logo

“MANTRA”

Ide Cerita : Y. Andriansyah

Naskah & Skenario : Bobby Rahadyan

Sinopsis
Kematian Hesti, seorang mahasiswi cantik yang juga foto model lokal, membuat gempar warga kota. Ia ditemukan mati bunuh diri di kamar kost mewahnya. Di tengah isu dan berita soal Hesti yang dianggap sebagai model dan perempuan panggilan yang bunuh diri karena hutang, Hanif, seorang wartawan yang idealis justru tidak percaya. Ia punya bukti bahwa Hesti dibunuh. Dibantu oleh seorang kapten polisi yang pendiam bernama Anggara dan Nindy sahabat Hesti yang juga percaya bahwa Hesti tak mungkin bunuh diri, Hanif terlibat dalam peristiwaperistiwa yang membawanya pada satu kenyataan bahwa ada kelompok misterius yang mengendalikan kota-nya sebagai bagian kecil dari rencana besar perebutan kekuasaan politik yang mengerikan.
2
SCENE 1
EXT/INT. KAMAR KOST HESTI
MALAM
EXT. Bulan menggantung di langit malam. Hanya ada satu dua kendaraan
melintas di jalanan kota yang mulai lengang. Penjaga pos ronda di
sekitar area tampak tak kuat menahan kantuk. Jam menunjukkan angka 2
pagi. Sebuah gedung yang notabenenya adalah area kost mewah seolah
angkuh dengan kesepiannya menantang malam kali ini.
INT. Di dalam sebuah kamar, TV yang dibiarkan menyala memutar acara
musik malam. Lagu lama mengalun mengantar suasana yang seolah
mencekam.
INTERCUT
MONTASE
Langkah kaki Hesti berjalan pelan.
Tangan Hesti menggenggam tali tampar berwarna cokelat.
Langkah kaki Hesti berhenti persis di samping kursi plastik.
Tali dilempar ke atas, dikaitkan pada tiang penyangga di langitlangit kamar.
Hesti naik ke atas kursi. Kepalanya ia masukkan ke dalam simpul yang
sudah ia buat sebelumnya. Suara tangisnya terisak pelan.
Kaki Hesti berdiri di atas kursi. Tak berapa lama kemudian, ia
menendang kursi menjauh.
BRAKKK…(KURSI TERJATUH)
Kaki Hesti menggantung dan meronta terhentak-hentak. Agak lama
kemudian, kakinya berhenti menghentak dan menggantung. Bayangan
Hesti gantung diri tampak seperti siluet di TV yang masih menyala,
memutar video klip tembang lawas. Lagunya mengalun pelan mengantar
kematian Hesti….
CUT TO
SCENE 2
EXT/INT. KANTOR REDAKSI “KOTA POST”
PAGI MENJELANG SIANG
INT. Jam dinding menunjuk angka 9 pagi lebih 15 menit. Suasana
kantor redaksi mulai ramai dengan orang-orang hilir mudik. Sementara
itu, di salah satu sudut ruangan, Hanif tampak tertidur di meja
kerjanya. Ia tersentak kaget dan baru menyadari kantornya mulai
ramai. Ia mengusap-usap wajahnya, lalu perhatiannya tertuju pada
layar komputer di depannya. Tampak di layar sebuah artikel yang
ditulis Hanif sejak tadi malam, dengan judul “KONGKALIKONG PROYEK
OMPONG”.
Hanif membuat gerakan menggeser-geserkan mouse komputer untuk
memeriksa ulang artikelnya.
Sebuah tangan menyentuh pundak Hanif. Hanif menoleh.
3
Seorang pria yang umurnya terlihat lebih tua dari Hanif tersenyum ke
arahnya. Hanif membalas dengan senyum simpul. Pria itu adalah Tama,
rekan sekantornya.
Tama
“Awakmu lembur maneh tha bro?”
Hanif mengangguk pelan. Sementara itu Tama mencodongkan tubuhnya ke
arah layar komputer Hanif dan mulai membaca artikel yang terpampang
disana.
Tama
(tersenyum sinis)
“Ora kapok awakmu nulis ngene’an iki?”
Hanif menatap Tama dan tertawa kecil.
Hanif
“Ora,”
Hanif lalu terlihat sibuk mengacak-acak meja kerjanya mencari
sesuatu. Baru setelah menemukan sebungkus rokok terselip diantara
berkas-berkas dan tumpukan koran, ia mengambilnya. Mengeluarkan
sebatang lalu mengambil korek gas dari saku bajunya, dan mulai
menyalakan rokoknya. Hanif menghembuskan kepulan asap rokoknya ke
atas, sambil kemudian sibuk dengan komputernya kembali. Tama hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya, dan beranjak meninggalkan Hanif.
Usai ditinggalkan Tama, Hanif kemudian meng-copy file artikelnya di
komputer pada sebuah flashdisk. Ia lalu beranjak mengambil tas
ranselnya yang disampirkan di kursi dan mulai melangkah meninggalkan
mejanya.
Hanif melangkah pelan, dan sesekali disapa oleh rekan-rekan
sekantornya yang tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Hanif menyambut sapaan dengan hangat dan ramah.
Beberapa orang yang menyapa diantaranya adalah, laki-laki setengah
baya, perempuan muda dan orang-orang yang berkerumun.
Kantor Hanif adalah kantor berita yang eksterior dan interiornya
khas kantor lama, dengan beberapa petunjuk ruangan khusus, seperti
ruang editing, ruang pemred, ruang rapat redaksi dll.
Hanif masuk ke ruangan editing. Setelah sebelumnya melewati ruang
tengah yang di temboknya tertera banner besar logo perusahaan
medianya, “KOTA POST”. Seperti tanpa permisi, Hanif masuk begitu
saja ke ruangan editing. Pintu tertutup.
CUT TO
SCENE 3
EXT/INT. RUMAH KOST HESTI
SORE
EXT. DETAIL BCU – JAM TANGAN MENUNJUK ANGKA 16.21.
4
EST. Di halaman rumah kost Hesti, disamping mobil polisi yang
terparkir, seorang pria mengenakan jaket kulit dengan style yang
rapi dan klimis tampak melihat jam tangannya.
Sementara itu, ia seolah tak peduli dengan hilir mudik anggota
kepolisian yang terlihat sibuk memasang garis polisi ataupun orangorang yang berkerumun di depan pagar. Pria itu adalah Anggara,
kepala unit kriminal kepolisian di kota J. Meskipun terlihat muda
diantara anggota-anggota polisi lainnya, tapi raut mukanya
menyiratkan ketegasan yang tidak main-main.
Seorang polisi menghampiri Anggara, menyerahkan kertas kecil berisi
catatan. Anggara menerimanya, membacanya sejenak lalu terlihat
seolah berpikir sesuatu. Anggara menoleh ke polisi yang menyerahkan
kertas tadi.
Anggara
“Apa ada orang-orang media yang sudah datang?”
Polisi
“Siap, belum banyak yang datang pak,”
Anggara
“Bagus, bilang anggota lainnya untuk tutup mulut, jangan
menyimpulkan apa-apa dulu, dimana tim forensik?”
Polisi
“Siap 86, ada di dalam pak,”
Anggara lalu berjalan masuk ke dalam gedung diikuti oleh polisi yang
menyerahkan kertas tadi. Suasana gedung kost tempat ditemukannya
seorang model lokal gantung diri itu terlihat ramai oleh hiruk pikuk
warga yang ingin melihat TKP.
CUT TO
SCENE 4
EXT/INT. MARKAS KEPOLISIAN – RUANG KOMISARIS POLISI
MALAM
INT. Sebuah jam digital berbentuk kotak menunjukkan angka 20.44
tampak ada diatas sebuah meja. Sementara tampak siluet orang duduk
pada kursi yang berhadapan dengan meja tersebut.
BUKKK – SEBUAH BERKAS TERLEMPAR DI ATAS MEJA. SEKILAS BERKAS
TERSEBUT BERISI FOTO-FOTO HASIL PENYELIDIKAN TADI SORE.
Seorang pria mengenakan kemeja polos putih dan berjas tampak bediri
dan baru saja melempar berkas tersebut. Ia adalah Efendi, Komisaris
Kepolisian Kota J. Ia berbicara dengan Anggara yang duduk di
hadapannya. Sementara di sebelah Anggara ada seorang pria setengah
baya, bernama Hamidi, Kepala Humas Kepolisian J.
Efendi
(Ekspresinya marah dan kesal)
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
5
Efendi menoleh ke Anggara dan Hamidi secara bergantian. Anggara
hanya diam saja sementara Hamidi tampak lebih tenang.
Efendi
(menoleh ke Hamidi)
“Apa yang kamu dapat dari olah TKP tadi?”
Hamidi
(mencodongkan badannya, mengambil berkas yang dilempar di meja tadi)
“Kesimpulan saya jelas pak, korban bunuh diri,”
Anggara menoleh ke Hamidi dengan kesal. Efendi meyiratkan
kekesalannya dengan membuat gerakan menggelengkan kepalanya. Menoleh
ke Anggara dan menatapnya tajam.
Anggara
“Pak, ijin bicara, ini bukan sekedar kasus bunuh diri,”
Hamidi
(menoleh ke Anggara dengan sinis)
“Tidak satu pun fakta dan bukti forensik menunjukkan adanya
pembunuhan disini,”
Anggara
(tangannya menujuk ke salah satu gambar yang ada di dalam berkas)
“Lalu bagaimana hal ini bisa dijelaskan?”
Sebuah gambar menunjukkan adanya pemberitaan bunuh diri pada salah
satu media online, dimana berita itu ditulis pukul 13.55 WIB,
lengkap dengan gambar Hesti tergantung.
Hamidi terdiam. Efendi semakin kalut, memegang kepalanya seolah
mengalami pusing yang mendadak.
Efendi
“Ada yang coba main-main sama kita,”
Anggara
“Pak, ijin olah TKP ulang,”
Efendi
“Siapa penulis beritanya, media apa itu?”
Anggara
“Itulah yang jadi soal pak, website itu tiba-tiba hilang persis
sebelum ada konferensi pers di lokasi,”
Efendi
“Darimana kau tahu pemberitaan itu?”
Anggara
“Dari Hanif pak, wartawan Kota Post. Dia juga yang menyerahkan foto
website ini,”
Efendi
“Sejauh mana rilis yang kita keluarkan?”
6
Anggara melempar pandangannya, merasa salah melangkah. Tak lama
kemudian ia menoleh ke Efendi.
Anggara
“Kita sudah nyatakan korban bunuh diri pak,”
Efendi menyiratkan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Hamidi masih
dengan tenang, menatap Anggara dan tersenyum kecil.
Efendi
“Apakah sudah muncul beritanya di media online?”
Anggara
“Sudah pak, bahkan sudah menyebar di facebook dan media sosial
lainnya,”
Hamidi
“Ada baiknya kita biarkan saja, publik juga tidak akan berpikir
sejauh itu,”
Efendi
“Lalu, bagaimana bisa menjelaskan soal foto dan berita yang keluar
di media sebelum polisi tiba di lokasi?”
Hamidi terdiam, seolah berpikir, tak lama kemudian ia menatap
Anggara.
Hamidi
(menoleh Anggara)
“Bukankah Hanif itu temanmu, lebih baik suruh dia tak usah tulis ini
di koran besok,”
Anggara merespon ucapan Hamidi dengan pandangan tidak terima. Hamidi
menyadari sesuatu lalu buru-buru mengklarifikasi.
Hamidi
“Maksudku, sampai penyelidikan ulang, untuk meredam isu,”
Efendi
(menoleh ke Hamidi)
“Kalau memang ini pembunuhan, kita akan dianggap tidak becus
bekerja, goblok…!!!”
Hamidi
“Maaf pak, tapi kalau kita biarkan dua berita muncul soal ini,
bukankah akan lebih runyam bagi kita?”
Hamidi menoleh ke Anggara.
Hamidi
“Tho, websitenya sudah hilang, publik juga tidak akan tahu,”
Efendi tampak berpikir. Sementara Anggara tidak bisa menjawab, ia
tahu ia juga salah langkah dalam kasus ini. Ada sesuatu yang masih
menjadi misteri.
7
Efendi
(menatap Anggara)
“Aku akan coba telepon redaksi Kota Post, mau tidak mau, wartawan
yang kau bilang tadi itu jangan sampai menulis hal yang berbeda dari
apa yang sudah kita rilis tadi,”
Anggara
“Saya rasa hal itu sulit pak,”
Efendi
“Aku coba minta kompromi demi kepentingan penyelidikan,”
Anggara
(menjawab sinis)
“Atau demi nama baik kita?”
Efendi
“Berhentilah jadi jagoan, ada waktunya kau perbaiki rem mobilmu
jangan sampai terlalu blong!”
Anggara tertunduk, tak bisa melawan. Hamidi tersenyum kecil penuh
arti. Sementara itu, Efendi mengangkat gagang telepon dan mulai
menekan tombol pada papan angka telepon yang terletak di mejanya.
Sebelum telepon direspon, ia memberi sebuah perintah kepada Anggara
dan Hamidi.
Efendi
(tangan kanannya memegang sisi bicara gagang telepon)
“Sudah cukup, kalian atasi itu wartawan-wartawan yang ada di depan,”
Anggara dan Hamidi lalu berdiri memberi tanda hormat dan melangkah
keluar, sementara Efendi hanya memberi isyarat sekenanya dan mulai
tampak membuka pembicaraan dengan seseorang dengan telepon.
INTERCUT
EXT/INT. MARKAS KEPOLISIAN – GUDANG KELOMPOK 13 (CUT TO CUT 2 SCENE)
MONTASE – slow motion – Dramaturgi
MARKAS KEPOLISIAN – Dari luar markas kepolisian pintu depan terbuka,
Hamidi dan Anggara keluar dikawal anggota kepolisian berseragam di
belakang mereka.
Kerumunan wartawan yang terlihat duduk langsung berdiri menghampiri
mereka.
CUT TO
GUDANG K-13 – Seorang pria berjas berjalan membawa palu di
tangannya, menghampiri sekelompok orang yang tampak memukuli pria
muda yang duduk di kursi dengan kedua tangannya diikat. Pria yang
disiksa itu adalah Romli, anggota K-13 (kelompok kriminal) yang
lalai melakukan tugasnya. Sementara pria berjas yang memegang palu
itu adalah Troy, orang kepercayaan pemimpin K-13.
8
Romli
“Arggghh…, ampun, tolong aku sudah gak kuat,”
BUKK,,,BUKKK,,,CRASH – PARA PEMUKUL TERUS MEMUKULI ROMLI DENGAN
BENGIS DAN TANPA AMPUN.
Troy mendekati Romli yang sudah lemas habis dipukuli. Wajahnya babak
belur. Ketika ia menyadari Troy berdiri didepannya, dengan susah
payah Romli membuka matanya dan mulai terisak.
Romli mendongak menatap Troy sambil terisak, berusaha mengucapkan
permohonan maaf. Troy hanya menatapnya dengan pandangan yang dingin
dan menakutkan. Troy tersenyum kecil sebelum meludahi Romli.
BACK TO
MARKAS KEPOLISIAN – Hamidi berjalan ke depan dan tersenyum kepada
awak media, sementara Anggara justru berbelok ke kanan sambil
menyalakan sebatang rokok yang diambilnya dari saku jaket, sekilas
Hamidi memperhatikan Anggara yang tidak mengikutinya.
Hamidi langsung dicecar pertanyaan oleh awak media dan berusaha
mengatasi kilatan lampu kamera yang diarahkan kepadanya.
Anggara menoleh sebentar lalu kemudian melanjutkan melangkah menjauh
dari kerumunan.
CUT TO
GUDANG K-13 – Romli duduk tak bergerak, matanya terbuka, wajahnya
hancur dengan darah menetes deras dari kepalanya.
Palu yang dipegang Troy terlihat berlumuran darah.
Troy melempar palu itu ke bawah, lalu menoleh ke satu per satu anak
buahnya disana. Memberi isyarat agar mereka segera melakukan
sesuatu.
Troy berjalan kembali, meninggalkan anak buahnya yang langsung
mengurus mayat Romli dengan sigap.
Troy berjalan dan dihadang seorang pria berjas lainnya yang tampak
memperhatikan adegan pembunuhan Romli sejak tadi. Dia adalah Josi,
pemimpin K-13. Troy berhenti di sebelah Josi tapi dengan posisi
saling berhadapan.
Josi
(Menoleh ke Troy)
“Jangan sampai kacau lagi, klien kita sangat penting sekarang,”
Troy masih dengan tatapan datar dan mengangguk pelan tanda setuju.
Josi tersenyum kecil, lalu melihat ke arah mayat Romli tergeletak,
tak lama kemudian, ia meludah ke lantai dan beranjak pergi
meninggalkan area, diikuti Troy di belakangnya.
CUT TO
SCENE 5
EXT/INT. KANTOR REDAKSI “KOTA POST” – RUANG PEMRED
PAGI MENJELANG SIANG
INT. Sebuah meja, dengan jam weker digital menunjuk pukul 10.10
pagi, ketika tiba-tiba Koran Kota Post edisi hari ini dilempar di
9
meja tersebut oleh Hanif. Hanif seperti menahan marah dan siap
menumpahkan kekesalannya pada Hadi (Pemred Kota Post).
Hanif
“Mana beritaku?”
Hadi
(dengan tenang menatap Hanif)
“Berita apa?”
Hanif
“Ayolah pak, mana berita tentang kematian model itu?”
Hadi
“Ada yang lebih penting untuk diangkat Nif,”
Tangan Hanif menunjuk headline koran.
Hanif
(sambil tertawa sinis)
“Maksudmu ini?”
Hadi mencoba menguasai diri, ia tahu headline yang ditunjuk memang
bukan berita yang layak dijadikan tajuk utama koran pagi ini. Tapi
ada permintaan dari direktur yang tak bisa ditolaknya. Hadi seolah
tahu ia akan berdebat dengan Hanif untuk soal ini.
Hadi menggaruk-garuk kepalanya meski tidak gatal, seperti membuat
gesture yang aneh untuk siap berdebat dengan wartawan andalannya
itu.
Hadi
“Duduklah dulu, tak usah marah-marah,”
Hanif mendengus kesal, tapi akhirnya duduk sesuai permintaan pemrednya itu. Hadi mencodongkan tubuhnya. Mengambil koran yang tadi
dilempar Hanif. Untuk sesaat Hadi seolah membaca sesuatu disana,
lalu mengalihkan pandangan ke Hanif.
Hadi
“Ini perintah pak direktur, menurutnya ada yang aneh dalam berita
itu?”
Hanif
(dengan semangat)
“Justru itu, aku kemarin coba kejar Anggara untuk menjelaskan
sesuatu. Aku dapat sumber yang jelas kalau model itu tidak mati
bunuh diri,”
Hadi
(mengeryitkan dahi, memotong pembicaraan)
“Jangan berasumsi,”
Hanif mencodongkan badannya. Tangannya menggenggam tepi meja.
10
Hanif
“Ayolah bos, mana pernah aku menulis berdasarkan asumsi,”
Hadi
“Sudahlah, polisi mau menyelidiki ini lebih lanjut, mereka mau kita
ikut meredam opini yang beredar di masyarakat untuk sementara,
sampai ada petunjuk yang jelas,”
Hanif menyandarkan tubuhnya ke senderan kursi. Ia membuang pandangan
ke atas. Hadi hanya bisa diam.
CUT TO
SCENE 6
EXT/INT. KANTOR REDAKSI KOTA POST – MEJA HANIF
SIANG
Hanif tampak duduk dan asyik berselancar di dunia maya dengan
komputer kerjanya. Ia memeriksa akun facebook dan instagram milik
Hesti yang penuh dengan cacian dan makian haters. Akun tersebut
terakhir diposting bulan lalu, persis satu bulan sebelum Hesti bunuh
diri tadi malam.
Hanif mencoba mencocokkan analisanya dan menulis sebuah metode
penyelidikan yang ia buat sendiri pada selembar kertas. Sesekali ia
tampak menemukan sesuatu yang baru, namun ekspresinya patah ketika
ia merasa analisanya tidak cocok.
Gadget Hanif berdering, sebuah telepon masuk. Di layar handphone
nama Anggara Polisi tertera. Hanif mengangkatnya lalu mulai
perbincangan.
Hanif
(Sambil terus melakukan pekerjaannya)
“Ya, halo..”
Suara Anggara
“Halo Nif, bisa kau ke kantor, sekarang?”
Hanif
“Masih ada yang kukerjakan pak,”
Suara Anggara
“Bisa jam berapa kau merapat?”
Hanif
“Hmmm..dua jam lagi, bisa?”
Suara Anggara
“Kalau bisa sebelum ASHAR ya?”
Hanif
“Ok,”
Suara Anggara
“Ok, trims….,”
11
KLIK. Handphone dimatikan, Hanif mulai melakukan kesibukannya lagi.
Mencatat dan memeriksa layar komputernya yang tertera akun media
sosial milik Hesti.
CUT TO
SCENE 7
EXT/INT. MARKAS KEPOLISIAN – RUANG KOMISARIS POLISI
SORE
Suasana kantor kepolisian ramai oleh kesibukan. Jauh dari kerumunan
dan kesibukan itu, di dalam ruangan yang berbentuk koridor, Hanif
terlihat duduk bersama Anggara. Sebuah TV menyala menayangkan berita
seorang publik figur yang mencalonkan diri sebagai Walikota. Hanif
dan Anggara hanya sepintas melirik tayangan TV.
Anggara
(membuka percakapan)
“Sumbermu jelas Nif?”
Hanif
(tertawa retorika)
“Ayolah pak, mana pernah aku main-main sama profesiku?”
Anggara
“Bukan itu maksudku. Kami juga merasa ada yang main-main di kasus
ini. Kami gak mau salah langkah, makanya,..”
Hanif
(memotong pembicaraan)
“Makanya beritaku tak muncul kan?”
Anggara merasa tidak enak. Ia tersenyum kikuk berusaha mencairkan
suasana.
Anggara
“Baiklah, nanti kau bisa sampaikan itu ke komisaris,”
INTERCUT
INT. RUANGAN EFENDI
Efendi sedang duduk di kursinya. Tak berapa kemudian, Anggara dan
Hanif masuk ke ruangannya. Efendi menganggukkan kepala ketika
Anggara ijin masuk dengan isyarat khas kepolisian. Kemudian Anggara
dan Hanif duduk berhadapan dengan Efendi.
Efendi
“Kamu yang namanya Hanif?”
Hanif
“Ya pak,”
12
Efendi
(mengambil berkas dari laci mejanya, dan melemparkannya ke atas
meja)
“Aku gak mau bertele-tele. Aku ingin kamu membantu kepolisian. Aku
ingin tahu sumbermu yang jelas, bagaimana bisa kamu dapat foto web
yang berisi berita kematian model itu?”
Hanif memandang Efendi dengan tatapan yang dingin. Sementara Anggara
seolah tak bisa berbuat banyak.
Efendi tersenyum sinis. Ia menggeser berkas yang tadi diambilnya
dari laci ke arah Hanif.
Efendi
“Ini, lihatlah,”
Hanif ragu-ragu. Lalu sejenak kemudian, ia mulai membuka berkas
tersebut dan membacanya. Di dalamnya terdapat foto-foto dan profil
orang-orang yang sangat familiar bagi Hanif.
Hanif meneliti berkas tersebut dan Efendi menjelaskannya.
Efendi
“Aku yakin kamu kenal orang-orang itu,”
Hanif menoleh ke Efendi sejenak. Lalu kemudian melanjutkan membaca
berkas.
INTERCUT
MONTAGE – Profil K-13
Montage ini menceritakan cuplikan pertemuan dan kegiatan kejahatan
yang dilakukan oleh K-13 dibawah kepemimpinan seorang bernama Josi.
Efendi
(suara Efendi menjadi latar montage profil K-13)
“Aku sudah lama mengikuti gerakan mereka. Banyak nama untuk menyebut
mereka. Tapi yang paling terkenal adalah Kelompok 13. Tidak ada yang
tahu persis siapa ketuanya. Tapi kelompok itu berisi orang-orang
yang cukup penting di kota ini. Pengusaha, preman, politikus,
aktivis, bahkan ada cerita bahwa ada dari golongan ahli agama yang
ikut terlibat dalam kelompok itu. Tidak jelas apa misi utamanya,
tapi aku yakin semuanya hanya soal uang dan kekuasaan. Mereka
semacam kelompok teroris yang punya klien-klien penting yang butuh
keamanan dan namanya dibersihkan,”
Hanif
“Apa hubungannya dengan kematian model itu?”
BACK TO – RUANGAN EFENDI
Efendi tersenyum sinis.
Efendi
“Biar kami yang mengurus ini. Aku cuma butuh bantuanmu untuk
mengenalkan kami pada sumbermu. Sudah sangat jelas ada kekacauan di
13
internal K-13, sampai website yang mereka buat bocor lebih dulu
sebelum kami datang kemarin,”
Hanif seolah berpikir. Otaknya mulai menganalisa sesuatu. Ia menoleh
ke Anggara. Anggara hanya menatap Hanif dengan tatapan tanpa arti.
Efendi lalu mencodongkan badannya, mendekat ke arah Hanif.
Efendi
“Ini diluar jangkauanmu. Pikirkan keselamatanmu. Kalau sampai
beritamu diangkat tadi pagi, jelas mereka akan mengincarmu,”
Hanif terdiam. Menatap Efendi dengan tatapannya yang dingin. Anggara
juga demikian, tak banyak bicara. Ketiganya saling bicara dengan
pikiran masing-masing.
CUT TO
SCENE 8
EXT/INT. KAMPUS HESTI
SORE
SNAPSHOT – Suasana kesibukan dan keramaian lingkungan kampus. Mulai
dari kesibukan mahasiswa di parkiran motor, dan beberapa sudut
kampus yang sibuk dengan mahasiswa yang sedang berdiskusi.
Dari kejauhan, Hanif terlihat duduk di salah satu sudut di taman
kampus tersebut. Tak berapa lama kemudian, Hanif beranjak pergi
menuju sekelompok mahasiswa dan mahasiswi yang baru saja terlihat
melintas tak jauh dari tempatnya duduk. Setengah berlari Hanif
mengejar mereka.
Ada empat orang. Dua laki-laki dan dua perempuan. Keempat orang yang
dikejar Hanif adalah orang-orang terdekat Hesti, model yang bunuh
diri itu. Mereka adalah Tomi, Anton, Hilda dan Nindy.
Hanif mendekat ke arah mereka.
Hanif
“Permisi, mas, mbak,”
Keempat orang itu menoleh bersamaan, melihat Hanif dengan
kebingungan.
Hanif
“Sori, namaku Hanif. Aku dari Kota Post, boleh minta waktunya
sebentar?”
Keempat orang itu saling melihat bergantian. Ekspresi mereka sedikit
berubah. Hanif tersenyum maklum.
Hanif
“Aku sedang menulis soal Hesti, kalian teman-temannya bukan?”
Keeempat orang itu masih saling melihat bergantian, sementara yang
perempuan ekspresinya terlihat ketakutan. Tomi, laki-laki yang
tampak seperti yang di-tua-kan akhirnya membuka suara mewakili
teman-temannya.
14
Tomi
“Maaf mas, mas-nya salah alamat kalau bertanya pada kami, kami tidak
begitu kenal Hesti,”
Hanif
(tersenyum maklum dan melihatkan akun medsos Hesti di layar
gadgetnya)
“Aku rasa, kalian berempat adalah orang yang paling dekat jika
melihat koleksi foto Hesti disini,”
Tomi salah tingkah. Sementara Anton dan Hilda ekspresinya terlihat
terganggu. Hanya Nindy yang sejak kedatangan Hanif terlihat takut
dan seolah tidak ingin diajak bicara.
Anton
“Ya itu kami, tapi itu dulu! Kami sudah lama tak ketemu dia,”
Tomi
“Sori mas, sebaiknya cari orang lain saja, kami tak bisa membantu,”
Tomi memberi isyarat kepada teman-temannya untuk pergi. Hanif
menahannya, memegang pundak Tomi yang langsung ditepis oleh Tomi.
Hanif
“Ayolah bung, bantu saya. Sahabatmu itu bukan bunuh diri,”
Tomi
(terlihat marah)
“Jangan maksa mas! Aku sudah bilang kami tidak tahu apa-apa!”
Anton dan Hilda berusaha menenangkan Tomi. Hanif masih diam mencoba
bertahan dengan argumennya. Sekilas ia melihat Nindy yang seolah
ingin menangis. Ia menatap ke Nindy.
Hanif
“Ayolah, aku hanya ingin dapat gambaran tentang Hesti, setidaknya
untuk melihat kebenaran atas kematiannya?”
Hanif memegang tangan Nindy. Namun dengan gerakan cepat, Tomi
menepisnya, dan kemudian mendorong tubuh Hanif. Hanif sedikit
terhentak ke belakang.
Tomi
“Mas, aku mohon jangan cari perkara disini. Kami mau kuliah, kalau
ada yang perlu ditanyakan soal anak itu, lebih baik ke bagian
akademik sana,”
Hanif meringis sinis. Dengan cepat merogoh sesuatu dari sakunya. Ia
mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Nindy.
Hanif
“Hubungi aku, jika berubah pikiran,”
Nindy melihat kartu nama Hanif. Dan kemudian, Tomi merebutnya lalu
membuangnya ke tanah. Nindy tak melawan. Ia lalu digandeng Tomi
15
untuk pergi. Sebelum Tomi dan kawan-kawannya pergi, Tomi sempat
melihat ke Hanif.
Tomi
“Aku harap kita gak akan bertemu lagi,”
Hanif tersenyum sinis. Mencoba memanggil-manggil Tomi dan kawankawan yang sudah berlalu.
Hanif
“Hei, hei…ayolah, sahabat kalian itu dibunuh!!! Hei, hei…ck,”
Hanif menghela nafas dan membuang pandangannya. Tak lama kemudian ia
melangkah ke arah yang berlawanan.
CUT TO
SCENE 9
EXT/INT. RUMAH IBU HANIF
MALAM
SNAPSHOT – Belum terlalu malam, di sebuah perkampungan, gang kecil
dengan rumah-rumah yang saling berhadapan. Terlihat sekelompok anak
kecil bermain kejar-kejaran dengan riang. Tampak juga beberapa ibuibu bercengkrama di salah satu rumah, mengawasi anak-anak mereka
bermain.
Hanif tampak berjalan dengan santai. Tas ranselnya masih ia gendong
satu sisi. Hanif tersenyum ketika anak-anak kecil yang bermain
melewatinya. Saat berpapasan dengan sekumpulan ibu-ibu yang
bercengkrama, Hanif menyapa.
Hanif
(menganggukkan kepala dengan ramah dan tersenyum)
“Nuwun sewu,”
Sekumpulan ibu-ibu sejenak berhenti dan menyapa balik. Mereka saling
kenal karena Hanif memang warga di kampung itu.
Salah satu ibu yang ramah
“Inggih mas Hanif, baru pulang mas,”
Hanif
“Inggih bu, pareng-pareng,”
Ibu-ibu
“Monggo-monggo,”
Ketika Hanif sudah beranjak meninggalkan ibu-ibu tersebut, mereka
kembali dalam bahasan semula. Larut dalam pembicaraan khas ibu-ibu.
Hanif sampai di sebuah rumah kecil di salah satu sudut gang. Rumah
yang terlihat sangat bersih dan rapi, dengan teras kecil yang tampak
dua kursi dan satu meja kecil dengan vas bunga cantik di atasnya.
Tanpa canggung, Hanif membuka pagar dan masuk ke dalam rumah
tersebut.
16
INTERCUT
Dari dalam rumah. Terdengar bunyi gesekan kunci. Hanif masuk dan
kembali mengunci pintu. Hanif berada di ruang tamu, melempar tas
sekenanya, dan kemudian duduk pada salah satu sofa yang ada disana.
Hanif membuka sepatunya. Dengan gerakan yang wajar mencium aroma
kaos kakinya sendiri dengan ekspresi yang konyol.
Ruang tamu Hanif dipenuhi ornamen khas rumah sederhana dengan fotofoto yang dipajang di dinding ruangan. Tampak juga foto seorang pria
dengan seragam tentara, yang notabene adalah almarhum bapak Hanif.
Seorang wanita mengenakan daster terlihat bangun tidur keluar dari
kamar dan langsung menyapa Hanif. Dia adalah Bu Hamidah, ibu Hanif.
Ibu Hanif
“Tumben le, gak ngabarin ibu kalau mau ke rumah?”
Hanif meringis, merasa tersindir.
Hanif
“Hehehe, inggih bu, Hanif pingin tidur disini,”
Hanif beranjak, menghampiri ibunya dan mencium tangan ibunya.
Hanif
“Ibu kok belum sare?”
Ibu Hanif menepuk pundak Hanif dengan sayang.
Ibu Hanif
“Ibu habis beres-beres lemari terus ketiduran, kamu sudah makan le?”
Hanif meringis lagi. Ibu Hanif tersenyum maklum seolah tahu jawaban
Hanif.
Ibu Hanif
“Yo wes, bersihin badanmu dulu sana, cuci muka, ibu bikinkan nasi
goreng dulu ya, ibu ndak masak soalnya,”
Hanif
(meringis)
“Makasih ya bu,”
Hanif lalu beranjak ke arah dalam rumah, kemudian disusul ibunya.
INTERCUT
TV di ruang tengah rumah Hanif menyala. Sebuah tayangan berita yang
masih menampilkan seorang publik figur yang akan maju sebagai
walikota.
Sementara itu, di meja makan, Hanif yang terlihat sudah berganti
baju dengan kaos dan celana pendek, tampak lahap memakan nasi goreng
buatan ibunya. Ibu hanif menemani dan duduk di hadapannya.
17
Ibu Hanif menuangkan air minum. Memberikannya kepada Hanif yang
lahap. Hanif meringis, sambil makan ia menonton berita di televisi.
Ibu Hanif menghela nafas, melihat anaknya.
Ibu Hanif
“Kamu kapan le arep ngenalin temen perempuanmu ke ibu?”
Hanif tersenyum kikuk. Ibunya merespon dengan diam.
Ibu Hanif
“Ibu ini cuma khawatir nif, umurmu makin nambah, kan udah waktunya
kamu itu menikah,”
Hanif
“Hehehe, Hanif masih banyak yang dipikir bu,”
Ibu Hanif
“Opo tho sing dipikir, kerjaan sudah mapan, rumah juga sudah punya,
kan udah tinggal diisi sama seorang istri rumahmu itu,”
Hanif
“Ga ada yang bisa masak seenak masakan ibu sih, hahaha,”
Ibu Hanif
“Nif,,nif, cek pintere ngalihin pembicaraan. Kamu itu keras banget,
mirip bapakmu,”
Raut muka Hanif tiba-tiba berubah. Ibu Hanif seolah tahu kalau salah
bicara.
Ibu Hanif
(memegang tangan Hanif)
“Almarhum bapak itu sayang sama kamu le, mbok ya sudah cukup waktu
untuk memaafkan bapakmu. Pergilah ke makamnya, tengoklah bapakmu,”
Hanif tersenyum dingin tapi tidak berusaha menyinggung ibunya.
Ibu Hanif
“Kamu masih marah sama bapakmu? Apa ndak cukup menghukumnya dengan
tidak datang pas bapak sedho?”
Hanif
(menghentikan makannya)
“Bu, bapak sudah tenang disana, jangan dibahas ya bu, Hanif mohon.
Hanif kesini kangen sama ibu,”
Ibu Hanif
(mulai terisak)
“Sudah lima tahun bapak pergi, ibu kangen sama bapak nif. Kamu itu
satu-satunya anaknya bapak sama ibu. Maafin bapakmu ya le,”
Hanif tersenyum menenangkan ibunya. Hanif mengusap-usap tangan
ibunya dengan sayang.
18
Hanif
“Inggih bu, ibu sare ya habis ini. Biar Hanif yang beresin meja
makan,”
Ibu Hanif mengusap air matanya. Mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada
kelelahan dan kesedihan yang sangat di raut mukanya. Ibu Hanif
kemudian beranjak. Mendekat ke Hanif dan mencium kening anaknya
dengan sayang.
Ibu Hanif
“Besok pagi mau sarapan apa?”
Hanif
“Apa aja bu, yang penting masakan ibu,”
Ibu Hanif tersenyum menepuk-nepuk pundak Hanif, lalu kemudian
beranjak pergi menuju kamar.
Hanif sempat terdiam sejenak, melihat nasi gorengnya yang masih
belum habis dimakan. Tak lama kemudian ia melanjutkan makannya dan
kembali menonton televisi.
Di dalam layar televisi, seorang pembaca acara perempuan membawakan
berita tentang figur anggota parlemen bernama Rendra Sasmito,
seorang yang digadang-gadang menjadi calon walikota terkuat di kota
ini.
CUT TO
SCENE 10
EXT/INT. CAFE / PERTEMUAN K 13
MALAM
Di saat yang sama, di sebuah cafe yang terlihat sangat eksklusif dan
elegan tampilannya, sekelompok pria dengan usia yang beragam tampak
berkumpul di salah satu meja di sudut yang dekat dengan sebuah kolam
renang. Mereka adalah K 13. Ada 8 orang tampak terlihat duduk dengan
santai menikmati sajian minuman ber merk dan merokok cerutu.
Dalam kelompok itu, terlihat Josi dan Troy yang duduk di pojok.
Sementara pria-pria lainnya tampak duduk tenang saling berhadapan.
Seorang pria, dari dalam lift keluar ditemani oleh pengawalnya yang
berjumlah dua orang. Tidak asing. Orang yang berjalan ke arah K 13
adalah Rendra Sasmito yang selalu muncul dalam pemberitaan televisi
sebagai calon walikota terkuat.
Rendra berjalan dengan tenang. Ketika sudah dekat, ia pertama kali
langsung menyapa Josi lebih dulu dan mulai menyalami satu per satu
orang yang duduk disana. Sementara pengawal Rendra tampak terlihat
selalu waspada.
Rendra langsung duduk di kursi di dekat Josi yang sejak awal memang
dibiarkan kosong. Josi tersenyum ke arahnya, dibalas oleh anggukan
kepala tanda hormat oleh Rendra.
19
Josi
(berdeham)
“Eheemmm,”
Seluruh orang yang mendengar Josi, langsung terdiam dan mulai
memandang ke arah Josi. Josi tersenyum tanpa arti.
Josi
(mencodongkan badannya, membuat gesture yang lebih serius)
“Baiklah tuan-tuan. Terima kasih atas waktu kalian menyempatkan diri
datang pada pertemuan kali ini. Sebelum ke arah pokok pembicaraan
yang utama, ada baiknya kita saling bertegur sapa terlebih dulu. Ada
salam dari Yang Utama untuk saudara-saudara semua,”
Orang-orang saling menganggukkan kepala mereka tanda penghormatan.
Salah satu diantara mereka, yang gaya pakaiannya sedikit berbeda
karena mengingatkan pada sosok jagoan kampung mengangkat tangannya
tanda interupsi. Ia adalah Dikoen, preman yang bisnisnya adalah judi
kampung dan lotre.
Josi melihatnya, memberi isyarat untuk bicara kepada Dikoen.
Dikoen
“Mohon ijin bicara Tuan Josi”
Josi
“Silahkan Tuan Dikoen,”
Dikoen
“Beberapa saudara kita sepertinya tidak ada yang hadir”
Josi
“Ya, tidak semuanya datang. Saudara-saudara yang lain masih sibuk
dengan pekerjaannya. Apakah itu mengganggu tuan Dikoen?”
Dikoen
(dengan sikap wibawa yang dibuat-buat)
“Ohh, tentu tidak tuan, tentu tidak, silahkan dilanjutkan”
Josi
(tersenyum dingin)
“Baiklah, seperti yang saudara sekalian tahu, kita kedatangan kawan
lama yang akan membantu gerakan kelompok kita”
Josi menatap ke Rendra, dan memegang pundak Rendra. Membuat gerakan
mengenalkan Rendra kepada orang-orang disana.
Josi
“Ini tuan Rendra, mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing
dengan saudara kita yang satu ini,”
Orang-orang menatap Rendra sambil memberi anggukan kepala tanda
salam. Rendra membalasnya dengan senyum yang ramah.
20
Josi
(menoleh ke arah Rendra)
“Baik tuan Rendra, silahkan mengenalkan diri,”
Rendra
(mengangguk setuju dan menghadap ke orang-orang)
“Salam semua saudara-saudaraku, terima kasih sambutannya, senang
akhirnya bisa bergabung dan bertemu dengan saudara-saudara semua”
Josi
(tersenyum mendengar Rendra lalu menatap ke orang-orang)
“Seperti yang kalian tahu, ada insiden yang sebetulnya tidak perlu
terjadi jika kita berhati-hati,”
Josi menatap ke orang yang ada di sebelah kanannya. Seorang lelaki
yang cukup muda, yang terlihat takut ditatap oleh Josi. Lelaki itu
adalah Jimi, ahli cyber yang terlibat dalam K 13.
Jimi
(dengan nada takut dan ragu)
“Maafkan saya Tuan Josi, saya pastikan hal seperti itu tidak akan
terulang lagi,”
Josi manggut-manggut seolah maklum tapi dengan ekspresi dingin.
Sementara orang-orang lainnya, termasuk Rendra terlihat khawatir
juga.
Tiba-tiba Dikoen menyela.
Dikoen
“Maaf Tuan Josi, ada apa sebenarnya, jika memang membutuhkan, saya
siap menangani”
Josi tersenyum dingin. Jimi menatap Dikoen dengan kesal. Dikoen
masih dengan gaya jagoannya.
Josi
“Sudah dibereskan, tak perlu khawatir”
Dikoen tampak manggut-manggut. Sementara Jimi terlihat begitu kesal
dengan Dikoen yang seolah cari muka.
Josi
(melanjutkan)
“Begini saudara-saudara, Tuan Rendra kemari hanya ingin memastikan
kelompok kita semua siap mendukungnya menjadi walikota. Yang Utama
berpesan kepada kita semua untuk terus bergerak bersama memenangkan
Tuan Rendra,”
Troy yang duduk persis di sebelah Josi tiba-tiba mendekat dan
berbisik sesuatu kepada Josi. Josi mendengarnya dengan konsentrasi.
Orang-orang ikut melihat adegan itu dengan penasaran. Saat Troy
selesai menyampaikan sesuatu kepada Josi, Josi mulai melanjutkan
pembicaraannya.
21
Josi
“Baiklah, saya rasa cukup sekian pembahasan ini, saya minta kepada
tuan-tuan saudara sekalian untuk tetap berhati-hati dalam bersikap
sekarang. Yang Utama tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi
lagi. Jaga jarak dari pantauan orang-orang yang mungkin sudah curiga
pada kelompok kita, salam”
Orang-orang menjawab salam Josi dengan melambaikan tiga jarinya
tangan kanannya ke atas sambil menjawab “salam” secara bersama-sama.
Suasana langsung hiruk pikuk dengan suara orang-orang saling
berbisik-bisik. Rendra terlihat kaku namun ikut mencair ketika Josi
mengajaknya bicara.
Dari kejauhan, seorang perempuan dengan tampilan yang seksi, membawa
nampan berisi handphone model lama, berjalan mendekat ke arah Josi.
Karena Josi masih sibuk bicara dengan Rendra, perempuan itu menyapa
Troy yang menatap dengan dingin.
Perempuan Seksi
(berdiri di sebelah Troy)
“Maaf Tuan Troy, ada telepon untuk Tuan Josi,”
Troy menepuk pundak Josi, berbisik sesuatu. Josi menatap ke
perempuan seksi yang masih berdiri dengan gesture yang khawatir dan
takut. Tanpa berpamitan ke Rendra, Josi berdiri, mengambil handphone
dan beranjak ke arah kolam renang. Sementara perempuan seksi
berjalan mundur teratur dengan takut.
Josi berdiri di tepi kolam renang dan menerima telpon dari
seseorang. Josi tampak manggut-manggut menerima telepon.
INTERCUT
TURKI. SIANG
Seorang pria tinggi besar, mengenakan topi khas koboi dengan
dandanan nyentrik serba hitam tampak menelepon. Pria inilah yang
menelepon Josi dari Turki. Pria inilah yang disebut Yang Utama oleh
Josi kepada orang-orang. Scene ini hanya memperlihatkan Yang Utama
dari belakang. Dengan backsound suaranya menelepon Josi.
Yang Utama
“Apakah semuanya berjalan dengan benar?”
Josi (S.O)
“Sudah Yang Utama, kami sudah lakukan sesuai perintah,”
Yang Utama
“Hmmm, aku minta orang yang mengurus sistem cyber kita lebih
berhati-hati lagi. Kita sedang dipantau, aku percaya kalian bisa,”
KLIK. BUNYI TELEPON DITUTUP
Pria yang dipanggil Yang Utama mematikan teleponnya dan berjalan ke
depan, menghilang di antara kerumunan orang-orang.
22
BACK TO CAFE
Josi baru selesai menelepon. Troy dari belakang menghampirinya. Josi
menyerahkan handphone yang dipegangnya kepada Troy dan memberi
perintah.
Josi
“Cepat buang dan hancurkan,”
Troy mengangguk paham. Dengan cepat Troy melepas sim card dari
handphone dan mematahkannya menjadi dua. Kemudian membuang handphone
itu ke tempat sampah.
Josi menatap Troy yang masih berdiri di sebelahnya, kemudian menoleh
ke belakang, ke arah para anggota K 13 yang mulai bercengkrama
dengan Rendra.
Josi
(bicara dengan pelan ke Troy)
“Bersihkan Jimi dan orang-orangnya. Yang Utama minta kita ganti tim
cyber, panggil Erik untuk gantikan Jimi,”
Troy
“Kapan?”
Josi
“Mulai besok saja, biarkan dia hidup sehari lagi,”
Troy mengangguk paham dan beranjak meninggalkan Josi. Baru beberapa
langkah, Josi memanggilnya pelan.
Josi
“Troy,”
Troy kembali mendekat ke Josi, menunggu Josi bicara.
Josi
“Bersihkan langsung, jangan satu satu,”
Troy mengangguk paham dan kembali berjalan ke arah orang-orang.
Sementara Josi masih berdiri di tepi kolam renang, membuang
pandangannya ke atas. Melihat langit yang semakin gelap…..
CUT TO
SCENE 11
EXT/INT. RUMAH IBU HANIF
PAGI
SNAPSHOT – Suasana pagi hari di perkampungan tempat tinggal rumah
ibu Hanif. Anak-anak sekolah tampak berjalan beriringan di sepanjang
jalan. Tukang sayur menjajakan dagangannya. Sebuah toko kecil, baru
saja dibuka pemiliknya. Orang-orang saling bertegur sapa.
INTERCUT
23
EXT. Pintu depan rumah ibu Hanif diketuk oleh seseorang perempuan.
Awalnya hanya terlihat dari belakang, namun akhirnya jelas bahwa
yang datang adalah Nindy, salah satu sahabat Hesti yang sebelumnya
sempat ditemui oleh Hanif di kampusnya. Mengenakan kaos dengan rok
balon, sepatu kets dan tas jinjing, terlihat sangat fashionable.
EXT. Ekspresi Nindy tampak ragu-ragu dan ada sedikit garis
kekhawatiran disana. Agak lama ia mengetuk pintu, seraya mengucap
salam. Sampai akhirnya Ibu Hanif keluar membukakan pintu.
Nindy
(sambil mengetuk pintu)
“Assalamualakum,”
INSERT. PINTU RUMAH – TOK..TOK..TOK (SUARA KETUKAN PINTU)
Ibu Hanif
(membuka pintu dari dalam rumah)
“Walaikumsalam,”
Nindy tersenyum ramah kepada Ibu Hanif. Ibu Hanif membalasnya dengan
kikuk. Ada rasa penasaran dari raut muka Ibu Hanif melihat seorang
perempuan muda yang cantik yang tak pernah ia temui. Sempat
terbersit bahwa Nindy adalah pacar Hanif.
Nindy
(dengan nada yang ramah)
“Maaf mengganggu Ibu, apa benar ini rumah Mas Hanif, wartawan Kota
Post?”
Ibu Hanif
(kikuk karena salah sangka)
“Oh, iya betul nak, saya ibunya,”
Ibu Hanif memberikan tangannya, mengajak bersalaman. Nindy
menyambutnya dengan kikuk.
Nindy
“Iya Bu, apa Mas Hanif ada disini?”
Ibu Hanif
(seperti kedatangan tamu agung, ada girang yang berlebihan dalam
ekspresinya)
“Oh, iya, ada, ada, sebentar ya, mari masuk dulu ke dalam,”
Nindy
(menggangguk setuju)
“Iya bu,”
INT. Ibu Hanif lalu mengajak Nindy masuk ke dalam rumah. Ia
mempersilahkan Nindy duduk di salah satu kursi yang ada di ruang
tamu.
Nindy duduk, dan tersenyum kepada Ibu Hanif ketika Ibu Hanif pamit
ke belakang untuk membangunkan Hanif yang rupanya masih tidur. Nindy
24
seperti salah tingkah dan seolah mencari kesibukan dengan melihat
sekeliling ruang tamu.
Sebuah foto menarik pandangan Nindy. Foto yang dipajang di dinding
ruang tamu di hadapannya. Nindy berdiri karena penasaran dan melihat
foto itu lebih dekat. Foto seorang perwira tentara bersama perempuan
yang adalah Ibu Hanif serta anak lelaki dengan wajah tirus yang
menyebalkan, yang menurut Nindy adalah Hanif. Agak lama Nindy
memandangi foto tersebut. Nindy tersenyum tipis, seolah mengingat
sesuatu.
Nindy tak menyadari jika Hanif sudah ada di ruang tamu. Hanif
berdehem sebagai isyarat untuk menarik perhatian tamunya itu.
Hanif
“Ehhemm,”
Nindy menoleh ke arah Hanif dan tersenyum kikuk. Hanif membalasnya.
Nindy
“Maaf aku mengganggu tidurmu, namaku Nindy teman dekat Hesti,”
Hanif mengangguk dan tersenyum ramah. Ia hanya mengenakan kaos dan
celana pendek yang ia pakai di scene sebelumnya (scene 10).
Hanif
(berjalan ke arah kursi)
“Duduklah,”
Nindy mengikuti arahan Hanif untuk duduk ke tempat semula. Hanif
lalu mengambil posisi duduk berhadapan dengan Nindy.
Hanif
“Maaf, aku belum mandi,”
Nindy tersenyum maklum.
Hanif
(mengeryitkan dahinya)
“Darimana kau tahu rumah ini,”
Nindy seperti salah tingkah, lalu dengan cepat mengeluarkan sesuatu
dari dalam tasnya. Selembar kartu nama milik Hanif yang dihempaskan
Tomi saat di kampus sebelumnya. Nindy menunjukkannya ke Hanif. Hanif
tersenyum.
Nindy
“Pulang kampus kemarin, tanpa sepengetahuan anak-anak, aku ke kantor
Mas Hanif. Seseorang di kantor memberiku dua alamat, saat aku ke
rumahmu, ternyata kamu ga ada, jadi aku pikir kamu pasti ada
disini,”
Hanif tersenyum lagi.
25
Nindy
(sedikit khawatir)
“Maafkan sikap teman-temanku kemarin, mas. Mereka masih marah dan
kalut atas apa yang terjadi pada Hesti,”
Hanif
“Apa yang sebenarnya terjadi,”
Nindy menghela nafas panjang. Membuang pandangannya dari Hanif.
Hanif masih tenang, menunggu cerita Nindy.
Nindy
“Aku gak tahu harus mulai darimana? Tapi yang aku tahu, Hesti gak
seperti yang orang-orang bilang,”
Hanif
“Maksudmu?”
Nindy
(sedikit emosi)
“Rumor di medsos soal Hesti sebagai wanita panggilan yang bunuh diri
karena hutang itu mengada-ada,”
Hanif
“Aku tak pernah menulis rumor itu,”
Nindy menghela nafas lagi, mencoba menahan tangisnya.
Nindy
“Ya, aku tahu Mas Hanif gak seperti orang media yang lainnya,”
Hanif
“Apa yang terjadi diantara kalian. Maksudku antara Hesti dan kalian
berempat. Bukannya kalian berlima seharusnya bersahabat?”
Nindy
“Kami dekat sejak semester awal mas. Sejak kami sama-sama jadi
mahasiswa baru. Hampir tiga tahun kami selalu bersama-sama,”
Hanif
“Apa yang terjadi?”
Nindy
“Aku masih bingung kenapa Tomi, Anton dan Hilda bisa semarah itu
sama Hesti. Kemarin Mas Hanif bilang Hesti bukan bunuh diri, apa
maksudnya?”
Hanif
(mencodongkan badannya, sambil berbicara pelan seolah yang
dibicarakan sangat rahasia)
“Sebelum polisi datang ke kost Hesti, ada foto Hesti gantung diri
bocor di website abal-abal yang tiba-tiba menghilang dari
peredaran,”
Nindy terkejut. Syok. Ia mulai menangis.
26
Hanif
(berusaha tenang)
“Maaf, sebenarnya aku gak boleh cerita ini ke siapa-siapa, tapi
instingku mengatakan kamu bisa bantu aku mengungkap pelaku
pembunuhan Hesti,”
Nindy
(terisak)
“Jadi,,,jadi maksud Mas Hanif, Hesti dibunuh?”
Hanif
(mengangguk dengan isyarat untuk menenangkan Nindy)
“Kamu mau bantu aku kan?”
Nindy masih terisak, berusaha menenangkan dirinya dari syok.
Nindy
(seolah bicara pada dirinya sendiri)
“Aku sudah bilang ke anak-anak, gak mungkin Hesti seperti itu, gak
mungkin, mereka gak mau denger, mereka terlalu percaya pada isu,”
Hanif berdiri dan mendekat ke arah Nindy. Ia duduk di sebelah Nindy,
memegang pundak Nindy dengan ragu-ragu.
Hanif
“Kamu bisa ceritakan semuanya dengan detail, sama-sama kita ungkap
kalau memang ada yang tidak benar dari rumor itu. Biar Hesti tenang
disana,”
Nindy menoleh ke arah Hanif, dan kembali terisak. Ia tertunduk
menutup wajah dengan kedua tangannya. Hanif masih mencoba
menenangkan Nindy dengan menepuk-nepuk pundaknya dengan gerakan yang
ragu.
Tanpa disadari keduanya, Ibu Hanif keluar datang membawa nampan
berisi cangkir minuman. Ia kaget melihat Nindy yang menangis dan
ditenangkan oleh Hanif.
Ibu Hanif
“Lho, lho ono opo iki, aduh-aduh, Hanif, kau apakan anak orang ini
heh?”
Ibu Hanif mendekat, meletakkan nampan di atas meja, lalu berlutut
persis di depan Nindy yang salah tingkah. Hanif pun demikian.
Ibu Hanif
(memegang wajah Nindy dan berusaha mengusap air matanya)
“Kenapa ini, kok menangis cah ayu,”
Nindy ikut mengusap air matanya sendiri. Dan berusaha membalikkan
suasana, karena pasti Ibu Hanif salah persepsi dengan apa yang
dilihatnya.
Nindy
(tersenyum dan berusaha mengusap air matanya dengan cepat)
“Enggak papa bu, maaf, maaf bukan karena Mas Hanif,”
27
Ibu Hanif menoleh ke Hanif. Matanya melotot seolah marah. Hanif
salah tingkah. Hanif memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya
ke mulutnya sendiri, seolah meminta Ibu Hanif pergi.
Ibu Hanif
“Hah?”
Nindy menoleh ke Hanif dan kembali ke Ibu Hanif. Nindy memegang
tangan Ibu Hanif. Berusaha menenangkan.
Nindy
“Maaf bu, gak papa kok, saya hanya sedang berkabung,”
Ibu Hanif
(bingung)
“Oh.,,”
Hanif masih dengan isyaratnya meminta Ibu Hanif pergi. Ibu hanif
akhirnya mengerti dan beranjak.
Ibu Hanif
“Ya Allah, ibu pikir kalian kenapa-kenapa, ya sudah kalau begitu ibu
masuk dulu ya”
Nindy dan Hanif mengangguk dengan salah tingkah. Ibu Hanif beranjak
masih dengan bingung. Setelah Ibu Hanif menghilang, Nindy dan Hanif
saling menoleh dan tersenyum kikuk.
CUT TO
SCENE 12
EXT/INT. MOBIL – JALAN RAYA
PAGI MENJELANG SIANG
Hanif dan Nindy menuju rumah keluarga Hesti di desa yang letaknya
jauh dari kota. Mereka mengendarai mobil jeep milik Nindy. Hanif
yang memegang stir, sementara Nindy duduk di sebelahnya.
EXT. Mobil jeep melaju diantara kendaraan-kendaraan di jalan raya
perkotaan.
INT. (DALAM MOBIL) Hanif tampak menyetir mobil dengan konsentrasi.
Sementara Nindy di sebelahnya duduk bersandar pada kaca mobil. Hanif
melihat Nindy dan memulai percakapan.
Hanif
(sambil menyetir)
“Maafkan ibuku ya,”
Nindy menoleh dan mengangguk sambil tersenyum.
Nindy
“Gapapa mas, aku juga yang salah, pakai acara nangis segala tadi”
Hanif tersenyum kikuk.
28
Nindy
“Ibunya Mas Hanif baik dan lucu juga ya, aku yang gak enak tadi,”
Hanif
“Hahaha, ibu mungkin mikir kalau kamu itu pacarku dan kita sedang
berantem,”
Nindy ikut tertawa kecil mendengar gurauan Hanif.
Hanif
“Kamu dekat sama keluarga Hesti?”
Nindy
(menatap Hanif)
“Dulu, awal-awal semester kuliah, aku sering menginap di rumahnya.
Anak-anak juga beberapa kali main ke rumah orangtua Hesti,”
Hanif
(menatap Nindy)
“Kamu bisa cerita tentang Hesti kalau mau, sepertinya perjalanan
kita lumayan panjang,”
Nindy tersenyum tipis, lalu ia bersandar pada kaca mobil. Hanif
sempat menoleh, seolah maklum. Tak lama kemudian, Nindy seperti
bicara pada dirinya sendiri.
Nindy
“Hesti itu anak yang baik…”
CUT TO
FLASHBACK / MONTASE – (CERITA HESTI DARI NARASI NINDY)
INT. KAMPUS – PAGI
Hesti tampak berjalan bersama Tomi, Anton, Hilda dan Nindy di
koridor kampus. Mereka berlima tampak akrab dan saling bercanda.
DIALOG NARASI : “Kami berlima dekat sejak awal masuk kuliah. Satu
jurusan dan sama-sama tidak dari kota ini membuat kami akrab. Kami
ibarat keluarga yang saling mendukung dan menyemangati. Bahkan kami
berikrar untuk wisuda bareng kelak, hhem,”
INTERCUT – FLASH
INT. CAFE – SORE
Hesti dan keempat sahabatnya tampak nongkrong dan saling bercanda.
Sesekali Hesti tampak melihat ke layar handphonenya.
DIALOG NARASI : “Tiga tahun bersama tidak pernah satu kali pun
kesempatan tidak kami lewati bersama. Kami saling tahu sama lain,
terutama aku yang awalnya memang satu rumah kost sama Hesti,”
INTERCUT – FLASH
29
EXT. KAMPUS – SIANG
Nindy tampak mencari seseorang, ketika dari kejauhan ia melihat
Hesti dijemput oleh mobil mewah.
DIALOG NARASI : “Semuanya berjalan menyenangkan dan tidak ada pernah
ada masalah diantara kami. Sampai setahun yang lalu mungkin, Hesti
dekat dengan seseorang”
Suara Hanif : “Siapa?”
INTERCUT – FLASH
INT. KANTIN KAMPUS – PAGI
Hesti dan keempat sahabatnya berkumpul. Tapi tidak seperti biasanya.
Hesti tampak lebih murung dan lebih memperhatikan handphonenya
ketimbang teman-temannya. Nindy dan yang lain seolah heran dengan
sikap Hesti.
DIALOG NARASI :”Aku gak tahu pasti. Aku pikir Hesti akan cerita.
Tapi hubungannya kali ini seolah membuatnya tertutup. Beberapa kali
kami kumpul Hesti tak pernah ada. Saat ada pun seolah pikirannya
tidak bersama kami”
INTERCUT – FLASH
EXT. KAMPUS – SIANG
Nindy sekali lagi melihat Hesti dijemput mobil mewah dari kejauhan.
Sementara di kanan kiri Hesti, beberapa mahasiswa dan mahasiswi
seperti berbisik-bisik menggunjing perihal mobil mewah yang
menjemput Hesti.
DIALOG NARASI :”Aku dan yang lainnya jadi khawatir. Beberapa kali
aku coba menanyakan siapa orang yang sedang dekat dengannya itu.
Tapi Hesti selalu menghindar. Kehidupannya di kampus juga berubah,
ia sering tidak masuk kuliah,”
INTERCUT – FLASH
EXT. KOST NINDY – SIANG
Nindy tampak mengajak bicara Hesti, tapi Hesti seolah menghindar.
Termasuk akhirnya Hesti pindah kost dengan adegan membawa koper
keluar rumah kost dan disaksikan oleh Nindy.
DIALOG NARASI :”Kami benar-benar merasa jauh dari Hesti, adalah
ketika ia memutuskan pindah kost. Hesti sudah sangat berubah, bahkan
pindah pun ia tak sempat pamit,”
INTERCUT – FLASH
EXT. KAMPUS – SIANG
30
Di taman kampus, Tomi marah-marah. Menunjukkan gadgetnya kepada
Hilda, Anton dan Nindy. Dalam layar gadget terpampang foto Tomi
mengacungkan jari tengah di depan foto seorang dosen. Foto itu
tersebar di grup kampus. Tomi menuduh Hesti yang menyebar foto itu,
karena Tomi yakin foto diambil dari kamera gadget Hesti.
Tak berapa lama Hesti datang untuk mengklarifikasi, namun Tomi
terlanjur marah. Hilda dan Anton juga sinis kepada Hesti. Hesti
pergi dengan menangis.
DIALOG NARASI :”Kami berempat akhirnya memaklumi dan menyadari,
bahwa orang pada akhirnya tak bisa dipaksa untuk bersama terus.
Cita-cita Hesti mungkin sudah berbeda dengan kami. Hanya saja, aku
gak tahu kapan persisnya kejadian itu,”
Suara Hanif : “Kejadian apa?”
DIALOG NARASI :”Grup whatsapp kampus ramai karena foto Tomi sedang
mengacungkan jari tengahnya ke arah dosen membuatnya harus dipanggil
dan diskors. Entah siapa yang menyebar, tapi foto itu tiba-tiba juga
ada di website kampus untuk waktu yang cukup lama. Seperti virus.
Tomi menuduh Hesti yang menyebarkannya, karena dia yakin foto itu
diambil saat kami sama-sama mabuk di klub dulu, Hesti sempat datang
kepada kami, tapi kemarahan Tomi dan anak-anak lainnya sudah
memuncak,”
INTERCUT – FLASH
EXT. KOST NINDY – SIANG
Nindy duduk di depan komputer, layar komputer menayangkan akun
medsos Hesti yang penuh dengan bully dari orang-orang tentang
rumornya sebagai “perempuan panggilan” yang sering dijemput mobil
mewah.
DIALOG NARASI :”Entahlah, aku pikir sebagai balas dendamnya, Tomi
ikut menyebar isu soal “perempuan panggilan” dan pelakor kepada
Hesti di media sosial. Aku mencoba mencari Hesti tapi tak pernah
ketemu. Sebelum kematiannya, kampus ramai oleh isu itu, aku tak bisa
berbuat banyak kecuali hanya jadi penonton. Bodoh ya aku ini,
heemm,”
BACK TO SCENE 12 (MOBIL)
Nindy yang masih bersandar pada kaca mobil, menoleh ke Hanif dan
menatapnya dengan tajam.
Nindy
“Kalau memang Hesti dibunuh, aku harap kebenarannya bisa cepat
terungkap. Kasihan keluarga Hesti jika menanggung beban ini,”
Hanif menoleh ke Nindy dan tersenyum tipis.
Hanif
“Aku harap juga demikian, Bismillah semua akan baik-baik saja,”
Nindy tersenyum dan kembali menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
31
INTERCUT
EXT. (EE)
Mobil jeep yang mereka tumpangi melaju cepat di jalanan.
CUT TO
SCENE 13
EXT/INT. RUMAH KELUARGA HESTI
MENJELANG SORE
SNAPSHOT – Suasana pedesaan. Langit, pepohonan dan sawah. Beberapa
orang tampak melintas dengan motor dan sepeda.
EXT. Mobil jeep yang dikendarai Hanif melintas di jalanan desa itu.
INT. Dari dalam mobil, Nindy menujuk sebuah rumah.
EXT. Rumah keluarga Hesti tampak luar. Masih ada bendera kuning
tanda berduka di depan pagarnya. Rumah yang sangat sederhana, jauh
dari bayangan Hanif jika melihat sosok Hesti selama ini.
EXT. Mobil parkir persis di depan rumah tersebut. Nindy turun dari
mobil dan tak berapa lama kemudian, Hanif ikut turun.
INT. Dari dalam rumah, di ruang tamu, seorang wanita setengah baya
mengenakan baju terusan yang sederhana melihat ke arah mobil. Ia
adalah Ibu Hesti. Tampak juga beberapa kerabat dan saudara Hesti di
dalam ruang tamu, yang hanya beralaskan karpet dan tikar, sementara
kursi tamu diletakkan di luar, tanda bahwa akan ada sebuah
pengajian.
EXT. Ibu Hesti keluar menyambut Nindy dan Hanif. Ibu Hesti mulai
terisak dan langsung memeluk Nindy seolah mereka sangat akrab
sebelumnya. Hanif maklum, ia bersalaman ketika Ibu Hesti sudah
merampungkan pelukannya dengan Nindy. Mereka bertiga masuk, ke dalam
rumah.
INTERCUT
INT. Tangan Hanif meletakkan cangkir teh hangat suguhan Ibu Hesti.
Ia duduk bersila di dekat pintu, sementara Nindy dan Ibu Hesti ada
di sebelah mereka. Jarak mereka sangat dekat untuk bisa melakukan
obrolan.
Ibu Hesti
(menatap Nindy dan Hanif bergantian)
“Ibu masih tak percaya Hesti mengakhiri hidupnya seperti itu,”
Nindy dan Hanif hanya tertunduk dan menganggukkan kepalanya, salah
tingkah. Nindy hanya bisa menepuk-nepuk pundak Ibu Hesti sebagai
penghiburan.
32
Ibu Hesti
(terisak)
“Yang semakin membuat kami sedih, tidak satu pun tetangga datang
untuk pengajian mulai kemarin, Ya Allah apa salah anak itu, Hesti
anak yang baik,”
Nindy
(mendekat dan memeluk Ibu Hesti)
“Iya bu, Nindy tahu Hesti anak yang baik, Ibu gak usah peduli
omongan orang ya,”
Ibu Hesti semakin terisak dalam pelukan Nindy. Hanif hanya bisa
melihatnya dengan tatapan iba, tak ada yang bisa dilakukannya. Ibu
Hesti kemudian melanjutkan bicaranya.
Ibu Hesti
“Hesti itu anak pertama dan paling dekat dengan bapaknya. Adiknya
masih kecil-kecil. Bapaknya yang paling terpukul sekarang. Sejak
pulang dari pemakaman, bapaknya hanya diam seperti patung,”
Ibu Hesti kemudian bangun dan memberi isyarat agar Nindy dan Hanif
mengikutinya. Mereka kemudian berjalan menuju salah satu kamar yang
dekat dengan ruang tamu, kamar itu hanya ditutup dengan tirai.
Ibu Hesti membuka tirai kamar. Di dalamnya, seorang pria tua tampak
duduk selonjor di kasur. Matanya kosong menatap ke depan. Bahkan
saat Ibu Hesti, Nindy dan Hanif melihatnya, pria itu seolah tak
menggubris dan tak peduli.
Ibu Hesti
(terisak)
“Kami tak bisa berbuat apa-apa, hampir empat hari ini bapak gak mau
makan dan bicara,”
Hanif
(menoleh ke Ibu Hesti)
“Apa ada yang aneh sebelum Hesti meninggal bu?”
Ibu Hesti melihat Hanif dengan tatapan bingung. Nindy yang melihat
kebingungan Ibu Hesti berusaha menerjemahkan apa yang dimaksud
Hanif.
Nindy
“Maksud Mas Hanif, sebelum Hesti pergi apa ada gelagat aneh, atau
ada pesan barangkali,”
Ibu Hesti
(tampak berpikir sejenak)
“Gak ada sama sekali nak Nindy. Terakhir Hesti menelepon bapak
tengah malam, bilang kalau kirim uang untuk kami,”
Nindy dan Hanif saling menoleh. Kemudian Ibu Hesti kembali
melanjutkan.
Ibu Hesti
(kembali terisak)
33
“Itu terakhir Hesti telepon dan bapak bicara,”
Nindy memeluk Ibu Hesti. Hanif dan Nindy akhirnya hanya bisa melihat
bapak Hesti yang seolah menjadi patung tak bergeming. Mukanya pucat
dengan tatapan yang kosong.
CU – Ekspresi wajah bapak Hesti (movement – suara kesibukan orang
mengetik dan musik gelap melatari perpindahan scene dengan transisi)
CUT TO
SCENE 14
EXT/INT. MARKAS TIM CYBER K 13
MALAM
MONTAGE – Adegan pembantaian Tim Cyber K 13 yang dipimpin oleh Troy
atas perintah Josi. Adegan full slow motion dengan dramatisasi musik
yang mencekam.
INT. Markas Tim Cyber K 13 seperti sebuah gudang penyimpanan barangbarang. Luas dengan jejeran meja yang ditata dalam bentuk U dengan
masing-masing komputer canggihnya. Orang-orang di masing-masing meja
seolah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. (movement)
Sementara itu di lantai atas, Jimi yang punya ruangan sendiri dengan
kaca besar yang bisa dengan jelas melihat ke bawah tampak berada di
depan layar komputernya.
Dua layar komputer menampilkan matrix dan bahasa coding yang
canggih. Jimi tampak diam di depan layar komputernya.
EXT. Di luar markas yang terlihat seperti gudang besar. Sebuah mobil
baru saja berhenti. Disusul dengan tiga mobil lainnya. Sepasang kaki
turun dari pintu depan mobil pertama.
Terlihat Troy turun, memberi isyarat kepada orang-orang yang juga
ada di mobil lainnya untuk turun. Troy mengambil pistol dari dalam
mobil, memeriksa pelurunya dan menuju pintu masuk markas cyber
dengan tenang.
Tampak semua orang yang turun dari mobil membawa senjata laras
panjang dan pendek. Semuanya berekspresi was-was dan sangat hatihati, berbeda dengan Troy yang terlihat tenang.
INT. Terlihat orang-orang di dalam gedung (markas tim cyber) sibuk
dengan komputernya masing-masing.
BRAK. PINTU MARKAS TERBUKA
Troy dengan sangat tenang mengacungkan pistolnya pada satu orang
yang paling dekat dengan pandangannya.
Orang-orang tim cyber menoleh.
DOORR!!! – PISTOL TROY MELETUS MEMUNTAHKAN PELURU
34
Seorang pria muda tertembak persis di kepalanya dan langsung jatuh.
Seketika seruangan langsung dilanda kepanikan dan ketakutan. Semua
orang berusaha lari, sayangnya anak buah Troy keburu masuk dan
menembaki seisi ruangan dengan membabi buta.
TWIST FRAME – Troy dan anak buahnya menembak membabi buta dan orangorang yang ditembaki menjadi frame yang saling bergantian.
INTERCUT
INT. Jimi yang awalnya diam melihat monitor komputer langsung
terkejut, dengan panik ia melihat ke bawah dan langsung takut
melihat Troy dan anak buahnya menembak orang-orang dengan membabi
buta.
Jimi langsung menuju mejanya, ia sempat terjatuh karena panik. Ia
membuka laci mejanya, mencari sesuatu. Baru saat laci ketiga dibuka,
ia menemukan apa yang dicarinya. Sebuah memori card berwarna hitam.
Masih dengan panik, Jimi mulai membuka komputernya, sayangnya
komputernya tiba-tiba mati. Ruangannya juga diberondong peluru.
Dengan cepat, Jimi mencari gadgetnya yang ada dibawah tumpukan
kertas-kertas di meja.
Setelah menemukan gadgetnya, ia segera berlari sambil menghindari
berondongan peluru yang menembus kaca ruangannya.
INTERCUT
Troy masih dengan tenang menembaki orang-orang dengan pistolnya.
Ketika pelurunya habis, ia mendongak ke atas melihat ke ruangan
Jimi. Masih dengan sikap tenangnya, Troy mengisi ulang pelurunya
seraya berjalan menuju tangga untuk sampai ke lantai dua, menuju
ruangan Jimi.
INTERCUT
Jimi terduduk di sebelah pintu, bersembunyi di sebelah lemari besar
di salah satu sudut ruangannya. Dengan panik dan ketakutan, ia
mengganti memori gadgetnya dengan memori card yang tadi ditemukannya
di laci. Ekspresinya sangat panik dan ketakutan.
INTERCUT
Troy menaiki tangga dengan tenang.
INTERCUT
Jimi panik menunggu loading gadgetnya. Ketika ia akhirnya gadgetnya
menyala, dengan cepat ia mengcopy file yang ada di dalam memori
card, dan mengirimkannya ke seseorang lewat email.
CU – LOADING KIRIM FILE DI LAYAR GADGET JIMI
BRAKK – PINTU RUANGAN JIMI TERBUKA
35
Jimi melihat ke arah pintu. Ekspresinya benar-benar kalut. Troy
masuk dengan tenang dan berjalan ke arah Jimi. Pistolnya masih ia
pegang dengan santai.
Jimi
(ekspresi ketakutan)
“Troy..dengar dulu, dengar dulu,”
Troy tak menggubris, ia hanya diam saja. Tatapannya dingin dan
menakutkan.
CU – TANGAN TROY MENGARAHKAN PISTOL TETAP KE KEPALA JIMI YANG DUDUK
MERINGKUK DI DEPANNYA.
Tangan kiri Jimi seolah menahan moncong pistol Troy, sementara
tangan kanannya masih memegang gadget. Loading file belum selesai.
Jimi
“Troy, dengar dulu, kita bisa bicarakan ini, Troy..”
Troy masih diam. Tangannya tetap mengacungkan pistol ke kepala Jimi.
CU – LOADING FILE SELESAI.
Jimi sempat menengok ke gadgetnya. Dengan cepat jempolnya menekan
gadget untuk mengirim file ke email yang dimaksud.
DOORRR – PISTOL TROY MELETUS, MENEMBAK KEPALA JIMI.
MCU – DARAH MUNCRAT KE LEMARI.
Troy berdiri dengan tatapan dingin ke arah mayat Jimi yang kepalanya
sudah bolong karena tertembak. Sebelum beranjak, Troy melihat gadget
yang dipegang Jimi. Troy berjongkok dan mengambil gadget tersebut.
Layar masih menampilkan email. Troy seperti berpikir sejenak, lalu
dengan bergegas beranjak dan meninggalkan mayat Jimi. (FADE OUT)
CUT TO
SCENE 15
EXT/INT. RUMAH GUGUN
MALAM
INT. Di dalam sebuah kamar yang berantakan. Seorang pemuda hanya
mengenakan kaos singlet dan celana pendek terlihat asyik bermain
game di PC yang diletakkan di salah satu sudut kamarnya. Dia adalah
Gugun, pemuda yang hobi game dan IT yang selama ini menjadi teman
sekaligus informan Hanif.
Gugun seolah tidak peduli sekitar. Mengenakan headphone, sesekali ia
minum soda kalengan dan camilan yang tersedia di mejanya. Kamarnya
sangat berantakan. Tampak Gugun berbicara seru dengan seseorang
karena sedang bermain game online.
Gugun
“Iya disana, lho asem…oii..oiii jangan sembunyi, oi…anjir…”
36
LAYAR KOMPUTER GUGUN – SEBUAH PESAN EMAIL MASUK
Gugun langsung terdiam. Ia melihat pesan masuk berasal dari nama
anonim yang dikenalnya. Seperti ketakutan dan panik, Gugun langsung
mencopot headphonenya dan mematikan gamenya dengan tergesa-gesa.
Gugun kemudian mencari gadgetnya yang terletak diantara tumpukan
barang-barang di meja komputernya. Agak lama Gugun mencarinya.
Setelah ketemu, ia segera membuka gadgetnya.
LAYAR GADGET GUGUN – EMAIL MASUK DIBUKA ADA FILE DISANA
Gugun terdiam ketakutan. Ia lalu membuka file yang dikirim oleh
Jimi. Gugun terlihat tercengang melihat layar gadgetnya. Ekspresinya
benar-benar ketakutan melihat isi file yang dikirim Jimi.
CU – EKSPRESI GUGUN TERKEJUT & KETAKUTAN
Dengan gerakan tergesa, Gugun bangun dari duduknya. Mencari sesuatu
di lemari yang ada di belakangnya. Gugun membongkar hampir seisi
lemari, ketika akhirnya ia menemukannya. Sebuah flashdisk berwarna
putih. Dengan gerakan yang seolah sudah dikomando dengan cepat,
Gugun kembali menghadap ke komputer, membuka sekali lagi emailnya.
Ia mendownload file yang dikirim oleh Jimi. Sambil menunggu loading
selesai, Gugun seperti orang bingung mulai mencari kaos dan
celananya. Ia memakai kaos dan celananya dengan cepat.
Gugun kembali ke komputer, mengcopy file yang sudah didownloadnya ke
flashdisk yang sebelumnya ia tancapkan ke PC. Setelah selesai, Gugun
langsung beranjak meninggalkan kamarnya dengan cepat.
BRAAKK – PINTU TERTUTUP SAAT GUGUN KELUAR KAMAR.
CUT TO
SCENE 16
EXT/INT. KANTOR REDAKSI “KOTA POST”
MALAM
SNAPSHOT – Suasana malam di sekitar lingkungan kantor Kota Post yang
terletak di pinggir jalan. Sebuah plang besar bertuliskan “Kota
Post” berdiri tegak di pagar kantor.
Sebuah mobil jeep berhenti persis di dekat pintu masuk kantor itu.
Hanif keluar dari dalam mobil, diikuti oleh Nindy yang keluar dari
pintu sebelahnya. Mobil dibiarkan menyala. Hanif berdiri di sisi
pintu, sementara itu Nindy melewatinya dan langsung masuk ke dalam
mobil di kursi kemudi.
MCU – Hanif masih berdiri sementara Nindy bersiap di kursi kemudi.
Terjadi percakapan diantara keduanya.
Hanif
“Terima kasih sudah mau antar aku ke kantor,”
37
Nindy
(tersenyum)
“Sekalian aku pulang mas, searah,”
Hanif tersenyum tulus. Nindy membalasnya.
Nindy
“Mas, terima kasih sudah mau percaya bahwa Hesti gak seperti..”
Hanif
(memotong perkataan Nindy)
“Hesti beruntung punya sahabat seperti kamu,”
Nindy mengangguk dan tersenyum. Hanif membalasnya.
Nindy
“Ya udah, aku pulang dulu ya mas,”
Hanif
(mengangguk setuju)
“Ok, hati-hati ya,”
Nindy mengangguk lagi. Ia lalu mulai bersiap mengemudikan mobilnya.
Mobil jeep Nindy melaju, meninggalkan Hanif yang masih berdiri di
sisi kanan jalan. Untungnya jalanan sangat sepi. Ketika mobil sudah
menjauh, Hanif bergegas melangkah masuk ke dalam kantornya.
INTERCUT
INT. Hanif berjalan masuk ke kantor. Ia sudah sampai di halaman
depan, ketika dari kejauhan tampak duduk seorang pemuda mengenakan
kaos dan celana jeans belel duduk di kursi yang ada di teras kantor.
Pemuda itu adalah Gugun.
Gugun melihat Hanif dengan wajah yang terlihat senang, seolah
menemukan harta karun. Ia berdiri dan berlari menghampiri Hanif.
Sementara Hanif agak kaget melihat Gugun menghampirinya.
Hanif
“Lho Gun, ngapain kau?”
Gugun
(nada panik seraya tangannya membentuk isyarat untuk tidak berisik)
“Sstt…, udah nanti saja ceritanya, kau harus bantu aku Nif,”
Hanif
“Ada apa?”
Gugun menarik tubuh Hanif dan mengajaknya untuk menjauh dari kantor.
Sementara Hanif yang bingung berusaha menolaknya.
Hanif
“Kenapa kau ini?”
Gugun
38
(nada panik)
“Aku bilang nanti saja, jangan disini, tidak aman,”
Hanif bingung. Gugun tetap bersikukuh. Gugun akhirnya mengambil
flashdisk yang ada di kantong celananya. Menunjukkannya kepada
Hanif.
Gugun
(menunjukkan flashdisk)
“Ini, semua yang kau minta ada disini, sekarang cepat ikut aku, aku
butuh pertolonganmu,”
Hanif menerima flashdisk yang diberikan Gugun. Tanpa mereka sadari
sebuah suara mobil berdecit tajam parkir di depan kantor Kota Post.
Hanif
“Apa ini?”
Gugun
“Semua bukti soal K 13,”
DOORR – SUARA LETUSAN PISTOL MEMECAH KEPANIKAN.
Gugun jatuh. Kepalanya bersimbah darah. Ia tertembak. Hanif menahan
tubuh Gugun. Hanif ikut terjatuh.
DOORR…DORR…DORR….DRRRTTT…DRRTT…- SUARA TEMBAKAN DARI LUAR
KANTOR TERDENGAR BERDESING.
Kantor Kota Post diberondong peluru. Hanif masih menahan tubuh Gugun
yang sudah mati. Hanif menunduk berusaha menghindari terjaman
peluru-peluru yang berhamburan diarahkan ke kantor Kota Post.
TWIST FRAME – Suara kepanikan dari dalam kantor terdengar memilukan.
Tampak satu dua orang keluar dari kantor untuk yang kebingunan, satu
orang tertembak jatuh. Sementara di luar, segerombolan orang
berpakaian hitam-hitam dan bertopeng menggunakan senjata laras
panjang menembaki kantor Kota Post dengan membabi buta.
Di tengah hiruk pikuk dan kepanikan itu, Hanif tak bisa bergerak. Ia
hanya tertunduk di tanah seraya merangkul mayat Gugun. Suara
tembakan terus berdesing.
Suara tembakan berhenti. Disusul suara deru mobil para penembak yang
melaju kencang.
EYE CAM – mata Hanif pelan-pelan tertutup melihat wajah Gugun yang
bersimbah darah karena tertembak. (FADE OUT)
CUT TO
SCENE 17
EXT/INT. KANTOR REDAKSI KOTA POST
MALAM
(FADE IN) Suara sirine ambulance dan mobil patroli polisi menjadi
pembuka scene.
39
EXT. Mayat Gugun ditandu dan dibawa masuk ambulance yang kemudian
pergi. Hadi (pemred Kota Post) tampak keluar dari dalam kantor
dengan wajah prihatin sambil sesekali memerika para pegawainya yang
sudah mulai tenang. Ada orang yang duduk dan berdiri. Sementara lalu
lalang polisi dan petugas medis menjadi montase tambahan.
Hanif duduk merenung di bagian belakang mobil ambulance yang
terbuka. Sementara lalu lalang polisi dan orang-orang yang panik
terlihat begitu ramai. Di tangannya masih tergenggam flashdisk
pemberian Gugun.
Anggara dan Efendi tampak berbicara dengan beberapa orang di salah
satu sudut halaman. Anggara melihat ke arah Hanif. Kemudian ia
meminta ijin ke Efendi untuk beranjak.
Anggara berjalan menghampiri Hanif. Hanif yang melihat Anggara hanya
tersenyum kecut. Anggara hanya menganggukkan kepalanya.
Anggara
“Bagaimana kondisimu?”
Hanif hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
Anggara
“Komisaris minta kau jangan terlalu jauh ikut campur, ini
akibatnya,”
Hanif
“Bukan aku yang diincar,”
Anggara hanya diam dan menatap Hanif. Sementara itu, Efendi ikut
menghampiri mereka. Efendi langsung mencecar Hanif.
Efendi
“Kami sudah mengingatkanmu, gerakan mereka sangat cepat. Ini diluar
jangkauanmu,”
Hanif hanya menatap Efendi dengan tenang dan dingin.
Hanif
(memberi isyarat dengan kepala menunjuk ke Anggara)
“Aku juga sudah bilang kepadanya, bukan aku yang mereka incar,”
Efendi menoleh ke Anggara. Anggara hanya diam dan mengangguk pelan.
Efendi sempat melihat flashdisk yang dipegang Hanif. Hanif tetap
tenang.
Efendi
“Apa itu?”
Hanif menatap Efendi dengan dingin.
Hanif
“Apa?”
40
Efendi
“Itu yang kau pegang, kalau itu barang bukti sebaiknya kau berikan
kepada kami,”
Hanif mengangkat flashdisk yang dipegangnya.
Hanif
“Ini data beritaku, mau kusetor ke kantor, dan sepertinya tidak
jadi, jika melihat kekacauan ini,”
Hanif lalu memasukkan flashdisk ke saku kemejanya. Anggara hanya
melihatnya. Sementara Efendi menatap curiga. Hanif tak bergeming dan
lebih memilih merenungi kematian temannya.
Efendi
“Sebaiknya kau ikut kami ke kantor untuk kesaksian,”
Hanif
“Ya, dan kalau boleh tinggalkan aku sendiri dulu. Aku baru melihat
temanku mati dengan peluru menembus kepalanya,”
Efendi mendengus lalu beranjak meninggalkan Hanif dan Anggara.
Anggara juga mau beranjak ketika tangan Hanif menahannya.
Hanif
“Aku mau kita bicara berdua,”
Anggara terlihat bingung. Hanif tersenyum kecut.
Hanif
“Instingku mengatakan ada yang tidak beres di kepolisian,”
Anggara
(melotot)
“Apa maksudmu?”
Hanif
“Jelas aku yang mereka incar,”
Anggara
“Bukannya kau tadi bilang bukan kau yang diin..”
Hanif
“Ayolah pak, jangan bodohi dirimu sendiri. Bagian mana yang
menjelaskan Gugun adalah informanku?”
Anggara
“Gugun?”
Hanif
(emosi tapi berbisik)
“Mayat yang bolong batok kepalanya itu tadi!”
Anggara menoleh ke arah orang-orang yang berkerumun di seberang
mereka. Ia seolah memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraannya
dengan Hanif.
41
Anggara
“Aku masih belum bisa mencerna apa maksudku nif,”
Hanif
“Efendi”
Anggara mengeryitkan dahinya.
Hanif
“Efendi tahu aku punya foto website yang bocor itu,”
Anggara
“Jadi maksudmu Komisaris terlibat?”
Hanif diam tak bergeming seolah memberi jawaban iya pada pertanyaan
Anggara. Anggara mendengus bimbang.
Anggara
“Jangan sembarangan buat kesimpulan Nif, bahaya,”
Hanif
“Sama seperti kesimpulan kalian soal kematian Hesti?”
Anggara
“Hei, come on man, jangan kau bawa-bawa kasus itu,”
Anggara mendengus kesal. Hanif ikut mendengus kesal. Keduanya samasama emosi. Anggara terdiam, membuang pandangannya ke sekeliling,
seolah malas melihat wajah Hanif.
Hanif mengambil flashdisk dari saku kemejanya. Menunjukkannya kepada
Anggara. Anggara melihatnya tapi tetap diam karena masih kesal.
Hanif menyodorkan flashdisk itu ke Anggara.
Hanif
(nada emosi tapi berbisik)
“Jangan bilang ini semua tak ada hubungannya dengan kasus Hesti,”
Anggara masih diam. Ekspresinya mulai melunak.
Hanif
“Aku juga sudah lama mengejar mereka. Aku ingin tahu siapa orang
dibalik Kelompok 13,”
Anggara menerima flashdisk dari tangan Hanif. Anggara memandangnya
dengan tatapan yang seolah kosong. Hanif berdiri dan dengan gerakan
cepat merebut kembali flashdisk dari tangan Anggara. Ia masukkan
kembali flashdisk ke dalam saku kemejanya. Anggara bingung
melihatnya. Hanif tersenyum, ia tepuk pundak Anggara sebelum
berlalu.
Hanif
(menghela nafas)
“Kita cari dalang di balik semua ini sama-sama. Untuk sementara ini,
hanya kau yang bisa kupercaya,”
42
Hanif melangkah menuju ke kerumunan orang-orang yang ada di depan
teras kantor. Anggara agak lama terdiam, lalu kemudian menyusul
langkah Hanif. Suasana kantor redaksi Kantor Post malam itu ramai
oleh jejeran mobil polisi dan ambulance yang lampu sirinenya menyala
tanpa bunyi. Malam semakin larut…… (FADE OUT)
CUT TO
SCENE 18
EXT/INT. MONTASE
Scene ini menampilkan montase pemberitaan penembakan kantor redaksi
Kota Post di televisi. Beberapa televisi menayangkan berita tersebut
dan diselingi dengan pemberitaan soal kampanye Rendra Sasmito yang
akan menjadi walikota. Selain itu berita tentang kebakaran di sebuah
gudang juga. Montase ini menayangkan suasana kota dan presenter TV
lokal.
SCENE 19
EXT/INT. KANTOR PARLEMEN
PAGI MENJELANG SIANG
INT. Di dalam sebuah ruangan yang mewah dan berkelas, penuh dengan
orang-orang berpakaian rapi yang sepertinya sedang membahas sesuatu.
Mereka duduk di meja tamu yang tersedia disana.
Rendra Sasmito, Tuan Dewan, berdiri di dekat jendela. Ruangan itu
ada di lantai atas, sehingga pemandangan di luar parkiran tampak
terlihat. Rendra diam seolah memikirkan sesuatu.
Seorang pria muda, yang merupakan Anak Buah Rendra mendekatinya
tampak memanggil Rendra dengan takut-takut.
Anak Buah Rendra
“Maaf pak,”
Rendra tak bergeming seolah asyik dengan pikirannya sendiri. Anak
Buah Rendra itu akhirnya menepuk lengan Rendra dengan sopan dan
hati-hati. Rendra terkejut dan menatapnya kesal. Anak Buah Rendra
tampak salah tingkah.
Anak Buah Rendra
“Maaf pak, ada tamu di luar,”
Rendra
(nada kesal)
“Siapa?”
Anak Buah Rendra
“Resepsionis sudah bilang bapak sedang rapat, tapi mereka bilang
soal…”
Orang-orang yang ada di ruangan Rendra tampak terlihat penasaran dan
seolah menguping pembicaraan antara Rendra dan anak buahnya itu.
43
Anak Buah Rendra mendekat dan berbisik sesuatu pada Rendra. Rendra
mengeryitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan anak buahnya itu.
Ia lalu menatap orang-orang yang ada di ruangannya.
Rendra
“Kalian boleh pergi, kita tunda dulu rapatnya,”
Rendra berjalan ke arah mejanya. Sementara orang-orang akhirnya ikut
beranjak keluar. Rendra sempat menyuruh anak buahnya tadi untuk
memanggil tamunya masuk.
Rendra
“Persilahkan tamunya masuk,”
Anak Buah Rendra
“Baik pak,”
Rendra masih berdiri di dekat mejanya. Ketika masuk dua orang tamu
ke ruangannya. Kedua tamu itu adalah Josi dan Troy. Tanpa
dipersilahkan, Josi dan Troy duduk di sofa tamu. Rendra menghampiri
mereka.
Rendra
“Kota ini benar-benar kacau,”
Josi tersenyum kecut. Mengambil cerutu dari dari tas kecil yang
dibawanya. Ia menyulutnya.
Rendra
“Apakah semuanya baik-baik saja?”
Josi
(menghembuskan asap cerutunya)
“Tenanglah, kau akan baik-baik saja,”
Rendra menunduk melihat lantai, seolah berpikir sesuatu. Troy
menatapnya dengan dingin. Rendra kembali menatap Josi.
Rendra
“Apa penembakan kantor Kota Post ada hubungannya dengan kita?”
Josi masih menghisap cerutunya dengan tenang. Ia tertawa kecil
mendengar pertanyaan Rendra.
Josi
“Hahaha, Bukan kita. Itu urusan kami,”
Rendra tersenyum kecut.
Josi
“Kami kesini mau menjengukmu. Yang Utama minta kau fokus pada
kampanyemu mendatang. Yang lain urusan kami,”
Rendra
“Aku takut kacaunya kota ini akan merembet ke munculnya namaku,”
44
Josi
“Hahaha, tenanglah kawan. Yang kita butuhkan hanya membolak-balik
opini orang. Manusia terlalu mudah ditebak, kami punya algoritmanya,
apa kau masih tak yakin?”
Rendra
“Bukan itu maksudku,”
Josi
“Tenanglah, kami hanya minta kau melakukan apa yang sudah kami atur.
Kau masih mau jadi walikota kan?”
Rendra tersenyum kecut, ia membuang pandangannya ke atas. Josi
mencodongkan tubuhnya. Ia memanggil Rendra.
Josi
“Dengarkan aku. Tiga hari lagi, incamben akan ditangkap kejaksaan.
Aku minta saat itu kau sembunyi sebentar, sementara kami set
kampanye hitam tentangnya,”
Rendra
“Maksudmu?”
Josi
“Yang Utama percaya, kau bakal jadi walikota yang baik bagi kami.
Kami akan membuatmu tak punya musuh politik dalam pemilihan nanti,”
Rendra tersenyum kecut, ia menatap Troy. Troy masih tetap diam dan
dingin tak bicara sepatah kata pun. Hal itu membuat Rendra tersenyum
kikuk. Ketiganya tampak diam dengan pikirannya masing-masing.
CUT TO
SCENE 20
EXT/INT. JALANAN
SORE
EXT. Di sebuah gang di pinggir jalan raya, Hanif tampak berdiri
menunggu seseorang. Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil sedan
berwarna hitam menghampirinya, parkir agak menjorok ke depan. Hanif
langsung mengikuti mobil itu, dan masuk ke dalam mobil.
INT. DI DALAM MOBIL – Di dalam mobil itu, Anggara duduk di belakang
kemudi. Ia sendirian. Hanif menganggukkan kepalanya ketika ia baru
masuk dan menutup pintu mobil. Hanif membalasnya.
Hanif
“Mau kemana kita?”
Anggara
“Aku punya kenalan ahli cyber. Kalau memang isi flashdisk itu
penting, kurasa kita perlu tempat yang aman untuk membukanya kan?”
Hanif
(mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju)
“Ya, kau benar,”
45
EXT. Mobil sedan melaju. (OUT FRAME)
CUT TO
SCENE 21
EXT/INT. RUMAH SEILA
SORE
EXT. Rumah itu berada di pinggir jalan raya. Sangat tertutup dengan
pagar sangat tinggi. Mobil sedan hitam milik Anggara masuk ke
halamannya. Anggara keluar dari pintu kemudi, disusul oleh Hanif
yang ikut keluar. Mereka berjalan masuk ke teras.
Di teras, berdiri seorang perempuan muda yang cantik berumur 20an.
Perempuan cantik itu adalah Seila. Mengenakan baju tanpa lengan
dengan rambut yang diikat asal dan berkacamata.
Seila tersenyum kepada Anggara. Anggara membalasnya. Hanif ikut
tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda salam. Seila
membalasnya.
Seila
“Mana yang katamu penting itu?”
Anggara menoleh ke Hanif. Hanif paham, dan segera mengeluarkan
flashdisk dari dalam saku kemejanya. Ia menyerahkannya kepada Seila.
Hanif
“Ini,”
Seila menerima flashdisk itu. Melihatnya dengan bingung.
Seila
“Apa sampai perlu bantuanku untuk membuka ini?”
Anggara tersenyum kikuk.
Anggara
“Kami butuh PC yang aman untuk membukanya, barangkali flashdisk itu
tak bisa dibuka karena terenskripsi, jadi ya, jelas kami butuh
bantuanmu,”
Seila mengangguk pelan. Lalu beranjak masuk, mengajak Anggara dan
Hanif untuk mengikutinya.
Seila
“Ayo masuk,”
INT. Di dalam rumah, Seila berjalan duluan, disusul Hanif dan
Anggara yang jalan berdampingan. Anggara sempat berbisik pada Hanif.
Anggara
“Namanya Seila, dia orang yang selama ini bantu kepolisian untuk
hal-hal diluar kemampuan kami,”
46
Hanif
(tersenyum sinis)
“Kapan kepolisian pernah mampu soal beginian,”
Anggara tersenyum kikuk, meskipun sedikit tersinggung.
INTERCUT
INT. Seila, Anggara dan Hanif masuk ke sebuah ruangan yang penuh
dengan perlengkapan komputer canggih. Tampak 4 layar monitor besar
yang saling terhubung menempel di tembok menampilkan bahasa coding
dan matrix yang aneh. Sementara di bawahnya, sebuah meja dengan PC
yang tampak ditumpuk empat buah, sementara di sisi satunya sebuah
rak besar berisikan peralatan-peralatan digital yang sangat canggih.
Ruangan itu sangat dingin karena ada sekitar empat buah AC yang
menyala dengan suhu paling minus.
Hanif langsung kedingingan. Ia mengusap-usap lengannya sendiri.
Seila yang melihat itu tersenyum geli. Sementara Anggara terlihat
tidak begitu terkejut dengan isi ruangan itu.
Seila
(menatap Hanif di sebelahnya, dan tersenyum senang)
“Aku juga main bitcoin, pikirmu darimana aku bisa punya rumah
semewah ini?”
Hanif mngeryitkan dahinya. Anggara tersenyum kecut. Seila sendiri
seolah tak acuh. Ia langsung duduk di depan meja komputernya.
Diikuti Hanif yang mengambil bangku duduk persis di sebelah Seila.
Sementara Anggara berdiri di belakang mereka. Menghadap layar
monitor.
Seila menancapkan flashdisk ke salah satu PC, ia kemudian membuka
program komputer yang terpampang jelas di layar monitor. Tak berapa
lama, layar monitor Seila dipenuhi ratusan file enskripsi yang aneh.
Sebuah virus.
Seila menoleh ke Anggara di belakangnya.
Seila
“Benar dugaanmu, isinya di-benteng-i,”
Anggara mengangguk setuju. Hanif seolah takjub melihat pemandangan
yang ada di depannya itu.
CU – LAYAR KOMPUTER TERUS DISERANG DENGAN FILE-FILE YANG SALING
TUMPANG TINDIH.
Seila tersenyum. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya seolah
bersiap melakukan sesuatu.
Seila
(senyum sinis melihat layar komputer)
“Amatir,”
Seila lalu menepuk-nepuk PC nya dengan lembut. Ia seolah bicara pada
PC nya.
47
Seila
“Lets do it, beb,”
Seila lalu berkutat dengan komputernya. Hanif dan Anggara diam
melihat, menikmati dirinya sebagai penonton. Sementara Seila sibuk
dengan mengetik sesuatu di komputernya, ia mengajak bicara Hanif.
Seila
(menoleh ke Hanif)
“Ngomong-ngomong, kamu siapa?”
Hanif
“Hanif, anak dari Kota Post,”
Seila
(manggut-manggut sambil terus sibuk dengan komputernya)
“Ohh,,tadi malam kantormu diteror ya?
Hanif
“Lebih dari teror kalau kamu dengar beritanya,”
Seila tertawa kecil sambil manggut-manggut.
Seila
“Ya,,ya, aku lihat di TV tadi,”
Hanif
“Dan aku akan berterima kasih kalau kau bisa bantu kami buka isi
flashdisk itu,”
Seila menoleh ke Hanif. Tersenyum. Tangannya menekan tombol ENTER di
keybord komputer.
CU – LAYAR KOMPUTER MENAMPILKAN RATUSAN FOLDER-FOLDER DENGAN KODE
ANGKA DAN HURUF
Seila
“Sudah, berterima kasih-lah sekarang,”
Hanif tersenyum senang. Ia langsung menoleh ke layar komputer. Seila
tersenyum puas karena berhasil. Sementara Anggara tanpa
sepengetahuan Hanif dan Seila mengeluarkan handphone model lawas
dari saku jaket kulitnya.
Hanif agak mendekat ke layar monitor. Matanya tertuju pada satu
folder bernama RS FILE.01. Hanif meminta Seila membuka file itu.
Hanif
“Apa kau bisa buka itu?”
Seila
“Bukalah sendiri, silahkan. Aku tak terlalu mau tahu urusan orang.
Tugasku sampai disini saja,”
48
Seila berdiri. Memberikan kursinya kepada Hanif. Hanif langsung
bergeser tempat duduk. Tangan Hanif mulai memainkan mouse komputer
dan membuka file yang ia maksud tadi.
CU – FILE TERBUKA DI DALAMNYA TERPAMPANG JELAS FOTO, VIDEO, DAN
DOKUMEN TENTANG RENDRA SASMITO. TERMASUK ADA FOLDER BERTULISKAN
“TARGET HESTI”
Hanif menoleh ke belakang, ketika persis moncong pistol Anggara
diarahkan tepat ke dahi Hanif oleh Anggara. Hanif bingung. Anggara
tersenyum sinis. Anggara menoleh ke Seila yang juga ikut bingung.
Hanif
(berusaha tetap tenang)
“Jangan bercanda pak,”
Anggara masih tersenyum dingin dan sinis. Ia memberi isyarat dengan
pistolnya agar Hanif pindah kembali duduk di kursi sebelumnya.
Anggara menoleh ke Seila dan memberi isyarat dengan anggukan kepala
agar Seila duduk di kursinya lagi. Seila tampak ketakutan.
Anggara
“Peluru lebih cepat dari kalian jika mau macam-macam, jadi aku minta
kalian diam,”
Seila
(membentak)
“Ada apa ini?”
Anggara
(tersenyum sinis)
“Sayangnya kau tak pernah bisa dikendalikan,”
DOORR – PISTOL MELETUS
Seila tertembak. Ia tak sempat menjerit. Seila langsung terjatuh,
kepalanya berada di atas keyboard komputer. Darah dari kepala Seila
menyebar dengan cepat. Seila Mati dalam keadaan duduk dan kepalanya
menghadap Hanif. Hanif langsung mundur dan berteriak.
Hanif
“HEI, APA INI? KENAPA KAU INI?”
Anggara menatap tajam ke Hanif.
Anggara
“Ssstt, duduklah diam, ada yang mau bicara denganmu,”
Anggara meletakkan handphone model lawas di atas meja. Ia masih
mengacungkan pistolnya ke arah Hanif. Hanif menoleh bingung ke arah
handphone. Hanif mendelik ke arah Anggara. Ia masih syok melihat
Seila tertembak.
CU – DRRT…DRRTTT….HANDPHONE BERDERING. TELEPON MASUK
49
Hanif melihat ke arah handphone dengan bingung. Ia menoleh ke
Anggara seolah memberi isyarat bertanya. Anggara hanya merespon
dengan kepalanya agar Hanif menjawab telepon itu.
Hanif mengambil handphone dengan khawatir. Ia menoleh ke Anggara
lagi. Handphone masih berdering. Anggara sekali lagi memberi isyarat
dengan kepalanya agar Hanif segera menjawab telepon. Hanif akhirnya
menekan tombol jawab di hanpdhone dan menempelkan handphone di
telinga.
KLIK – SUARA TELEPON DIANGKAT.
Hanif agak lama terdiam. Di seberang juga tak terdengar suara. Hanif
lalu memberanikan diri memulai percakapan.
Hanif
“Halo, dengan Hanif disini,”
Hanif menoleh ke Anggara yang masih mengacungkan pistol ke arah
kepalanya. Suara di seberang menjawab Hanif dengan tenang.
Yang Utama (S.O)
“Hanif, Hanif…Menyenangkan akhirnya bisa bicara dengan orang yang
pantas diajak bicara,”
Hanif
“Siapa kau? Ada apa ini? Apa Maumu?”
Yang Utama (S.O)
“Kau orang yang terlalu pandai untuk berada di kota kecil ini,
sayang sekali,”
Hanif
“Berhentilah meracau, siapa kau?”
Yang Utama (S.O)
“Hahaha, tidak penting siapa aku. Aku bisa dipanggil siapa saja,
orang-orang yang mengenalku, terlalu memberi banyak sebutan
untukku,”
Hanif menoleh ke Anggara. Anggara hanya diam, masih mengacungkan
pistol ke kepala Hanif.
Hanif
“Baiklah, apa yang kau mau dariku?”
Yang Utama (S.O)
“Tidak ada,”
Hanif
“Lalu apa ini, apa yang hendak kau tunjukkan sebenarnya?”
Yang Utama (S.O)
“Pertunjukan Hanif, pertunjukan…”
Hanif mengeryitkan dahinya.
50
Hanif
“Apa kau bagian dari Kelompok 13?”
Yang Utama (S.O)
“Hahaha, ayolah, kau harusnya lebih pintar dari ini. Aku sudah lama
mengawasimu. Apa yang kau pikir soal Kelompok 13 atau apapun
sebutannya, itu hanya bagian kecil dari apa yang mungkin tak akan
pernah kau ketahui,”
Hanif semakin bingung. Ia menoleh ke Anggara mencoba menganalisa
dengan cepat apa yang sebenarnya sedang ia alami.
Yang Utama (S.O)
“Katakan kepadaku, apa yang ingin kau ketahui?” bertanyalah..”
Hanif
“Terus terang, aku masih belum mengerti ada apa ini?”
Yang Utama (S.O)
“Maka bertanyalah. Karena dengan bertanya kau bisa menjadi manusia
yang sebenarnya. Bukankah itu yang membuatmu bisa sampai sejauh ini.
Karena terlalu banyak pertanyaan dalam kepalamu? Bukankah begitu
Hanif?”
Hanif
“Jangan gila, bicaralah yang jelas!”
Yang Utama (S.O)
“Bertanyalah. Kau seorang jurnalis kan? Apa kau sudah kehilangan
rasa ingin tahumu. Ayolah Hanif, bertanyalah, aku akan menjawabnya.
Atau kau mau mati saja langsung, tanpa menuntaskan rasa ingin
tahumu?”
Hanif diam.
Yang Utama (S.O)
“Kelompok 13, atau apapun sebutanmu untuk itu, bukanlah sesuatu yang
nyata. Mereka ada, tapi mereka juga tidak ada. Kotamu hanya bagian
kecil dari rencana kami, yang kebetulan tidak berjalan dengan
lancar. Aku tebak kau pun sudah mengetahui siapa itu Kelompok 13?”
Hanif
“Josi Hermansyah?”
Yang Utama (S.O)
“Ya, Josi, orang yang menarik dan ambisius, sangat temperamen.
Kecerobohannya sejak awal membuat kami harus merubah rencana,”
Hanif
“Jelaskan padaku, siapa kami yang kau maksud?”
Yang Utama (S.O)
“Nah, ini dia Hanif yang sebenarnya, khas jurnalis, hahaha,”
51
Hanif
“Berhentilah bertele-tele!”
Yang Utama (S.O)
“Ya…ya, aku akan ceritakan padamu dari mana kekacauan ini bisa
bermula,”
Hanif diam, mencoba mendengarkan apa yang akan diceritakan Yang
Utama. Ia sempat melirik ke arah Anggara, yang masih mengacungkan
pistolnya.
CUT TO
SCENE 22
MONTASE KEHANCURAN K 13
Scene ini menggambarkan berakhirnya K 13 dibawah kepemimpinan Josi
yang diceritakan oleh Yang Utama kepada Hanif melalui telepon. Ada
beberapa lokasi dan karakter anggota K 13 yang ditampilkan. Montase
diantar oleh suara Yang Utama sebagai narasi.
MONTASE 1
Scene ini diawali dengan gambaran atas ketergantuang orang-orang
terhadap gadget dan media sosial. Termasuk betapa cepatnya hoax
dapat mempengaruhi mereka. Mulai dari adegan orang di kantoran,
sekolah sampai ibu rumah tangga yang terpengaruh atas hoax
digambarkan menjadi montase yang tunggal. Hoax yang jadi plot
utamanya adalah berita kematian Hesti.
NARASI YANG UTAMA (S.O)
“Manusia saat ini, terlalu mudah ditebak. Makhluk sosial yang benarbenar tergantung pada pola pikir yang pragmatis. Semuanya mau serba
praktis dan tidak rumit. Mereka tak punya kontrol untuk mencari
kebenaran dan kenyataan yang tidak mau mereka akui. Mereka hanya
tahu, bahwa apa yang mereka percayai dan mereka lakukan sudah benar.
Kehadiran teknologi yang mampu mewadahi eksitensi manusia melalui
media sosial, seperti virus dan candu sekaligus bagi mereka. Betapa
cepatnya keyakinan bisa dikontrol hanya melalui satu klik saja
membuat mereka lupa untuk bertanya soal kebenaran,”
“Kami ada karena sebenarnya mereka butuh kami. Mereka butuh untuk
mempercayai sesuatu. Itulah kenapa kami menyediakan apa yang akan
mereka yakini untuk mengontrol rasa ingin tahu yang berlebihan.
Kematian model cantik itu adalah kesalahan fatal dari cara Josi dan
kelompoknya dalam menerjemahkan perintah kami. Saat foto kematiannya
bocor, adalah saat kami menyadari bahwa Josi dan komplotannya sudah
harus disingkirkan,”
“Kotamu adalah bagian kecil dari rencana besar kami untuk
mempertahankan keseimbangan di negeri yang kacau ini. Bukankah
“balance” adalah pokok dari persoalan hidup kita selama ini. Baik
dan jahat, gelap dan terang, kita tidak tahu ada di sisi mana sampai
kita bisa menyadari keseimbangan itu adalah soal kontrol atas
kekuasaan,”
52
“Kelompok 13 itu hanya pion dari papan catur yang kami buat. Josi
dan komplotannya memang kami beri kekuasaan penuh untuk mengontrol
apapun yang bisa dikontrol dari kotamu. Dan Rendra Sasmito, ya
Rendra adalah laki-laki biasa yang akhirnya harus menerima resiko
untuk memenuhi ambisinya menjadi walikota. Kami hanya menyediakan
mantra untuk membuat itu menjadi kenyataan. Sayangnya, Josi mengacau
dan kami tahu, kami harus menyusun rencana lagi untuk membuatnya
kembali pada rel-nya masing-masing,”
INTERCUT
MONTASE 2
EXT/INT. MARKAS DIKOEN
SIANG
EXT. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahunan mengenakan singlet
dan celana pendek tampak berlari di sebuah daerah kumuh dengan
gedung-gedung tak terawat saling berhadapan. Bocah itu tampak
melewati kerumunan orang-orang tampak asyik berjudi dengan papan dan
sabung ayam.
INT. Di sebuah gedung terlihat tak terawat, Dikoen anggota K 13,
tampak duduk di sofa dengan santai. Di hadapannya kerumunan orangorang tampak asyik bermain judi. Dikoen tampak tertawa-tawa bahagia
melihat orang-orang bermain judi.
EXT. Di sebuah lapangan, yang merupakan area depan markas Dikoen.
Dua mobil polisi baru saja masuk. Mobil pertama adalah sedan,
sedangkan satu mobil komando ukuran besar.
Efendi turun dari mobil pertama. Ia mengenakan rompi anti peluru dan
langsung bersiap dengan pistolnya. Diikuti oleh beberapa orang
polisi berkostum pelindung lengkap dengan senjata mereka masingmasing. Efendi memberi komando, dan semuanya langsung bergerak ke
arah yang ditunjuk Efendi.
INT. Bocah laki-laki berusia 10 tahun yang berlari tadi sudah sampai
di tempat Dikoen. Bocah itu menghampiri seorang laki-laki besar yang
kelihatan seperti bodyguard. Bocah itu membisikkan sesuatu pada
laki-laki itu. Ekspresi laki-laki itu langsung panik, ia langsung
berlari ke Dikoen dengan cepat. Ia membisikkan sesuatu ke Dikoen,
Dikoen mendengar dengan seksama dan ekspresinya terkejut. Dengan
cepat Dikoen berdiri dan beranjak, ia berteriak kepada orang-orang
untuk berhenti berjudi.
Dikoen baru saja beranjak ketika kelompok polisi pimpinan Efendi
sudah masuk dan menggerebek orang-orang di area itu. Suasana
langsung panik, tapi akhirnya Dikoen ditangkap, digelandang ke mobil
polisi.
INTERCUT
MONTASE 3
EXT/INT. TEMPAT HIBURAN
53
INT. Di sebuah tempat hiburan, perempuan-perempuan muda seksi tampak
duduk santai. Orang-orang lalu lalang. Lampu-lampu kelap kelip
menandakan ruangan pesta.
Di salah satu ruangan, seorang perempuan dengan wajah yang garang
dan terlihat seperti pemilik tempat itu, tampak menghitung uang
dengan serakah.
Pintu depan didobrak, polisi dengan kostum pelindung lengkap masuk.
Ia langsung. Suasana langsung menjadi kacau, para perempuan dan
pengunjung tempat itu langsung berlarian, namun langsung diamankan
dan dijatuhkan oleh polisi-polisi itu.
Pintu ruangan pemilik tempat di dobrak. Sang Pemilik dengan
ketakutan langsung mengangkat tangan ketika para polisi masuk ke
ruangannya dan memberi perintah dengan moncong senjata.
Sang Pemilik digelandang polisi. Tangannya diborgol, dikawal oleh
dua orang polisi keluar dari tempat hiburan itu.
INTERCUT
MONTASE 4
EXT/INT. GUDANG NARKOBA
INT. Di sebuah gudang, tampak puluhan pegawai sedang bekerja. Mereka
membungkus tas-tas dan boneka yang ternyata di dalamnya sudah
disusupi narkoba.
Pintu gudang terbuka. Sekelompok polisi dengan kostum pelindung
lengkap menggerebek gudang itu. Suasana menjadi panik.
Seorang pria keturunan tionghoa berpakaian necis, baru saja turun
tangga dari lantai dua gudang tersebut. Sayangnya tak sempat sampai
ke bawah, ia sudah dihadang polisi. Pria itu mengangkat tangannya.
ekspresi pria itu ketakutan.
Pria pemilik gudang diborgol, ia digelandang oleh polisi keluar dari
gudang.
INTERCUT
MONTASE 5
EXT/INT. RUMAH RENDRA SASMITO
INT. Rendra tampak duduk di ruang keluarga. Sementara anak-anaknya
bermain dengan riang di lantai. Istri Rendra menghampiri Rendra dan
memberitahu berita dari media sosial yang dibaca di gadgetnya.
CU – BERITA KEMATIAN HESTI DI GADGET ISTRI RENDRA
Istri Rendra seolah prihatin. Rendra hanya tersenyum kecut dan
membuang pandangannya ke arah lain.
CUT TO
54
SCENE 23
EXT/INT. RUMAH SEILA
BACK TO – ADEGAN HANIF MENERIMA TELEPON DAN DITODONG PISTOL OLEH
ANGGARA
Hanif masih mendengarkan cerita Yang Utama dari telepon. Matanya
melirik ke mayat Seila dan layar komputer yang masih menampilkan
folder RS.FILE.01.
Yang Utama (S.O)
“Dengarkan ini Hanif. Menyenangkan bisa berbicara dengan orang
sepertimu. Saat telepon ini ditutup, kau mungkin sudah mati. Josi
dan komplotannya juga akan hilang, dan Rendra tetap akan jadi
walikota. Dan orang-orang tidak akan peduli seperti biasanya,”
Hanif
“Jangan yakin dulu. Kau mungkin bisa menciptakan chaos dan
mempengaruhi orang-orang dengan mantramu itu. Tapi kebenaran pasti
akan selalu menemukan jalannya,”
Yang Utama (S.O)
“Kau semakin membuatku kagum. Setidaknya kau akan mati tanpa
penasaran lagi kan? Selamat tinggal Hanif. Sampai ketemu di neraka,”
KLIK. BUNYI TELEPON DITUTUP.
Hanif meletakkan handphone di meja. Hanif tahu ia akan ditembak
sebentar lagi. Hanif memejamkan matanya. Bunyi pelatuk peluru pistol
Anggara terdengar, siap menembak. Hanif pasrah.
BRAKK – SUARA PINTU DIDOBRAK.
BUKK – KAYU MENGHANTAM KEPALA ANGGARA.
DOORRR – PISTOL MELETUS
Anggara menjerit. Pistol meletus mengenai layar monitor. Hanif
menghindar dari peluru. Anggara terjatuh dan pingsan. Hanif menoleh
ke belakang, ia melihat Nindy memegang balok kayu sambil terengahengah. Hanif agak bingung.
Nindy
“Tanyanya nanti dulu, sebaiknya kita segera pergi,”
Hanif manggut-manggut. Ia sempat melihat Anggara yang tak bergerak.
Sebelum beranjak keluar, Hanif mencabut flashdisk dari CPU dan pergi
keluar menyusul Nindy.
INTERCUT
EXT. Hanif dan Nindy berlari keluar dari rumah Seila. Di halaman,
sudah terparkir mobil jeep Nindy di sebelah mobil sedan milik
Anggara. Tanpa di-kode, Nindy melempar kunci mobil ke Hanif, Hanif
menangkapnya. Mereka masuk ke mobil dengan cepat.
55
Dari dalam rumah, Anggara tertatih-tatih memegangi kepalanya. Hanif
dan Nindy sudah masuk ke mobil. Mobil menyala dan melaju mundur
dengan cepat. Anggara setengah berlari menembaki mobil itu.
DORR…DORR…- ANGGARA MENEMBAKI MOBIL HANIF DAN NINDY.
Di dalam mobil, Hanif dan Nindy mencoba menghindari peluru yang
menembaki kaca depan. Mobil berhasil keluar halaman, dan langsung
melaju meninggalkan Anggara yang geram sambil menembak membabi buta.
CUT TO
SCENE 24
EXT/INT. JALANAN & DI DALAM MOBIL
MALAM
SNAPSHOT – Suasana jalan raya di perkotaan pada malam hari. Mobilmobil lalu lalang seolah tidak terjadi apa-apa.
EXT. Di salah satu sudut jalanan yang lengang. Mobil jeep yang
ditumpangi Hanif dan Nindy melaju kencang.
INTERCUT
INT. (DI DALAM MOBIL) Hanif duduk dengan tenang di kursi kemudi.
Sementara Nindy di sebelahnya tampak tegang. Hanif menoleh ke arah
Nindy dan tersenyum kecut.
Hanif
“Bagaimana ceritanya kamu bisa sampai menolongku?”
Nindy menatap Hanif dan tersenyum tipis.
Nindy
“Malam setelah aku pulang mengantar Mas Hanif, aku dihubungi anakanak di kontrakan. Mereka menyuruhku untuk tidak pulang. Kata
mereka, ada segerombolan orang mencurigakan yang mencariku,”
Hanif menoleh ke Nindy, mengeryitkan dahinya.
Nindy
“Aku gak berani pulang, jadi aku tidur di mobil semalaman. Aku ragu
awalnya mau minta tolong ke siapa, saat aku dengar kantor mas Hanif
ditembaki orang di tv, aku tahu ada yang tidak beres. Makanya aku ke
rumahmu. Saat aku ngelihat Mas Hanif dijemput mobil item, aku
mutusin untuk ngikutin Mas Hanif,”
Hanif
(tersenyum)
“Keputusan yang tepat ya, hehehe,”
Nindy tersenyum. Merasa ironis.
Nindy
“Apa yang akan kita lakukan sekarang,”
56
Hanif menoleh ke Nindy, tersenyum tenang.
Hanif
“Kita ganti mobil dulu, yang jelas, jika dugaanku benar, orang-orang
dekat Hesti ikut jadi target mereka, termasuk kamu. Tidak aman jika
kita ada di dalam kota,”
Nindy
“Target? Mereka siapa?”
Hanif
“Aku sudah minta tolong temanku, kita tukar mobil sementara lalu
bersembunyi sampai keadaan benar-benar aman untuk kembali, nanti aku
ceritakan, kematian Hesti menyimpan misteri lebih besar dari yang
bisa kita duga,”
Nindy menganggukkan kepalanya. Seolah pasrah. Ia kemudian
menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. Nindy tampak memikirkan
sesuatu. Sementara Hanif di sebelahnya, mengemudi dengan tenang.
INTERCUT
EE – Mobil yang ditumpangi Hanif dan Nindy terlihat menembus lalu
lalang jalanan perkotaaan.
CUT TO
SCENE 25
EXT/INT. LOSMEN PEGUNUNGAN
MALAM
SNAPSHOT – Langit malam begitu gelap. Hanya ada penerangan dari
lampu jalan yang tak seberapa. Jalanan yang naik itu adalah dataran
tinggi sebuah pegunungan. Sebuah mobil sedan kecil tampak melintas
dengan tenang.
EXT. Mobil itu masuk ke halaman sebuah losmen di kaki sebuah
pegunungan. Hanif dan Nindy keluar dari mobil itu. Hanif tampak
memakai jaket dan membawa tas ransel. Sementara Nindy sudah ganti
pakaian dengan celana jeans, kaos dan jaket. Mereka berjalan masuk
ke dalam losmen.
INT. Sampai di lobi. Hanif meminta Nindy menunggu, sementara ia
menuju resepsionis. Nindy menunggu dengan ekspresi yang terlihat
cemas. Tak berapa lama kemudian, Hanif datang bersama seorang
pegawai hotel. Hanif dan Nindy akhirnya berjalan dengan diantar
pegawai hotel tersebut.
INTERCUT
INT. Pintu kamar hotel terbuka. Hanif dan Nindy masuk. Pegawai hotel
lalu berpamitan dan meninggalkan mereka. Hanif dengan cepat menutup
pintu dan menguncinya. Sementara Nindy masuk dengan takut-takut.
57
Hanif berjalan ke meja kecil dan kursi yang tersedia di dalam kamar.
ia melepas tas ransel dan jaketnya, dan dengan cepat mengeluarkan
laptop dari dalam tas ransel.
Nindy duduk dengan tenang di tepi ranjang yang cuma ada satu. Nindy
melepas jaketnya. Ia hanya bisa melihat Hanif yang mulai sibuk
dengan laptopnya.
Nindy
“Mas,”
Hanif yang sudah menancapkan flashdisk putih pemberian Gugun,
menoleh ke Nindy.
Hanif
“Ya,”
Nindy
“Ceritamu tadi soal Hesti dan Kelompok 13, apa itu benar-benar
terjadi?”
Hanif tersenyum kecil menenangkan Nindy.
Hanif
“Jika melihat kenyataan kita ada disini, dan sama-sama tidak tahu
yang akan terjadi selanjutnya. Ya, aku rasa ini bukan mimpi,”
Nindy ikut tersenyum.
Hanif
“Kamu tidurlah dulu, ada yang musti kulakukan dulu,”
Nindy
“Bagaimana bisa tidur saat seperti ini?”
Hanif tersenyum. Ia melanjutkan memeriksa isi flashdisk di
laptopnya. Nindy ada di belakangnya, duduk di ranjang.
Hanif
“Tak usah berpikir, pejamkan saja matamu,”
Nindy tersenyum ironis. Ia akhirnya merebahkan dirinya di atas
kasur. Mencoba memejamkan matanya. Sementara itu Hanif tampak terus
sibuk dengan laptopnya. Tak lama kemudian Hanif terlihat hanya
memandangi layar laptopnya.
CU – LAYAR LAPTOP HANIF MENAMPILKAN FOTO RENDRA SASMITO TAMPAK MESRA
BERSAMA HESTI.
CUT TO
SCENE 26
EXT/INT. LOSMEN PEGUNUNGAN
PAGI
SNAPSHOT – Suasana menjelang pagi di pegunungan di pinggiran kota.
58
INT. TV di kamar hotel menayangkan sebuah berita tentang penangkapan
besar-besaran anggota K 13. Berita itu dibacakan oleh presenter
perempuan. Montase penangkapan di scene 22 kembali ditampilkan
menjadi latar acara berita.
Presenter TV
“Penggerebekan komplotan diduga sebagai kelompok kejahatan
terorganisir yang melibatkan seorang pengusaha lokal, Josi
Hermansyah memicu baku tembak di salah satu kantor milik Josi
Hermansyah. Belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak kepolisian,
tapi menurut sumber yang terpercaya, Josi menyerah dan tertangkap
dan kini sedang berada di kantor kepolisian untuk dilakukan
penyidikan lebih lanjut. Sementara itu, Komisaris Efendi memastikan,
pihaknya masih mengejar salah satu anggota kelompok tersebut yang
kini kabur dan bersembunyi,”
(di TV Foto Hanif terpampang bersama video lokasi rumah Seila yang
dipasangi garis polisi)

Efendi muncul dalam berita.
Efendi
“Kami sudah pastikan, salah satu anggota kelompok yang menyebut
dirinya Kelompok 13 ini, bernama Hanif, yang merupakan oknum
wartawan dari harian Kota Post. Kami menduga penembakan di kantor
itu sebelumnya ada kaitannya dengan ini, polisi sudah menyebar dan
mencari keberadaannya,”
Presenter TV
“Hanif Abdillah, oknum wartawan Kota Post yang diduga kuat merupakan
anggota kelompok yang menyebut diri mereka Kelompok 13 ini, sebelum
menghilang juga diduga menembak salah satu rekannya yang merupakan
ahli IT. Menurut sumber yang terpercaya, Kelompok 13 banyak terlibat
dalam aksi kejahatan dan konspirasi yang melibatkan perangkat cyber
dan para pelaku kriminal lokal. Beralih ke berita selanjutnya,
sementara itu dari kancah politik lokal, Rendra Sasmito sudah
dipastikan mencalonkan diri menjadi walikota. Belum ada kejelasan
siapa yang akan menjadi pendampingnya. Namun, siapapun yang akan
menjadi pendamping Rendra, ia dipastikan menjadi calon paling kuat
untuk menjadi walikota, mengingat penangkapan Karminto, incamben
yang terlibat dalam kasus korupsi dan suap, bla..bla..bla…”
Nindy terbangun dari tidurnya. Ia melihat Hanif duduk di tepi
ranjang sambil melihat TV. Nindy lalu bangun dan duduk di sebelah
Hanif. Hanif menatap Nindy dengan cemas.
Hanif
“Sepertinya kita tak bisa berlama-lama lagi disini,”
Nindy
“Ada apa?”
Hanif menyerahkan gadgetnya ke Nindy. Nindy menerimanya dan melihat
ke layar gadget, dimana tertera website yang memberitakan bahwa
Hanif adalah seorang buronan lengkap dengan fotonya.
59
CU – LAYAR GADGET HANIF, WEBSITE BERITA TENTANG HANIF ADALAH
BURONAN.
Hanif beranjak dari duduknya. Menatap ke Nindy. Nindy membalas
menatap Hanif dengan ekspresi yang cemas.
Nindy
“Apa yang kita lakukan sekarang?”
Hanif
“Aku akan kembali ke kota. Menyerahkan diriku ke polisi,”
Nindy terbelalak kaget.
Nindy
“Mas Hanif bodoh atau gimana sih? Kemarin kamu cerita kalau
kepolisian juga sudah disusupi! Mas Hanif malah cari mati!”
Hanif tersenyum kecut mendengar Nindy. Ia lalu duduk di sebelah
Nindy.
Hanif
“Dengarkan aku, mereka tidak menyebut namamu sama sekali. Kamu harus
pergi sejauh-jauhnya dan bersembunyi sampai semuanya aman,”
Nindy
“Aku harus kemana?”
Hanif lalu mengambil tas ransel yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Ia mengeluarkan kertas dan bulpen. Dengan cepat menulis sesuatu.
Setelah itu ia menyerahkan kertas kepada Nindy. Nindy menerimanya
dengan bingung. Hanif tersenyum, lalu mengeluarkan dompetnya dari
saku celana, lalu mengambil kartu ATM dari dalam dompet dan
menyerahkannya ke Nindy.
Hanif
“Pergi sejauh-jauhnya. Bawa mobil sampai ke ujung pulau, lalu naik
kapal yang paling cepat untuk menyeberang. Tinggalkan mobilnya di
pelabuhan. Nanti biar temanku yang ambil,”
Nindy
(mulai cemas)
“Mas, aku gak mau, aku takut,”
Hanif
“Dengerin aku Nindy, aku minta tolong. Ada uang di ATM-ku, kirim
separuhnya untuk ibuku,sisanya kau gunakan selama bersembunyi. Itu
nomor rekeningnya sudah kutulis,”
Nindy
(panik dan cemas)
“Bagaimana dengan kamu? Apa kamu akan nyerahin diri gitu aja? Lebih
baik kita pergi bareng mas, jemput ibumu dulu,”
60
Hanif
“Gak semudah itu, Nindy. Yang kita hadapi bukan orang biasa. Aku
tahu itu. Kematian Hesti menjadi bukti bahwa tidak semua yang ada di
media sosial adalah fakta. Setidaknya kamu bisa belajar hal itu
sekarang,”
Nindy
“Aku takut mas,”
Hanif memeluk Nindy. Mencium keningnya. Nindy diam saja, seolah suka
dicium oleh Hanif.
Hanif
“Aku gak akan menyerah begitu saja. Percayalah, buatlah email
anonim, yang gampang, nanti kirim sms ke aku. Kalau aku bisa
selamat, aku akan segera mencarimu,”
Nindy semakin larut dalam pelukan Hanif. Ia menyandarkan kepalanya
di pundak Hanif. Sementara televisi masih menyiarkan berita tentang
Rendra Sasmito.
CUT TO
SCENE 27
EXT/INT. MARKAS KEPOLISIAN – RUANG INTEROGASI
SIANG
INT. Josi tampak duduk di sebuah kursi dan bersandar dengan tenang.
Di depannya sebuah meja besar persegi panjang. Tangannya di borgol
dan dikaitkan di salah satu sisi meja itu. Josi mengenakan pakaian
tahanan berwarna oranye. Ia tampak tenang meskipun rambutnya acakacakan. Lampu sorot kecil diarahkan ke wajahnya.
BRAKK – PINTU TERBUKA DENGAN KERAS, EFENDI MASUK KE RUANGAN.
Efendi masuk dan membawa berkas. Ia langsung melempar berkas itu ke
meja. Josi melihatnya dan tersenyum sinis. Efendi berdiri di hadapan
Josi.
Efendi
“Aku gak mau bertele-tele. Katakan siapa lagi yang terlibat dalam
kematian orang-orang ini,”
Tangan Efendi menunjuk berkas yang dibukanya. Josi melirik sebentar.
CU – ISI BERKAS ADALAH FOTO JENAZAH ROMLI, GUGUN, JIMI DAN BEBERAPA
JENAZAH YANG TAK DIKENAL YANG MERUPAKAN ANAK BUAH JIMI.
Efendi
“Butuh waktu agak lama untuk menyadari bahwa kalian pasti terkait
untuk sesuatu yang lebih besar,”
Josi hanya mendongakkan kepalanya seolah menantang Efendi. Ia hanya
tersenyum sinis.
61
Efendi
“Mau minta tolong siapa kau kali ini?”
Josi mencodongkan badannya. Tangannya mengusap-usap hidungnya. Agak
kesulitan karena borgol yang dikenakannya. Ia lalu menoleh ke
Efendi.
Josi
(tertawa kecil)
“Hahaha, kita semua sudah dibodohi,”
Efendi mengeyitkan dahinya. Ia memukul meja.
Efendi
“Berhenti main-main dengan aparat,”
Josi
“Main-main? Siapa yang main-main sekarang? Kita semua hanya
mainannya sekarang,”
KREEKK – PINTU TERBUKA PELAN. SEORANG PETUGAS POLISI BERSERAGAM
MASUK.
Efendi menoleh ke petugas tersebut. Petugas itu menghampirinya dan
berbisik sesuatu pada Efendi.
Petugas
(nada pelan)
“Ijin pak, seorang bernama Hanif minta bicara sama bapak di
telepon?”
Efendi tersenyum sumringah. Ia menoleh ke Josi yang terlihat
menguping pembicaraan petugas tadi.
Efendi
“Habis kau sebentar lagi,”
Josi tersenyum sinis. Efendi langsung beranjak keluar diikuti
petugas tadi. Sampai di pintu, Anggara masuk dan memberi hormat
kepada Efendi. Efendi sempat berhenti dan memberi perintah kepada
Anggara seraya menoleh ke Josi.
Efendi
“Urus dia, bawa ke sel dulu,”
Anggara
“Siap pak,”
Efendi beranjak pergi bersama petugas. Anggara masuk dan menghampiri
Josi. Agak lama Josi dan Anggara saling berpandangan. Anggara
kemudian menunduk dan membisikkan sesuatu ke Josi. Ia juga
menyerahkan bungkusan seperti plastik obat yang ia pegang kepada
Josi.
62
Anggara
“Ada salam dari Yang Utama, waktunya bersih-bersih atau kau pergi
sendiri,”
Josi menerima plastik obat dan menggenggamnya. Ekspresi wajahnya
pucat, ketakutan.
INTERCUT
INT. RUANGAN EFENDI
Efendi masuk ke dalam ruangannya. Mengambil gagang telepon yang
tergeletak di mejanya.
Efendi
“Halo,”
Hanif
“Halo, pak…dengarkan aku. Waktuku tidak banyak. Aku bukan anggota
Kelompok 13 seperti yang anda duga. Percayalah, aku punya bukti yang
melibatkan Rendra Sasmito,”
Efendi
“Berhentilah ngaco, kau sudah tak bisa berbuat apa-apa sekarang,
sebaiknya segera serahkan dirimu ke polisi,”
Hanif
“Kau pikir kenapa aku punya keberanian untuk meneleponmu sekarang.
Aku dijebak. Ini lebih besar dari yang kau duga,”
Efendi
“Apa maumu?”
Hanif
“Temui aku sendirian. Jangan ajak siapapun. Anggara ikut terlibat,
dia yang menembak Seila, bukan aku. Nanti aku akan berikan bukti
yang akan menjadi titik terang dari semua kekacauan ini,”
Efendi diam seperti berpikir sesuatu.
Hanif
“Gunakan insting anda. aku pasti akan serahkan diri ke polisi,
karena memang tak ada pilihan lagi. Tapi setidaknya, bawa bukti ini
sebagai kebenaran dan anda tidak akan merasa bersalah karena salah
tangkap. Temui aku di gedung PT AB yang tak terpakai satu jam lagi,
kalau anda tidak datang, berarti anda memang tak peduli pada
kebenarannya,”
KLIK – SUARA TELEPON DITUTUP.
Efendi meletakkan gagang telepon dan diam seperti merenungi sesuatu.
Seorang petugas berseragam masuk dengan panik ke ruangan Efendi.
Efendi terkejut.
Petugas
63
“Lapor pak, tahanan atas nama Josi Hermansyah kejang-kejang di dalam
sel,”
Ekspresi Efendi terkejut. Ia langsung beranjak pergi bersama petugas
dengan langkah cepat.
CUT TO
SCENE 28
INT. MARKAS KEPOLISIAN / SEL TAHANAN
INT. (SLOW MOTION) Di dalam sel tahanan, para petugas polisi dan
forensik berkumpul. Sementara Josi tampak terkapar mati bersandar di
tembok sel. Para tahanan yang lainnya berdiri di sisi kanan dengan
takut-takut, mereka kemudian diminta keluar oleh salah satu petugas.
Efendi berdiri dan melihat jenazah Josi yang dipotret oleh
fotografer forensik. Efendi melihat kanan kiri, seolah mencari
keberadaan Anggara. Ia seperti menyadari sesuatu, lalu beranjak
pergi (OUT FRAME)
EXT. Dari luar markas kepolisian, Efendi tampak keluar dari dalam
markas. Ia berlari menuju mobilnya dengan bergegas. Setelah atret
dengan cepat mobilnya melaju keluar markas kepolisian.
CUT TO
SCENE 29
EXT/INT. GEDUNG KOSONG / ATAP
SORE
EXT. Gedung kosong milik PT AB adalah bangunan yang belum jadi.
Terletak di pinggiran kota. Belum ada tembok sehingga terlihat anak
tangga yang menuju ke atas gedung tersebut.
INT. Efendi membuka pintu yang menghubungkan bagian dalam gedung ke
atas gedung yang tidak tertutup. Efendi berjalan cepat seolah
mencari seseorang. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan
Hanif.
Tanpa disadari Efendi, Hanif yang ternyata bersembunyi di dekat
pintu penghubung, keluar dan mendekat ke arah Efendi. Ia berteriak
memanggil Efendi.
Hanif
“Pak Efendi?”
Efendi menoleh dan menatap tajam ke Hanif. Hanif terlihat membawa
amplop cokelat berukuran sedang. Efendi langsung menarik pistol dari
sabuk pistolnya dan mengarahkannya ke Hanif.
Efendi
“Berhenti disana!”
Hanif terkejut. Tapi kemudian ia dengan tenang mengangkat kedua
tangannya seolah menjadi isyarat bahwa ia menyerah dan pasrah.
64
Efendi
“Apa itu?”
Hanif
“Ini yang kau butuhkan untuk memecahkan semua kasus ini pak!”
Efendi
“Lempar kemari, aku bilang jangan mendekat!”
Hanif
“Ok..OK!!
Hanif melempar amplop yang dipegangnya ke tengah, diantara ia dan
Efendi berdiri. Hanif masih mengangkat kedua tangannya. Efendi
mendekat dan mengambil amplop tersebut. Pistolnya masih diarahkan ke
Hanif.
Efendi membuka amplop itu, namun matanya tetap awas menatap Hanif.
Ia membuang isi amplop itu ke bawah kakinya dengan satu tangan.
Sementara ia masih mengacungkan pistolnya ke Hanif. Hanif tampak
diam tak bergeming takut salah langkah.
CU – FOTO RENDRA SASMITO DAN HESTI TAMPAK MESRA UKURAN 10R
BERSERAKAN DI LANTAI.
Efendi melihatnya sambil terus waspada ke arah Hanif. Efendi agak
bingung dan terkejut lalu menoleh ke Hanif.
Hanif
“Itu satu-satunya bukti, bahwa tidak hanya Josi dan Anggara yang
terlibat dalam semua kekacauan ini!”
Efendi masih mencerna apa yang dilihatnya.
Hanif
“Anda benar pak, ini lebih besar dari kita duga selama ini. Ada
orang dibalik semua ini, kita semua hanya pion dari kekacauan yang
disebabkan hoax dan berita bohong di media sosial,”
Efendi diam, menatap tajam ke Hanif sambil memikirkan sesuatu. Hanif
mendekat pelan-pelan.
Hanif
“Dimana Anggara sekarang?”
DORR!!! DORR!!! – SUARA TEMBAKAN DARI ARAH PINTU MENGARAH KE EFENDI
DAN HANIF
Efendi dan Hanif langsung panik. Efendi membalas tembakan. Rupanya
yang menembak adalah Anggara dan Troy. Hanif langsung berlari
diantara terjangan peluru yang tidak mengenainya. Ia sempat menunduk
dan mengambil foto-foto itu. Efendi berusaha melindungi Hanif dan
memberi tembakan balasan ke arah Anggara dan Troy yang menembak
sambil bersembunyi.
65
Hanif dan Efendi berusaha lari ke arah tembok yang bisa digunakan
sebagai tempat sembunyi. Efendi duduk selonjor sementara Hanif di
sebelahnya terengah-engah menghindari peluru.
Anggara dan Troy menembak ke arah Efendi dan Hanif. Sementara
sesekali Efendi membalas tembakan tersebut. Nafas Efendi terengahengah.
Efendi
“Hei berhenti! Brengsek kau Anggara! Sial!”
DORR!!! DORR!!! – TEMBAKAN MELETUS TEPAT DISAMPING EFENDI.
Efendi terengah-engah. Hanif menoleh ke arahnya dengan panik. Ia
melihat ke perut Efendi. Efendi tampak tertembak di bagian perutnya.
Tangan kanan Efendi menekan perutnya, ia tersenyum kecut ke Hanif.
Efendi
“Sialan, aku selalu lupa pakai rompiku,”
Hanif
“Kau tak apa-apa?”
Efendi
“Aku pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini, tenanglah,
hhrrghh..pegang ini,”
Efendi menyerahkan pistolnya ke Hanif. Efendi memaksa Hanif memegang
pistol itu dengan mennyorongkannya. Hanif menerimanya dengan
bingung. Sementara Anggara dan Troy terus menembak ke arah mereka.
Hanif lalu membalas tembakan tersebut.
Efendi
“Aku rindu masa dimana teknologi hanya sekedar telepon dan surat
menyurat kalau begini,”
Setelah mengatakan itu Efendi terdiam. Matanya terbuka tapi kaku.
Efendi mati. Hanif yang melihat itu, panik.
Hanif
(menggerakkan tubuh Efendi yang sudah lemas)
“Pak, pak, hei..pak,”
Hanif berkali-kali menghindari tembakan. Ia terus menunduk dan
menekan luka Efendi yang sudah jadi mayat.
Anggara (S.O)
“Hanif!!! Menyerahlah! Tidak ada lagi bisa kau lakukan sekarang!”
Terlihat Anggara menembak ke arah Hanif. Sementara Troy agak jauh di
sebelahnya ikut menembaki Hanif.
Hanif
“Ya, tentu saja,”
66
Hanif menembak lagi ke arah Anggara. Hampir mengenai Troy. Anggara
tersenyum sinis.
Anggara
“Apa yang mau perjuangkan sekarang?”
Hanif
“Kebenaran!”
Anggara terlihat menembak lagi. Kemudian pelurunya habis. Ia mengisi
ulang pelurunya sambil berteriak bicara ke Hanif.
Anggara
(tertawa licik)
“Hahhaa, Jangan naif, jangan konyol Hanif!”
Hanif menembak lagi.
Anggara
“Kami tahu sejak tadi malam kau berusaha memposting foto-foto Rendra
dan Hesti di internet. Kau pikir kami tak bisa mencegahnya!”
Hanif menembak lagi. Anggara membalas tembakan.
Anggara
“Serahkan flashdisknya, atau kau ingin Nindy juga menyusul Hesti dan
teman-temannya yang lain?”
Anggara menembak lagi. Kali ini langsung tiga peluru ia tembakkan.
Hanif
“Apa yang membuatmu berpikir flashdisknya ada padaku sekarang?”
Anggara
“Kami sudah menangkap Nindy. Dia masih hidup sekarang. Atau kau
memang ingin Nindy kami bunuh juga?”
Hanif terdiam. Ia terpojok. Saat menembak, pelurunya sudah habis.
Agak lama baku tembak berhenti. Troy juga kehabisan peluru.
Hanif
“Bermainlah adil. Buang senjata kalian. Ambil flashdisk ini dengan
tangan kalian!”
Anggara terdiam agak lama. Ia melihat ke arah Troy, Troy tersenyum
sinis. Hanif memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Ia
lempar pistolnya. Ia berjalan dengan gagah berani ke arah Anggara
dan Troy.
Hanif
“Tak cukup nyalikah kalian menghadapiku sendirian?!”
Troy keluar sambil meregangkan tubuhnya, seolah bersiap melakukan
pertarungan tangan kosong. Anggara menyusulnya. Mereka saling
berdialog dengan pikiran masing-masing. Anggara dan Troy berjalan
secara terpisah, seolah memberi ruang kepada Hanif di tengah-tengah
67
mereka. Anggara membuang pistolnya. Ia meregangkan tubuh dan
memasang kuda-kuda bersiap menyerang. Troy mengeluarkan palu dari
balik jaket panjangnya.
Hanif
“Setidaknya bunuh aku dengan cara laki-laki,”
Troy tersenyum sinis. Ia kepalkan kedua tanganya sampai berbunyi.
Hanif, Troy dan Anggara saling memasang kuda-kuda.
Anggara
“Hiaahh,”
Anggara menyerang pertama. Ia menendang Hanif. Hanif menghindar, di
belakangnya, Troy mengayunkan palu, Hanif menghindar lagi. Hanif
memukul perut Troy dan secara bersamaan, ia melompat dan menendang
Anggara.
BUK – PUKULAN HANIF MENGENAI PERUT TROY, TROY TERPENTAL MUNDUR.
DEHHPP – TENDANGAN HANIF SAMBIL MELOMPAT MENGENAI PUNGGUNG ANGGARA.
ANGGARA TERLEMPAR.
Troy langsung mengayunkan palunya sekali lagi sambil mendekat, Hanif
menghindar. Terjadi saling tepis pukulan antara Hanif dan Troy
diakhiri dengan tendangan Hanif ke kepala Troy.
BUK, BUK, DEB, WUSSS..
Troy berdarah, ia meludahkan darahnya.
Anggara maju melancarkan serangan. Hanif membalasnya, terjadi saling
pukul yang bergantian. Pertarungan menjadi tidak seimbang karena
Troy dan Anggara mengeroyok Hanif. Beberapa kali Hanif terpukul palu
Troy, tapi Hanif selalu berhasil menjatuhkan keduanya. Dalam satu
frame, Hanif berhasil menjatuhkan palu Troy setelah kakinya dipukul
oleh palu dan membuatnya pincang. Hanif berhasil merebut palu dan
membuangnya jauh dari jangkauan mereka.
Terakhir Hanif mendapat tendangan ke ulu hati dari Anggara, dan
langsung ditambahin dengan pukulan Troy. Hanif terpental mundur.
Hanif
“Arrgh…”
Hanif terbaring di tanah. Ia bangun dan bersandar pada kedua
sikunya. Anggara dan Troy tersenyum sinis dan mendekat ke arah
Hanif. Ketiganya sudah lebam dan berdarah. Hanif meludahkan darahnya
sambil ikut tersenyum sinis dan mulai tertawa.
Hanif
“Hahaha,”
Anggara
“Apa yang lucu?”
68
Hanif
“Tidak ada, hahaha..”
Tak jauh dari Hanif, ada pistol milik Anggara yang tadi sempat
dilempar. Anggara dan Troy tak menyadarinya. Troy beranjak pergi
mengambil palunya yang juga terlempar agak jauh. Anggara tersenyum
sinis.
Anggara
“Harusnya kau memilih mati dengan cara yang lebih mudah Hanif,”
Hanif melihat Troy yang kembali mendekat sambil mengelap kepala
palunya dengan gerakan jahat yang dramatis. Hanif melirik ke pistol
yang tak jauh dari tempatnya terbaring. Anggara menyadarinya, tapi
terlambat.
(SLOW MOTION) Hanif dengan gerakan cepat melompat dan mengambil
pistol itu. Anggara mengejarnya. Troy juga mengejar dan bersiap
mengayunkan palunya ke arah Hanif. Hanif berhasil meraih pistol dan
berbalik, Troy ia tembak lebih dulu, tepat di dadanya.
DORR – PELURU MENEMBUS DADA TROY.
Troy terpental jatuh. Dengan cepat Hanif langsung mengarahkan pistol
ke arah Anggara dan menembakkannya. Anggara tertembak di kaki
kirinya.
DORR – ANGGARA TERJATUH DAN BERTERIAK.
Anggara mengerang kesakitan. Hanif berusaha berdiri dengan kaki
pincang dan berdarah. Hanif terengah-engah dengan ekspresi penuh
kemarahan mendekati Anggara. Anggara tersenyum sinis. Hanif
mengacungkan pistolnya ke arah
Hanif
“Dimana Nindy!!!?”
Anggara tersenyum sinis sambil menahan sakit.
Hanif
“Katakan cepat?!!”
Anggara
“Hanif, Hanif, kamu sudah mati Hanif, kamu sudah mati,”
Hanif semakin menahan amarahnya, mengacungkan pistolnya lebih dekat.
Hanif
(membentak)
“Berhenti omong kosong? Dimana Nindy?!!”
Anggara
“Apa kau pikir kami akan membiarkannya hidup? Berhentilah, tidak ada
yang bisa kau rubah lagi,”
Ekspresi Hanif penuh amarah.
69
Anggara
“Tidak ada kebenaran di dunia ini Hanif. Tidak ada kebetulan, kami
hanya membantu menyeimbangkan apa yang seharusnya diseimbangkan,”
Hanif
“Kalian hanya anjing-anjing yang cuma peduli pada kekuasaan!”
Anggara
“Ayo tembak, tidak ada bedanya aku mati atau tidak, toh kau tetap
akan ditangkap atas pembunuhan dua orang perwira polisi. Aku dan
Efendi akan mati sebagai pahlawan. Hahaha, Kau pikir kami tidak bisa
melakukannya?”
Anggara tersenyum sinis dan meringis kesakitan. Kakinya terus
mengucurkan darah.
Anggara
“Kalau saja kau tak terlalu terobsesi pada kematian Hesti, tentu ini
tidak perlu terjadi Hanif. Kau wartawan yang paling naif yang
kukenal selama ini, kau beruntung bisa bicara langsung dengan Yang
Utama,”
Hanif tampak berpikir.
Anggara
“Hesti itu cuma debu yang perlu disapu, sama seperti kita. Cepat
atau lambat debu yang kotor harus dibersihkan. Kau pikir Rendra
adalah tujuan kami? Dia juga debu yang suatu saat pasti
dibersihkan,”
Hanif hanya menatap Anggara dengan dingin. Anggara terdiam sejenak,
seolah menyembunyikan ketakutannya akan ditembak Hanif. Sekali lagi
ia menggertak Hanif.
Anggara
(membentak)
“Ayo tembak saja, apa yang kau tunggu,”
Hanif semakin mendekatkan pistolnya. Mengarahkannya ke kening
Anggara. Anggara tersenyum sinis dan memejamkan matanya bersiap
untuk ditembak.
Hanif
“Kau cuma anjing, ada yang lebih pantas kubunuh, biar Tuhan yang
menghukummu,”
Anggara tertawa sinis. Hanif menendang kepalanya.
BUK – ANGGARA TERPENTAL DITENDANG HANIF. IA LANGSUNG JATUH PINGSAN.
Hanif terdiam memastikan Anggara tak bangun lagi. Ia melihat
sekitar, ke arah mayat Troy dan Efendi. Hanif berjalan dengan
tertatih-tatih ke arah Efendi.
70
Hanif mengambil berkas foto Rendra dan Hesti yang ada di dekat mayat
Efendi. Hanif melihatnya dengan ekspresi penuh amarah.
CUT TO
SCENE 30 – ENDING
EXT/INT. RUMAH RENDRA SASMITO
MALAM
Adegan di scene ini MONTASE (SLOW MOTION)
SNAPSHOT – Suasana malam yang tenang di rumah Rendra Sasmito. Adegan
dimulai dari depan rumah, pintu rumah, masuk ke ruangan tengah dan
ruang makan yang ada Rendra dan keluarga besar dan para
pendukungnya. Tampak bendera kampanye dan kesibukan tim sukses di
dalam rumah itu. Sementara Rendra ada di ruang tengah bersama kedua
anaknya dan istrinya. Tampak juga orangtua dan mertua Rendra disana.
Mereka tampak bahagia.
EXT. Hanif berjalan dari pinggir jalan dan menyeberang sambil
menggenggam pistol dan amplop berisi foto Rendra. Penampilannya
berantakan usai mengalami pertarungan dan hampir mati.
Di depan pagar, terlihat beberapa pengawal yang menyadari kedatangan
Hanif menghampiri Hanif dengan bergegas. Rendra mengacungkan
pistolnya, para pengawal tersebut langsung berhenti. Mundur pelanpelan, sementara Hanif tetap berjalan masuk.
INT. Rendra tampak bercengkrama akrab dengan istri dan anak-anaknya
serta orang tua dan mertuanya.
EXT. Di halaman rumah yang berjejer beberapa mobil kampanye, Hanif
terus berjalan sambil mengacungkan pistol masuk ke rumah Rendra.
Sementara para pengawal berusaha mundur pelan-pelan. Para
pengawalnya tidak bersenjata.
Salah satu pengawal mencoba menyerang Hanif. Hanif menembakkan
pistol ke udara.
DORR – TEMBAKAN MELETUS, PENGAWAL YANG MENYERANG LANGSUNG MUNDUR
TAKUT.
INT. Rendra mendengar tembakan dan kaget, ia menoleh ke anak dan
istrinya yang juga ikut kaget. Orang-orang juga terkejut. Mereka
langsung berhambur keluar. Rendra sempat menenangkan istri dan
anaknya, dan ia langsung beranjak keluar rumah.
Hanif sudah ada di depan teras dan terus berjalan masuk. Rendra
tampak keluar bersama beberapa orang yang ada di dalam rumah tadi.
Rendra terkejut melihat Hanif.
Hanif mendekat ke arahnya mengacungkan pistolnya sambil menunjukkan
amplop yang dipegangnya. Semua orang tak ada yang berani mendekat
karena Hanif memegang pistol.
71
Rendra dan beberapa orang tampak mundur masuk ke dalam rumah dengan
pelan, sementara Hanif masih mengacungkan pistolnya ke arah Rendra.
INT. Istri Rendra yang melihat hal itu, langsung berlari ke arah
telepon, dan menelpon polisi.
Rendra mundur ditodong senjata oleh Hanif. Orang-orang ketakutan dan
ikut mundur. Mereka sampai ke ruang tengah dimana keluarga Rendra
berkumpul dan ketakutan.
Hanif
“Jangan ada yang bergerak atau peluru ini dengan cepat akan menembus
jantung pak Rendra,”
Rendra memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk menuruti Hanif.
Rendra
“Tenanglah, ada apa ini?”
Hanif tersenyum sinis. Keluarga besar Hanif ketakutan. Terlihat
istri Hanif memeluk kedua anaknya.
Hanif
“Kau mungkin bisa tetap jadi walikota, hukum mungkin juga tidak akan
bisa menyentuhmu atas kejahatanmu itu,”
Rendra
“Tenanglah, siapa kau, ada apa ini?”
Hanif tersenyum sinis. Ia membuka amplop dan melempar foto-foto yang
ada di dalamnya. Segepok foto-foto itu akhirnya tersebar ke udara
dan jatuh berserakan di lantai. Orang-orang melihatnya.
Hanif
“Ini adalah kebenaran tentang Tuan Rendra yang terhormat,”
Orang-orang tampak penasaran dengan foto-foto itu dan berusaha
melihatnya. Rendra mengambil salah satu foto itu dan hanya bisa
terdiam melihat gambarnya sedang tidur bersebelahan dengan Hesti.
Istri Rendra memberikan kedua anaknya kepada orang tuanya, dan
beranjak menuju Rendra. Istri Rendra mengambil satu foto dan
langsung syok. Hanif melihatnya dengan dingin.
Hanif
(menatap Rendra)
“Seharusnya kau tidak sepengecut ini sampai harus membunuh pacarmu
sendiri, setidaknya ini akan menjadi hukuman yang adil buatmu!!”
Hanif membuang pistolnya ke lantai. Ia berjalan keluar rumah, orangorang yang masih bingung tak melakukan apapun karena terlalu
bingung. Beberapa orang tampak berbisik-bisik. Istri Rendra menangis
sejadi-jadinya, sementara Rendra tampak seperti orang linglung.
Sejenak Rendra melihat pistol yang dibuang Hanif.
EXT. Hanif terlihat keluar dari dalam rumah. Ia berjalan dengan
tenang. Di halaman rumah Rendra tampak mobil polisi baru datang
72
dengan suara sirine yang meraung-raung. Beberapa orang anggota
polisi turun dan mengacungkan senjata ke arah Hanif.
Hanif tersenyum tipis. Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Tak lama kemudian, seseorang turun dari mobil polisi. Dengan kaki
pincang ia melangkah, wajahnya masih penuh lebam. Orang itu menatap
dengan dingin ke arah Hanif dan tersenyum sinis. Diantara keramaian
dan hiruk pikuk orang-orang yang panik dan bingung, Hanif dan
Anggara saling menatap, seolah berbicara dengan pikiran mereka
masing-masing……
THE END
EXTRA SCENE
INT. KANTOR PRESIDEN
PAGI
INT. Di sebuah kantor yang ruangannya sangat besar, tampak seorang
pria setengah baya mengenakan jas tengah duduk di kursi mewah. Ia
duduk menghadap ke jendela besar dan membelakangi meja kerjanya yang
besar. Di meja tampak tumpukan berkas dan sebuah papan nama kayu
ukiran bertuliskan “PRESIDEN”.
KRING KRING – TELEPON BERDERING.
Pria yang duduk itu memutar kursinya dan langsung mengangkat
telepon.
KLIK – SUARA TELEPON DIANGKAT.
Yang Utama (S.O)
“Selamat pagi Pak Presiden…,”
Prediden
“Selamat pagi,”
Pria yang dipanggil pak presiden oleh Yang Utama terlihat
mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.
CREDIT ROLL
-THE END-

In Portfolios