Gio selesai bicara, Sam datang dan menyapa
Arine. Arine berteriak girang.
Arine
“Bang Sam….”
Sam tersenyum kalem. Arine menghampirinya dan menggandeng lengan
Sam. Sam hanya tersenyum, sementara Gio sudah mulai terlihat kesal
meskipun tersirat.
Arine
”Gitu dong, sesekali mau diajakin nonton konser, masa ngurusin demo
terus, hehehehe”
Sam hanya tersenyum. Sementara Gio masih memegang tiketnya. Arine
lalu mengenalkan Sam kepada Gio.
Arine
“Bang Sam, ini Mas Gio, Mas Gio ini Bang Sam, senior Arine di
kampus,”
Sam mengulurkan tangannya ke Gio. Gio menjabatnya dan tersenyum
simpul.
Sam
“Salam kenal mas,”
Gio
“Eh, iya mas, salam kenal juga,”
Arine lalu mencairkan suasana dan mengajak keduanya masuk.
Arine
“Ya udah, yuk masuk,..”
Arine menggandeng Sam dan berjalan duluan, seolah tak memperdulikan
Gio. Gio hanya bisa melongo, dan ketika sadar ia ditinggal Arine dan
Sam, ia langsung mengikuti mereka dengan langkah yang
lemah………..
INTERCUT
Di dalam ruangan meet and great Armada, Arine, Sam dan Gio duduk di
barisan belakang. Sam duduk ditengah-tengah Arine dan Sam, sehingga
membuat Arine hanya bisa bercengkrama dengan Sam saja.
36
Sepanjang acara, Gio hanya bisa menahan kesal melihat keakraban yang
ditunjukkan Arine dan Sam.
-CUT TOScene 14
EXT/INT. SEKRETARIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Sore
EXT. Tampak rumah kecil di pinggiran jalan poros sebuah perumahan.
Rumah itu terlihat bersih dan terawat. Di halaman dalam, beberapa
sepeda motor tampak terparkir.
INT. Arine tampak berada di sebuah ruangan di dalam rumah tersebut.
Arine sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Seorang perempuan
muda, seusia Arine, menghampiri Arine. Dia adalah April, teman satu
organisasi Arine. April membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia
letakkan di meja tempat Arine menaruh laptopnya. Arine menoleh ke
April dan tersenyum.
Arine
“Makasih ya,”
April hanya mengeryitkan dahinya. Sambi menyeruput kopi, ia melihat
ke layar laptop Arine sambil sedikit membungkuk, di sebelah Arine
duduk.
April
“Kamu sudah bikin surat ijin buat kepolisian?”
Arine mengambil cangkir kopi, menyeruputnya pelan. Arine
menyandarkan punggungnya ke kursi membuat gerakan rileks. Tangannya
menunjuk ke layar laptop.
Arine
“Itu sudah, tinggal tanda tangan aja,”
April menoleh ke Arine dan tersenyum senang.
April
“Sip,”
Arine manggut-manggut sambil memainkan ekspresinya sebagai isyarat
persetujuan.
April
“Eh Mil, kata anak-anak kamu lagi deket sama cowok ya? Siapa Mil?”
Arine
“Deket sama siapa?”
April tersenyum menggoda Arine.
April
“Itu kata anak-anak, kamu lagi sering dianter jemput sama penyiar
yang waktu itu bikin acara organisasi?”
37
Arine
“Oalah, enggak kok, lagian aku cuma dianter jemput sekali kok dari
sini,”
April
“Lho kata anak-anak sampai nonton segala, hayo?”
Arine terkekeh.
April
“Ih, malah ketawa, kualat tahu rasa lho,”
Arine
“Kualat gimana?”
April
“Ya kualat bisa-bisa suka kamu sama dia,”
Arine kembali terkekeh. April merasa kesal pertanyaan tak dijawab
tuntas.
Arine
“Emang kalau orang diajak nonton sekali terus dianggep pacaran gitu
ya?”
April
“Lho berarti kamu gak suka sama dia?”
Arine
“Apaan sih, suka gak suka mana ada urusan sama pergi ke bioskop
bareng-bareng?”
April
“Lho, ati-ati lho…entar dikira ngasih harapan palsu,”
Arine
“Kayak pejabat ya? Hahaha…..”
April
“Bisa aja kamu, hahahaha,”
Arine dan April kemudian tertawa bersama.
-CUT TOScene 15
INT. RUMAH ARINE
Malam
INT. Arine tampak duduk di sofa ruang tamunya. Ia membaca buku
sambil selonjoran. Ketika gadgetnya berbunyi, tanda sebuah pesan
masuk.
Arine mengambil gadgetnya dan memeriksa pesan yang masuk. Pesan dari
Gio.
38
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio.
Gio
[Arine…]
[Dengerin radio sekarang ya ]
Arine bangun dari selonjoran dan duduk. Lalu membalas chat Gio.
Arine
[Channelnya?]
Gio
[00,00 FM]
[Dengerin ya ]
Arine
[]
Arine bangun dan berjalan ke sebuah lemari besar yang berisi bukubuku di sebelah kanan kirinya. Sementara di tengah-tengah, sebuah
radio-tape tua ada disana. Arine menyalakan radio. Tangannya memutar
saluran, mencari channel yang disebutkan Gio dalam chat-nya.
Saluran ketemu. Suara Gio langsung menyapa. Arine mencoba menyimak
dengan masih berdiri di depan radio. Radio terdengar menyiarkan
acara Gio.
Suara siaran Gio
“Yap, itu tadi satu lagu dari younglex sengaja aku puter untuk
nemenin malam kalian yang swag, hahaha….
Ok, sebelum kita menginjak informasi lebih lanjut siapa band lokal
yang bakal jadi bintang tamu kita malem ini, ada satu hal yang mau
aku ungkapin ke seseroang. Mudah-mudahan dia denger ni. Habis ini
aku juga mau muterin satu tembang yang ngingetin aku sama ini orang,
mudah-mudahan dia kerasa juga, hahaha. Buat seseorang yang bernama
Arine bin bapaknya, hehehe…ini satu lagu buat kamu, dari Sheila On
7, sebuah kisah klasik untuk masa depan….”
Lagu berjudul Kisah Klasik Untuk Masa Depan dari Sheila On 7
mengalun di radio Arine. Arine masih berdiri dan menyimak. Tak lama
kemudian, ada senyum mengembang di bibirnya…..
-CUT TOScene 16
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Pagi Menjelang Siang
EXT. Dari kejauhan, Gio mengendarai motornya mendekat ke arah rumah
yang menjadi basecamp Arine dan kawan-kawan organisasinya. Persis di
depan pagar, Gio memarkir motornya. Kemudian ia berjalan masuk ke
dalam rumah tersebut. Gio membawa bungkusan berisi makanan yang akan
diberikan kepada Arine.
39
INT. Di depan pintu masuk, Gio baru saja mau mengetuk pintu, ketika
seorang laki-laki muda dengan muka yang menyebalkan keluar
menemuinya. Gio kaget, dan langsung tersenyum ramah. Laki-laki yang
menyebalkan hanya mengangkat alis.
Laki2 Menyebalkan
“Mau cari siapa ya?”
Gio
“Arine-nya ada mas?”
Laki2 Menyebalkan
“Arine?”
Gio
“Iya, Arine, yang biasa datang kesini?”
Laki2 Menyebalkan memasang muka masam dan seolah-olah berpikir. Gio
terlihat agak kesal.
Laki2 Menyebalkan
“Ada perlu apa ya?”
Gio
“Eh, anu, mau nganter ini,”
Gio menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Laki-laki menyebalkan
melihatnya sejenak lalu menoleh ke Gio.
Laki2 Menyebalkan
“Oh, mas ini ojek online ya?”
Gio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat tak
setuju.
Gio
“Bukan mas,”
Laki2 menyebalkan
“Lho terus apa dong? Kan mau nganter orderan tho kesini,”
Gio
“Bukan mas, saya temennya Arine,”
Laki2 menyebalkan
“Lho, ya enggak usah marah dong mas, saya kan cuma tanya,”
Gio belum sempat menjawab, ketika Arine muncul dari balik pintu
persis di belakang laki-laki menyebalkan. Gio tersenyum. Arine
menoleh sewot ke arah laki-laki menyebalkan.
Arine
“Apaan sih Tok,”
40
Laki2 menyebalkan menoleh ke Arine, masih dengan muka masam
menyebalkan.
Laki2 menyebalkan
“Ini lho tamu gak jelas,”
Gio bingung. Arine senyum kepadanya. Arine kembali menatap laki2
menyebalkan.
Arine
“Elu yang gak jelas, udah sana masuk, ini tamuku,”
Laki2 menyebalkan hanya mengangkat alis. Lalu ngeloyor pergi
meninggalkan Arine dan Gio yang masih syok ketemu orang yang
menurutnya paling menyebalkan se-pagi ini.
Arine tersenyum ramah. Gio meringis. Gio mengangkat bungkusan yang
dibawanya, menunjukkannya ke Arine. Ekspresinya seperti menyuruh
Arine menerima bungkusan itu.
-CUT TOScene 17
INT. RUMAH ARINE
Sore
INT. Arine baru saja pulang ke rumah. Ia masuk ke ruang tamu,
melempar tas sekenanya dan langsung duduk dengan posisi yang
senyaman biasanya. Arine mengambil gadget dari saku kemeja
flanelnya. Memeriksa pesan masuk. Ternyata ada pesan dari Gio.
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio dan Arine
Gio
[Arine]
[Enak gak tadi rotinya?]
[]
Arine lalu terlihat mengetik untuk membalas pesan Gio.
Arine
[Iya mas, maaf baru bls]
Tak menunggu waktu lama Gio langsung membalas.
Gio
[Iya gapapa]
[lagi dimana skrg?]
Arine
[baru nyampek rumah]
Gio
[Ooo]
[nanti malam dengerin siaran lagi ya]
[#ngarep]
41
Arine
[hahaha, ok]
[#kalogaksibuk]
Gio
[Duh, kejam…]
Arine
[hahaha…]
Arine tersenyum lalu meletakkan gadgetnya di meja. Arine melihat ke
radio yang ada di depannya. Arine berdiri, berjalan menuju tempat
radio diletakkan. Tanganya sibuk memutar channel radio tempat Gio
siaran. Arine kembali ke tempatnya duduk semula, bersandar ke sofa
membuat posisi santai sambil selonjoran. Pelan-pelan matanya
terpejam.
-CUT TOScene 18
INT. KANTOR STUDIO RADIO – LOBI
Sore
INT. Gio, Ragi, Fiko, Nikita dan DJ Abdi tampak berbincang santai di
lobi. Fiko dan DJ Abdi tampak berbicara serius, Ragil dan Nikita
menyimak. Sementara Gio sibuk dengan gadgetnya. Dia senyum-senyum
sendiri. Ragil memperhatikan lalu memulai perbincangan dengan Gio.
Ragil
“Oi, ngapain senyum-senyum lihat HP?”
Gio tersentak kaget dan tersenyum kikuk. Yang lainnya menyimak. Fiko
tiba-tiba nyeletuk.
Fiko
“Lihat video gituan kau ya?”
Nikita kaget, ekspresinya geli.
Nikita
“Ih, Gio, Ih…jam segini lihat gituan?”
Gio menoleh ke Nikita dan Fiko.
Gio
“Gituan apaan?”
Ragil terkekeh. DJ Abdi tiba-tiba mukanya berubah serius, ia menoleh
ke Gio.
DJ Abdi
“Hei Dan,”
Gio menoleh ke DJ Abdi. Mengangkat alisnya tanda bertanya.
42
DJ Abdi
“Kirim ke aku dong, blutut,”
Nikita menoleh ke DJ Abdi. Tangannya menepuk lengan DJ Abdi.
Nikita
“Iki pisan, ih, jorok ah,”
DJ Abdi menoleh ke Nikita, tersenyum menggoda. Nikita tambah geli.
Fiko langsung menoleh ke Nikita.
Fiko
“Kalau aku gak suka nonton gituan, bener kamu mel, jorok itu,”
DJ Abdi menepuk pelan kepala Fiko dan mendorongnya pelan.
DJ Abdi
“Alah,…kemarin kamu minta,”
Fiko menoleh ke DJ Abdi salah tingkah. Nikita memasang muka masam.
Nikita langsung beranjak meninggalkan mereka.
Nikita
“Ih, jorok semua anak-anak. Aku bilangin Pak Roy kalian, jam kerja
nonton gituan,”
Nikita berdiri dan berjalan manja masuk ruangan. Fiko ikut berdiri
berusaha mencegahnya.
Fiko
“Lho,, lho, Mel, Mel mau kemana?”
Nikita tak menggubrisnya. Ia berjalan cepat. Ragil, Gio dan Dj Abdi
hanya terkekeh menyaksikan adegan itu. Fiko bersungut-sungut
mengutuk DJ Abdi yang tersenyum penuh kemenangan.
Ragil kembali menoleh ke Gio.
Ragil
“Eh Dan,”
Gio yang masih sibuk dengan gadgetnya menoleh.
Gio
“Hmmm,”
Ragil
“Kayaknya kamu berhenti deh manfaatin radio buat deketin si Arine,”
Gio tersenyum kikuk.
Gio
“Kenapa emang?”
Ragil merubah ekspresinya ke serius.
43
Ragil
“Hampir tiap segmen kamu isi salam-salaman buat Arine bro,”
Gio tersenyum kikuk. Salah tingkah.
Ragil
“Pak Roy udah mulai tanya, Arine itu siapa?”
Gio
“Waduh,”
DJ Abdi menepuk pundak Gio.
DJ Abdi
“Kenapa acaraku gak pernah ada Arine-nya?”
Fiko terkekeh.
Fiko
“Ya mana mau Arine disalamin sama penyiar norak macam kau?”
DJ Abdi menoleh ke Fiko dengan muka masam. Gio tersenyum kikuk.
Ragil kembali memulai perbincangan.
Ragil
“Yang kebangetan kenapa jam tausiyah habis adzan subuh ada rekaman
salam-salam buat Arine,”
Gio meringis. Ragil geleng-geleng kepala. Sementara Fiko dan DJ Abdi
saling bermuka masam.
-CUT TOScene 19
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak sepi dari luar. Tak berapa lama, dari
kejauhan, Gio terlihat membonceng Arine dengan motornya. Mereka
berhenti persis di depan pintu pagar yang tertutup. Arine turun dan
melepas helmnya. Gio ikut turun dan mereka berdiri berhadapan.
Arine tersenyum. Gio membalasnya.
Arine
“Mas Gio makasih ya mau jemput Arine kuliah,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Iya Arine sama-sama,”
Arine akan beranjak lalu tak jadi. Ia menatap Gio dengan tajam. Gio
kikuk.
44
Arine
“Mas?”
Gio
“Iya Arine,”
Arine menghela nafas pelan.
Arine
“Sampai kapan Mas Gio muterin salam-salam buat Arine di radio?”
Gio kikuk. Salah tingkah.
Gio
“Eh, anu sam..”
Arine memotong pembicaraan Gio.
Arine
“Sampai Arine denger sendiri dari Mas Gio ya?”
Gio tertunduk malu. Arine tersenyum. Arine akan beranjak pergi,
ketika Gio dengan gerakan cepat mencegahnya. Tangan Gio memegang
lembut lengan Arine. Arine melihat sebentar lalu menatap Gio.
Gio
“Sampai kamu tahu perasaanku,”
Arine tersenyum. Ia membiarkan lengannya dipegang Gio.
Arine
“Berhenti ya salam-salamannya. Mulai sekarang kalau salam-salaman
ngomong langsung aja,”
Dengan gerakan cepat, Arine mencium pipi Gio. Gio mematung. Arine
tersenyum dan berjalan masuk ke rumah. Gio memegang pipi bekas
ciuman Arine.
Arine sudah masuk pagar bersiap menutupnya tapi ia menunggu Gio. Gio
menoleh ke Arine dengan sikap salah tingkah.
Gio
“Jadi…kita..”
Arine tersenyum.
Gio
“Jadi kita pacaran ni?”
Arine tersenyum. Mengangguk pelan.
Arine
“Udah pulang gih, keburu telat siarannya lho,”
45
Gio terharu. Matanya berkaca-kaca sangking senangnya. Dengan gerakan
yang cepat Gio bersiap melaju dengan motornya. Sebelum beranjak ia
masih menatap ke arah Arine. Arine tersenyum malu.
Gio
“Kamu denger siaranku nanti kan?”
Arine mengangguk pelan.
Arine
“Udah gak pake salam-salaman lagi ya?”
Gio
“Eh, Ok!!”
Gio terlihat girang. Dan kemudian beranjak meninggalkan Arine dengan
perasaan bahagia setengah mati…..
-CUT TOScene 20
EXT/INT. KANTOR STUDIO RADIO – RUANGAN PAK ROY
Malam
INT. Di dalam ruangan Pak Roy, Gio duduk menghadap Pak Roy. Tangan
Pak Roy menekan tombol enter di laptop yang ada di meja kerja.
Ekspresi Gio tenang. Terdengar suara Gio dalam bentuk rekaman.
(Suara Gio)
“Manis suaramu, kudengar di radio. Teruntuk Arine yang senyumnya
semanis gulali, sebuah lagu untukmu kukirimkan,”
KLIK. Rekaman suara Gio dimatikan.
Pak Roy menatap Gio tajam. Tangannya menunjuk ke laptop.
Pak Roy
(nada marah)
“Ini apa Dan?”
Gio kikuk, tapi tetap tenang.
Pak Roy
“Udah dua minggu lebih salam-salam gak jelas gini muter hampir di
tiap segmen acara,”
Gio
(meringis)
“Sori pak,”
Pak Roy
(geleng-geleng kepala)
“Dan beberapa kali mengganti siaran tausiyah subuh!??”
Gio
46
“Eh enggak kok pak, tausiyahnya masih ada,”
Pak Roy menahan kesal.
Pak Roy
“Ya tapi kan bukan segmennya Dan, masa iya subuh-subuh dengerin lagu
cinta sebelum tausiyah!!!”
Gio
“Hehehe, sori pak,”
Pak Roy
“Kalau gak kerjaanmu sama Fiko siapa lagi ini!??”
Gio
“Iya pak, ini salah saya, Fiko gak ikut-ikut, saya yang paksa dia
taruh slot recordernya,”
Pak Roy geleng-geleng kepala menahan kesal. Menghela nafas panjang.
Menoleh ke Gio penuh perhatian.
Pak Roy
“Untung gak ketahuan direktur. Kalau Bu Sinta tahu, habis aku,”
Gio
“Iya pak, sori,”
Pak Roy
(menggerutu)
“Harusnya udah aku SP kamu, kalau gak ngitung loyalitasmu sama
radio. aku minta ini dihentikan Dan,”
Gio
“Ok, siap pak, sudah berhenti kok,”
Gio langsung berdiri dengan cengar-cengir. Ia tahu Pak Roy hanya
menggertaknya saja.
Gio
“Pak udah ya,”
Pak Roy
“Lho, eh, mau kemana kamu?”
Gio melirik jam tangan. Menunjukkan ke Pak Roy.
Gio
“Siaran pak, udah telat 5 menit,”
Pak Roy
(kikuk)
“Oh, ya udah, aku minta salam-salam pribadi kayak gini dihentikan,
bilang Fiko suruh ke ruangan saya habis ini,”
Gio membuat gerakan hormat.
47
Gio
“Siap bos,”
Pak Roy menggerutu. Gio beranjak, baru beberapa langkah ia kembali
menoleh ke Pak Roy.
Gio
“Pak, bener ni ya gak pake SP,”
Pak Roy melotot. Gio terkekeh. Ia berjalan keluar.
EXT. Diluar ruangan, persis ketika Gio keluar, ia berpapasan dengan
Fiko yang terlihat ketakutan. Melihat Gio, Fiko langsung mengangkat
alisnya. Gio hanya menepuk pundak Fiko.
Gio
“Tenang aja, cuma SP 1,”
Fiko menggerutu.
Fiko
“Mampus aku, sialan kau Dan,”
Gio terkekeh.
Gio
“Tenang aje, udah masuk sana, kalau udah, buruan temenin aku di
studio,”
Gio ngeluyur pergi. Fiko menatapnya, lalu celingak celinguk sebelum
akhirnya mengetuk pintu ruangan Pak Roy. Fiko membukanya, badannya
menunduk tanda mengucap permisi.
Fiko
“Misi..pak,”
CKRAK. Pintu ruangan Pak Roy tertutup.
-CUT TOScene 21
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE PACARAN
Dalam adegan montage ini diperlihatkan sifat over protektif Gio
kepada Arine. Beberapa kali Arine terlihat tidak nyaman.
-CUT TOScene 22
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine tampak dari luar. Sepeda motor Gio terparkir di
halaman.
48
INT. Gio sedang duduk santai di sofa. Arine keluar membawa secangkir
cokelat panas untuk Gio. Arine meletakkan cangkir di atas meja. Gio
tersenyum.
Gio
“Makasih ya,”
Arine tersenyum. Arine duduk di sebelah Gio. Gio menyeruput cokelat
panas buatan Arine. Setelah meletakkan cangkir ke meja, Gio menatap
Arine.
Gio
“Aku tadi ke rumah,”
Arine
“Oh iya, kapan?”
Gio
“Pagi tadi, aku mau jemput kamu?”
Arine
“Lho bukannya tadi bilang gak bisa jemput?”
Gio
“Iya, aku cuma mau ngasih kejutan, tapi gak jadi…”
Arine menatap Gio dengan bingung. Gio menghela nafas.
Gio
“Kamu udah dijemput sama cowok lain,”
Arine diam sejenak. Ia tertawa pelan ketika menyadari sesuatu.
Arine
“Oalah, iya tadi dianter sama Mas Sam,”
Gio menatap Arine dengan tajam.
Gio
“Sam siapa?”
Arine bersikap santai.
Arine
“Apaan sih mas, serius amat,”
Gio
“Lho yang jadi pacarmu kan aku, kok malah sama Sam?”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput siapa?”
Gio kikuk.
Gio
49
“Lho kenapa gak maksa minta jemput?”
Arine terkekeh. Gio terlihat menahan kesal.
Gio
“Kok malah ketawa?”
Arine
“Ya kamu aneh, dijemput temen, dibantu temen, kok gak seneng malah
marah?”
Gio
“Dibantu temen gimana? Sam bukan temenku,”
Arine kaget. Ia berhenti tertawa lalu menatap Gio dengan tajam.
Arine
“Kenapa sih?”
Gio
“Kenapa apanya?”
Arine
“Kenapa semarah itu?”
Gio
“Lho ya wajar dong seseorang marah lihat pacarnya dibonceng orang,”
Arine
“Lho yang bilang gak bisa jemput kan kamu, terus ada temen nawarin
bareng ke kampus masa gak boleh aku terima?”
Gio
“Aku kan mau ngasih kejutan!?”
Arine
“Kejutan apa? Orang mau kuliah kok dikasih kejutan?”
Gio
“Kenapa kamu gak maksa minta dijemput? Kenapa gak kayak pacar-pacar
yang lain yang manja minta dijemput?”
Arine tersenyum sinis.
Arine
“Pacar yang mana?”
Gio
“Eh maksudnya gak kayak orang pacaran, dijawab gak bisa jemput malah
nurut, biasanya kan cewek marah kalau gak dijemput?”
Arine
“Bukannya harusnya seneng punya pacar yang ngertiin kesibukanmu?”
Gio
“Intinya aku gak suka kamu bareng sama cowok lain?”
50
Arine
“Lho kok gitu?”
Gio
“Lho harusnya gimana?”
Arine
“Kamu kok gak percaya sama pacar sendiri, orang udah bilang kalau
itu temen!?”
Gio
“Mana buktinya?”
Arine
“Kamu kok aneh sih, masa perlu klarifikasi sama orangnya?”
Gio
“Ya gapapa, ayo panggil orangnya, atau sini aku minta nomernya biar
aku yang hubungi,”
Arine
“Apaan sih mas?”
Gio
“Tu kan! Takut ya?”
Arine
“Takut apa? Aku cuma kecewa aja kamu gak percaya sama yang aku
bilang?”
Gio
“Lho kok jadi sewot?”
Arine berdiri. Matanya memerah menahan kesal.
Arine
“Mas, aku capek, seharian tadi di kampus sama ngurus sekret,
harusnya kita bisa seneng-seneng saling cerita, ketemu kamu kok
malah berantem buat hal yang gak penting,”
Gio
“Lho kok gak penting, ini penting lho buat hubungan kita!?”
Arine
“Mas Gio mending pulang aja, aku mau tidur aja kalau ketemu sekarang
malah ribut,”
Arine beranjak meninggalkan Gio sendirian. Gio bingung.
Gio
“Lho Mil, Arine…mau kemana lho,”
Gio menahan gemas. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
-CUT TO-
51
Scene 23
MONTAGE – CUT TO CUT – SUASANA GIO & ARINE SETELAH BERTENGKAR
INSERT VFX – Layar gadget isi chat Gio yang tak dibalas Arine.
INT. KAMAR KOST GIO – Gio tiduran di ranjang. Ekspresinya galau,
sesekali ia mengecek gadgetnya.
Gio
[Arine]
[Arine]
[Sayang]
[Kok gak bales?]
INT. STUDIO – Gio baru selesai siaran. Mengecek gadgetnya.
Ekspresinya galau karena pesannya belum juga dibalas Arine. Fiko dan
Ragil yang melihat Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tahu
sahabatnya sedang galau.
EXT. RUMAH ARINE – Gio ke rumah Arine. Ia ditemui bapaknya Arine
yang mengatakan Arine tidak ada di rumah. Setelah Gio pergi, Arine
dari balik jendela ruang tamu melihatnya.
INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE – Gio ke basecamp Arine.
Ditemui laki-laki menyebalkan yang juga mengatakan Arine tidak ada.
Gio berusaha mengintip untuk memastikan ucapan laki-laki
menyebalkan, yang justru berujung pada diusirnya Gio.
-CUT TOScene 24
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Sore
EXT. Di pondok tempat para penghuni kost biasa nongkrong, terlihat
Gio, Fiko dan Ragil. Gio duduk mematung dengan kegalauannya. Ia
masih sesekali mengecek pesan yang tak kunjung dibalas Arine. Fiko
dan Ragil tampak merasakan kesedihannya.
Ragil mendekat ke Gio. Gio menolehnya dengan muka memelas. Ragil
menepuk pundak Gio.
Ragil
“Sudahlah bro, yang sabar,”
Ekspresi Gio semakin memelas. Fiko ikut mendekat.
Fiko
“Dan, kayaknya belum lama kau patah hati sama Viena, sekarang sama
Arine,”
Gio menoleh ke Fiko. Ekspresinya semakin memelas.
Gio
“Salahku dimana?”
52
Ragil menatap Gio dengan ekspresi bijak.
Ragil
“Kamu terlalu cepat jatuh cinta sama orang,”
Gio tertunduk lemas. Ia hanya menghela nafas. Tiba-tiba Gio
mendongak ke arah Fiko, menatapnya tajam.
Gio
“Kau harus bantuin aku lagi Fik,”
Fiko tersentak sejenak. Ia menoleh ke Ragil, Ragil mengeryitkan
dahinya tanda tak tahu.
Gio
“Aku harus ketemu Arine, dia menghindar terus pas mau aku temuin,”
Fiko menyadari sesuatu.
Fiko
“Nggak ah, aku gak mau,”
Gio menatapnya dengan pandangan memelas.
Fiko
(menggerutu)
“Kau suruh aku bikin rekaman salam-salam lagi buat Arine kan?”
Gio mengangguk memohon. Fiko menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Fiko
“Nggak mau!!”
Gio
(memelas)
“Ayolah Fik, bantuin aku,”
Ragil bingung, ia menoleh ke Fiko.
Ragil
“Ada apa sih? bantuin apa sih?”
Fiko menoleh ke Ragil.
Fiko
“Kau ingat dulu waktu Gio deketin si Arine kan? Inget ada rekaman
salam-salaman yang selalu diputer hampir tiap hari selama sebulan?”
Ragil manggut-manggut. Gio menoleh ke Ragil meminta pembelaan.
Fiko
“Gara-gara itu aku kena SP sungguhan,”
Gio diam tak bisa menjawab. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding pondok
dan menghela nafas panjang.
53
-CUT TOScene 25
EXT/INT. SEKRETRAIAT ORGANISASI KAMPUS ARINE
Malam
EXT. Basecamp Arine dari luar. Terlihat beberapa sepera motor
terparkir di halaman.
INT. Di ruangan depan, Arine dan teman-temannya terlihat sedang
rapat membicarakan sesuatu. Ada sekitar 15 orang, termasuk Arine dan
April yang bersebelahan, duduk dibawah beralaskan karpet. Posisi
mereka membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka, yang terlihat
sebagai pemimpin rapat sedang mempresentasikan sesuatu. Arine dan
yang lainnya menyimak.
KRING….KRING – HP Arine bergetar dan berbunyi. Terlihat nama Mas
Gio di layar HP nya.
Arine melongok, lalu tangannya cepat mematikan HP. Aprial menoleh ke
Arine. Tangannya menyenggol pelan lengan Arine. April mengeryitkan
dahi. Arine menggeleng pelan.
KRING….KRING – HP Arine kembali bergetar. Gio masih menelepon.
Pemimpin rapat langsung menghentikan presentasinya dan menatap
Arine.
Pemimpin rapat
“Dek, kalau teleponnya penting diangkat aja,”
Orang-orang menatap Arine, termasuk April. Arine tersenyum kikuk,
merasa tidak enak. Buru-buru tangannya menekan tombol reject.
Arine
“Enggak kok bang,”
Pemimpin rapat tersenyum.
Pemimpin rapat
“Bener?”
Arine
“Iya bang, lanjut aja,”
Pemimpin rapat
“Ok kalau gitu, jadi begini, kita lanjut lagi ya,..saya sudah..bla
bla bla…..”
Rapat kembali dimulai. Arine menyimak kembali menyimak. Diam-diam,
ia mematikan HP nya. April tersenyum simpul melihatnya.
-INTERCUT-
54
Di Dapur Basecamp Arine. Terlihat Arine dan April berdua. April
sibuk membuat kopi. Sementara Arine membereskan gelas-gelas sisa
rapat yang sudah selesai. Ditengah April meracik kopi, ia membuka
percakapan dengan Arine.
April menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir. Mengisinya dengan
air mendidih dari dipenser, kemudian menoleh Arine.
April
“Kamu menghindar dari si Gio?”
Arine menatap April dengan tatapan yang kosong.
Arine
“Nggak tahu,”
April
“Lho kok nggak tahu?”
Arine
“Tiba-tiba aku ngerasa terlalu cepet aja, mutusin dia jadi pacar?”
April
“Pacar? Bukannya kamu ga suka sama konsep pacaran?”
Arine tertawa pelan. Merasa tersindir.
Arine
“Mungkin juga ya, caranya deketin aku itu yang bikin seneng,”
April
“Hahaha, ya kan harusnya seneng punya pacar yang lucu dan romantis?”
Arine
“Harusnya sih gitu. Harusnya dia bisa jadi orang bisa bikin seneng
dan semangat. Bukannya konsep pacaran yang bener seperti itu ya?”
April
“Lho mana aku tahu, pacaran aja belum, hahahaha,”
Keduanya lalu tertawa bersama dan pergi meninggalkan dapur (out
frame)
-CUT TOScene 26
INT. STUDIO RADIO
Malam
INT. Di dalam studio. Fiko terlihat mengacungkan jempolnya, tanda on
air. Sementara Gio membalasnya. Di sebelah Gio rupanya ada seorang
bintang tamu, seorang psikolog muda bernama Dokter Andika.
Lagu pembuka sudah di penghujung akhir.
55
KLIK – Suara Gio menyalakan tombol microphone. Gio mulai siaran
malamnya.
Gio
“Ok pendengar dimanapun kalian berada, balik lagi sama Gio disini,
di acara yang pastinya bakal nemenin malam kelabu kalian sampai
nanti jam 10 malem, hehehe. Tentunya dengan ditemenin tembangtembang yang bakal bikin kalian ngerasa masih punya kuping sampai
saat ini, hehehe.
Yup, Gio gak sendirian kayak biasanya malem ini, karena Gio lagi
ditemenin sama bintang tamu yang ciamik yang khusus akan ngebahas
masalah-masalah percintaan kalian semua, dan pastinya tetep kalian
bisa langsung curhat via telepon di nomer 0331 444789 atau langsung
whatsapp di nomer 081234556677”
Dokter Andika tampak kebingungan. Gio seolah tak menggubris
kebingungan dokter Andika.
Gio
“Dan yap langsung Gio kenalin kepada kalian semua, lagi sama Gio
sekarang adalah dokter Andika Sulaiman, yeaah…selamat malem dok,”
Dokter Andika menatap Gio dengan bingung.
Dokter Andika
“Malem,”
Dokter Andika mencoba mengklarfikasi sesuatu ke Gio dengan berbisik.
Dokter Andika
(berbisik)
“Mas, kok acaranya cinta-cintaan?”
Gio mengacungkan jempolnya mengisyaratkan sesuatu yang berarti baikbaik saja kepada dokter Andika. Dokter Andika menoleh ke Fiko yang
ekspresinya merasa bersalah dan hanya bisa tersenyum kikuk. Gio
tetap melanjutkan siaranya, menginterview dokter Andika.
Gio
“Dokter Andika ini salah satu psikolog di Jember yang juga praktek
konsultasi di salah satu rumah sakit yang ada di Jember, betul ya
dok?”
Dokter Andika
(bingung)’
“I..iya,”
Gio
“Ok sebelum kita masuk ke acara lebih lanjut, satu buah lagu dari
Sevendream akan menemani kalian, stay tune ya gaess,”
Lagu mengalun. Gio menatap dokter Andika dengan bijak. Dokter Andika
melepas earphonenya dan mendekat ke arah Gio. Ekspresinya kesal
merasa dibohongi.
Dokter Andika
56
“Mas gimana sih? kok acaranya beda sama tema yang ditawarkan
kemarin?”
Gio kelabakan.
Gio
“Sama kok dok, tenang aja,”
Dokter Andika
(merasa kesal)
“Sama gimana? Katanya mau bahas perkembangan psikologis dan
kesehatan mental anak usia dini,”
Gio menoleh ke Fiko. Fiko cuma meringis merasa tidak enak. Persis
sebelum Gio akan menjawab dokter Andika. Pak Roy masuk ke studio
dengan ekspresi bingung. Gio melihat Pak Roy, meringis. Sementara
Dokter Andika tampak menggerutu.
-INTERCUTEXT. Di pintu masuk, Pak Roy, Gio, Fiko dan Ragil mengantar dokter
Andika. Dokter Andika masih terlihat kesal. Pak Roy meminta maaf
secara dengan tulus.
Pak Roy
“Maafkan kami dok, ke depan kami akan bikin acara khusus buat
dokter,”
Dokter Andika
“Harusnya kan anda semua tahu, saya ini dokter spesialis anak, bukan
ngurusin soal cinta-cintaan, huh..,”
Pak Roy
“Iya dok, maafin kami sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,”
Gio dan Fiko tertunduk takut. Ragil geleng-geleng kepala.
Dokter Andika
“Ya sudah saya pulang saja, anda-anda ini sudah buang-buang waktu
saya,”
Dokter Andika langsung beranjak, Pak Roy melangkah pendek isyarat
untuk mengantar.
Pak Roy
“Terima kasih dok, hati-hati di jalan,”
Dokter Andika menoleh ke Pak Roy sebentar dan geleng-geleng kepala
tanda menahan kesal. Usai dokter Andika pergi, Pak Roy langsung
melihat Gio dan Fiko.
Pak Roy
“Kalian ke ruangan saya,”
Pak Roy beranjak masuk kantor. Gio membuka suara.
57
Gio
“Siarannya pak?”
Pak Roy menoleh. Mukanya geram. Gio menunduk.
Pak Roy
“Biarkan muter lagu-lagu,”
Pak Roy menoleh ke Ragil.
Pak Roy
“Gil, kamu handle dulu studio,”
Ragil
“Siap pak,”
Pak Roy berjalan masuk. Disusul Gio dan Fiko yang merasa bersalah
(out frame)
-CUT TOScene 27
EXT/INT. RUMAH KOST GIO
Pagi Menjelang Siang
INT. Di dalam kamar, Gio duduk sambil membaca selembar kertas.
Kertas itu adalah Surat Peringatan 2 dari radio tempatnya bekerja.
Gio menghela nafas panjang, melempar surat sekenanya.
EXT. Pintu rumah Gio diketuk Ragil dan Fiko.
INT. Gio mendengar suara pintu kamar diketuk, menoleh ke arah pintu.
EXT. Ragil dan Fiko masih mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian
Gio muncul membuka pintu. Ragil dan Fiko melempar senyum kecut ke
Gio. Gio membalasnya.
-INTERCUTEXT. Gio, Ragil dan Fiko pindah ke pondok tempat para penghuni kost
biasa nongkrong. Ragil membuka percakapan.
Ragil
“Dan,”
Fiko menyimak. Gio yang awalnya tertunduk menoleh ke Ragil.
Ragil
“Kamu harus tuntaskan permasalahanmu sebelum terlalu jauh melibatkan
profesimu,”
Gio mengangguk pelan.
Ragil
“Pak Roy itu pimpinan yang paling toleran yang pernah aku kenal, aku
gak pernah lihat dia semarah kayak tadi malem,”
58
Gio semakin menunduk. Fiko mendekat ke Gio.
Fiko
“Maafin aku juga Dan, aku pikir dokter Andika itu bisa jadi
narasumber buat curhat-curhatan. Aku gak tahu kalau dia dokter
anak,”
Ragil menoleh ke Fiko.
Ragil
“Kok bisa dokter Andika datang?”
Fiko
“Dia temen kakak aku, aku minta kakakku ngundang dia buat acara
radio, aku gak punya kenalan psikolog. Kata kakakku, dia sering
konsultasi soal anaknya yang SMP, aku pikir sama saja,”
Ragil menggelengkan kepalanya. Gio tersenyum menenangkan.
Gio
“Udah santai aja, yang salah aku sih, terlalu manfaatin fasilitas
kerja buat keperluan pribadi,”
Ragil dan Fiko menyimak Gio. Gio menghela nafas pendek dan
melanjutkan.
Gio
“Kayaknya memang aku harus ketemu Arine tanpa harus melibatkan
siapa-siapa,”
Ragil dan Fiko masih menyimak. Gio lalu menoleh ke Ragil.
Gio
“Gil, kalau kamu punya pacar terus pacarmu dibonceng sama cowok lain
kamu marah gak?”
Ragil bingung.
Ragil
“Tergantung sih Dan,”
Gio
(menoleh ke Fiko)
“Kalau kamu Fik?”
Fiko
“Eh, gak tahu juga, kalau yang bonceng bapaknya gimana?”
Gio
“Bukan itu maksudku, aku berantem sama Arine gara-gara dia aku
larang boncengan sama cowok lain, bukannya cemburu itu wajar ya?”
Ragil manggut-manggut.
Ragil
59
“Dan,”
Gio menoleh ke Ragil.
Ragil
“Aku baru nyadar sesuatu,”
Gio
“Apa?”
Ragil
“Aku tahu kenapa semua pacarmu selalu ninggalin kamu,”
Gio menyimak. Fiko celingak-celinguk berusaha paham maksud
pembicaraan Gio dan Ragil.
Ragil
“Kamu terlalu pencemburu Dan,”
Gio
“Lho bukannya wajar cemburu dalam pacaran?”
Ragil
“Kamu yakin cemburu wajar?”
Gio terdiam sejenak. Fiko masih berusaha mencerna pembicaraan. Tibatiba Gio berdiri.
Gio
“Ok, aku tahu harus ketemu siapa. Kalian tunggu sini, aku sayang
sama Arine, aku gak mau ngulang kesalahan yang mungkin aku gak
sadarin. Aku akan mulai dari awal,”
Ragil dan Fiko bingung. Gio langsung berlari menuju kamarnya.
Ragil
“Lho Dan, eh mau kemana kamu?”
Gio tak menggubris Ragil, ia mau mengganti bajunya dan pergi menemui
Viena, mantan pacarnya…..
-CUT TOScene 28
EXT. PARKIRAN KAMPUS VIENA
Siang
EXT. Di halaman parkir sebuah kampus. Viena, mantan pacar Gio yang
muncul di awal adegan, tampak berjalan bersama dua orang temannya.
Tak lama Viena pamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih
dulu. Viena baru saja masuk mobil, ketika Gio tiba-tiba
menghampirinya.
Gio
“Viena,”
60
Viena menoleh. Ekspresinya datar.
Viena
“Gio, mau apa kamu?”
Gio
“Sebentar…jangan keburu marah dulu, aku udah gak mau ngungkitngungkit masalah kita,”
Viena menyimak dengan ekspresi ketus.
Gio
“Plis, aku mau minta tolong sama kamu,”
Viena masih menyimak. Muka Gio memelas.
Gio
“Plis Viena, aku cuma mau minta pendapat, dengerin ceritaku, aku
ingin ngerubah diri,”
Viena terdiam, ekspresinya mulai melunak.
Gio
“Plis, mau ya?”
Viena
“Ok, sebentar, kita cari tempat yang enak aja buat ngobrol gak enak
disini,”
Gio tersenyum senang.
Gio
“Makasih ya Viena,”
-CUT TOScene 29
EXT/INT. CAFE
Siang
EXT. Tampak sebuah cafe dari luar.
INT. Gio dan Viena duduk berhadapan. Di meja sudah ada minuman yang
mereka pesan sebelumnya. Gio memulai percakapan.
Gio
“Aku nyadarin sesuatu sejak kamu mutusin aku Viena,”
Viena menyeruput minumannya. Ia hanya mengangkat alis merespon
pernyataan Gio.
Gio
“Menurutmu apa aku terlalu pencemburu jadi pacar?”
61
Viena meletakkan minumannya. Menatap Gio, dan menghela nafas pendek.
Viena
“Aku ada disini, pertama karena aku menghargai apa yang pernah kita
lewati bareng-bareng. Kedua, aku pikir ini satu-satunya kesempatan
aku bisa ngomong nyaman sama kamu,”
Gio
“Apa aku seburuk itu, sampai kamu gak nyaman waktu kita pacaran?”
Viena
(tersenyum simpul)
“Kamu lebih menyenangkan saat jadi teman, Dan,”
Gio menyimak. Viena menghela nafas pendek.
Viena
“Gak semua cewek nyaman hidupnya dikekang dan dibatasi. Apalagi sama
pacar. Kamu gak punya tanggung jawab apa-apa untuk menyuruh cewekmu
jadi seperti apa yang kamu minta,”
Gio menunduk. Viena mencodongkan badannya mendekat ke Gio.
Viena
“Kamu bukan cuma pencemburu, kamu posesif!”
Gio tersenyum kikuk. Viena membalasnya.
Viena
“Terus gimana sekarang sama Arine?”
Gio menatap Viena.
Gio
“Ya seperti aku ceritakan tadi, sampai sekarang gak bisa aku
temuin,”
Viena tersenyum, merasa iba pada Gio.
Viena
“Kalaupun ada yang perlu kamu rubah dari sifatmu, itu satu, Dan,”
Gio mengangkat alis.
Viena
“Mungkin karena kamu itu penyiar radio yang biasa ngomong sendirian
ya, jadi kamu gak pernah mau jadi pendengar,”
Gio tersenyum. Ia menyeruput minumannya. Setelah selesai ia kembali
menatap Viena.
Gio
“Makasih ya udah mau denger curhatanku,”
62
Viena tersenyum. Ia kembali menyeruput minumannya. Gio dan Viena
duduk berhadapan, seolah tenggelam dalam dunia mereka masingmasing….
-CUT TOScene 30
EXT/INT. RUMAH ARINE
Malam
EXT. Rumah Arine dari luar.
MCU – Pagar rumah Arine.
(In frame) Arine baru pulang, ia hendak membuka pagar. Ketika Gio
memanggilnya.
(twice) Gio memanggil Arine. Arine menoleh.
Gio
“Arine,”
Arine menatap Gio. Gio menghampiri Arine. Saat berhadapan, Gio
membuka percakapan.
Gio
“Aku minta maaf,”
Arine menatap Gio. Menghela nafas pendek. Gio semakin mendekat.
Gio
“Aku yang salah, aku minta maaf,”
Arine
“Mas, ini bukan soal siapa yang salah atau soal permintaan maaf,”
Gio tertunduk. Arine kembali menghela nafas.
Arine
“Kejadian kemarin buat aku nyadarin sesuatu mas,”
Gio menatap Arine.
Gio
“Aku tahu, aku pencemburu, aku gak akan mengulanginya lagi,”
Arine
“Mas, aku pikir kita juga terlalu cepet untuk jadi teman dekat,”
Gio
“Pacar,”
Arine tersenyum.
63
Arine
“Iya, terlalu cepat jadi pacar. Aku yang salah terlalu kebawa sama
usahamu deketin aku tanpa berusaha kenal kamu lebih jauh,”
Gio menyimak.
Arine
“Aku kira pacaran itu simple. Tapi ternyata gak semudah yang aku
bayangin. Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang harus saling
menahan perasaan hanya gara-gara batasan-batasan sebenernya gak
perlu,”
Gio
“Kasih aku kesempatan lagi Arine, aku janji bakal berubah,”
Arine
“Mas, aku sudah berusaha memahami apa yang terjadi diantara kita.
Aku pikir, dengan nerima kamu jadi pacar, kamu bisa jadi tempat yang
enak buat berbagi cerita. Tapi kenyataannya, tiap ketemu justru
ribut soal gak boleh ini lah, gak boleh itulah,”
Gio tertunduk. Arine melanjutkan.
Arine
“Kamu gak bertanggung jawab atas hidupku mas, aku gak mau dibatasin,
aku masih punya mimpi yang musti kuraih. Aku gak mau terbebani sama
hubungan kita,”
Gio
“Aku tahu, aku salah, maafin aku,”
Arine menghela nafas pendek. Ia meraih tangan Gio dan
menggenggamnya.
Arine
“Sekarang, aku harap Mas Gio bisa nerima hal ini, Mas Gio lebih
menyenangkan saat jadi teman, aku rindu sama cara Mas Gio bikin aku
ketawa. Yang sayangnya gak aku dapetin justru saat kita pacaran,”
Gio menggenggam tangan Arine. Pelan-pelan Arine melepas
genggamannya. Arine menyentuk pundak Gio.
Arine
“Ada baiknya k