logo

CHAPTER 2. “LILIN”

 

Han terbangun persis sebelum jam weker-nya berbunyi. Semalam ia setel alarm pukul lima persis. Han menoleh ke samping. Ainin, istri Han, rupanya sudah bangun lebih dulu, seperti biasa. Agak malas, Han berusaha beranjak dari tempat tidur. Ia meregangkan badan sebelum memutuskan mengguyur tubuhnya dengan air di kamar mandi. Han menoleh ke atas, AC mati, pantas ia merasa gerah sejak bangun tidur tadi.

Han merasa kesal, sistem air panas di kamar mandi rusak. Pasti gara-gara ia salah memilih teknisi untuk memperbaiki kran, minggu lalu. Setelah berganti baju, ia turun ke bawah, mencari Ainin untuk mengeluhkan kerusakan itu. Di dapur ia melihat Ainin tampak sibuk di depan kompor.

“Masa sih kran di rumah rusak terus? Gak bener ni teknisi yang direkomendasikan kakakmu,” Han mengomel sambil duduk di meja makan yang persis berhadap-hadapan dengan dapur. Ainin yang membelakangi Han hanya mengangguk saja. Han maklum, Ainin memang lebih suka diam saat ia mengomel. Han mengeryitkan dahi dan lebih memilih untuk segera menghabiskan roti isi selai kacang yang sudah disiapkan Ainin ketimbang melanjutkan omelannya.

Han makan dengan cepat, setelah tahu jam di tangannya sudah menunjuk pukul enam. Kalau saja tidak mengejar waktu untuk datang ke kantor dengan cepat karena rapat, dan mengingat menunda keberangkatan sama dengan bermusuhan dengan jalanan yang macet, Han sebenarnya masih ingin mengajak Ainin berbicara. Tapi Han lebih khawatir dengan jalanan yang macet.

“Aku pergi dulu,” kata Han usai mencium kening istrinya dengan cepat dan langsung berlalu keluar. Ainin sekali lagi hanya mengangguk saja.

 

*****

 

Sepulang kantor, Han mampir ke swalayan yang berjarak hanya dua blok dari rumahnya. Ia bermaksud membeli susu literan untuk Timy, anaknya yang masih berumur 5 tahun. Han tak ingin Ainin membalas omelannya tadi pagi. Kalau sampai Han pulang tanpa membawa susu, jelas habis sudah. Di depan kulkas besar, Han berdiri mematung, mencari-cari susu literan yang dingin. Ia membuka pintu kulkas, dan mulai mencari kotak susu yang paling dingin. Berulang kali ia membandingkan, tak ada satu pun kotak susu yang dingin. Han pergi ke kasir, bertanya apakah ada susu yang dingin? Si kasir mengangkat bahunya dan mengeluh bahwa sejak tadi malam listrik mati.

“Maaf pak, ini juga kami pakai genset, dayanya tidak kuat, jadi kulkas juga tidak begitu dingin,” kata si kasir meminta maaf.

“Lho memangnya sekarang masih mati lampu?” tanya Han penasaran.

“Sepertinya teknisi listrik agak kesulitan pak, tadi malam travo jaringan listrik kena petir, dengar-dengar kerusakannya parah,”
Han mengangguk-angguk seolah maklum. Sebelum kembali mengambil susu di kulkas, Han sempat meminta sesuatu ke kasir. “Ada lilin?”

Persis menjelang menjelang malam, Han sampai rumah. Ia agak terkejut karena pintu depan tidak dikunci. Barangkali Ainin lupa mengunci pintu. Biasanya Ainin dan Timy memang lebih suka menonton TV di dalam kamar sambil menunggu Han pulang kantor. Baru setelah itu mereka kembali turun ke bawah untuk makan malam bersama, jika Timy tidak tidur lebih cepat.

Han agak risih juga melihat rumahnya gelap gulita. Benar dugaannya, jika swalayan kompleks masih mengalami pemadaman, otomatis jaringan listrik di rumahnya juga ikut padam. Dalam hati Han merasa menang karena berhasil membeli lilin. Biasanya saat pemadaman, sulit sekali mencari toko atau swalayan yang menjual lilin. Alasannya selalu sama, stock habis. Padahal Han tahu itu hanya akal2an swalayan agar orang lebih memilih membeli senter atau lampu portable yang harganya jauh lebih mahal ketimbang harga satu pack lilin.

Han sempat menengok rumah-rumah di sebelah. Jalanan agak lengang dan terasa sunyi. Tidak ada satu orang pun yang terlihat. Hanya tampak beberapa titik-titik kecil cahaya lilin yang terbias dari jendela rumah tetangga di kanan kiri. Han tersenyum, merasa menang lagi.

“Assalamualaikum, dek, aku pulang,” sapa Han begitu masuk rumah.

“Timy, papa datang ni,”

Tidak ada jawaban. Han heran, biasanya Timy langsung berlari keluar jika mendengar suara mobil Han terparkir di garasi. Mungkin Timy sudah tidur, batin Han.

“Assalamualaikum,” Han kembali bersuara. Sebenarnya Han hanya berusaha mengusir kesunyian yang dirasakannya sejak masuk ke dalam rumah. Karena mengira Ainin dan Timy tertidur, Han memutuskan untuk menyalakan lilin lebih dulu agar rumahnya terlihat lebih terang. Dengan bantuan cahaya dari layar gadgetnya, Han mencari korek di dapur.

Ia mengambil beberapa tatakan gelas dan mulai memasang satu demi satu lilin yang dibelinya tadi. Dua lilin ia letakkan di dapur, dua di ruang tengah, dan dua lagi di ruang tamu. Han baru saja meletakkan lilin di atas meja ruang tamu, ketika gadgetnya berbunyi. Sebuah pesan di grup whatsapp bapak-bapak kompleks terbaca, “bapak-bapak, jangan lupa pengajian bagda isya di rumah pak Tomo. Diusahakan datang meski masih pemadaman,

Han lupa, malam ini ada acara pengajian rutin dua mingguan di kompleksnya. Han tak langsung beranjak ke kamar, ia memilih duduk di sofa ruang tamu dan memikirkan alasan apa yang tepat untuk membalas grup whatsapp, karena ia berencana untuk absen acara pengajian.

Han belum menemukan alasan yang tepat. Ia hanya menggeser-geser layar gadget dengan jarinya. Han menyandarkan diri ke sofa, berusaha menyamankan posisi duduknya. Melihat pemandangan di luar rumah dari jendela ruang tamu, sedikit banyak menimbulkan perasaan sepi yang sangat. Ia menengok jam di gadgetnya, masih jam enam sore kurang.

Han tak bermaksud membangunkan Ainin dan Timy yang mungkin sudah tertidur. Karena itu Han memutuskan untuk duduk-duduk dulu di ruang tamu, sekalian menunggu kumandang adzan dari masjid kompleks. Sambil menunggu, Han mencoba memejamkan matanya. Ia ingin larut dalam tidur yang pendek sebelum waktu sholat tiba. Han lupa, mencari alasan untuk absen acara pengajian.

 

*****

 

Krieett, krieet…sreggg..sregg…

Bunyi derit sepeda roda tiga Timy mengejutkan Han. Han langsung tersentak, ia periksa gadgetnya. Sudah jam 11 kurang. Lilin di depannya sudah tinggal separo batang. Masih gelap, berarti masih mati lampu. Han tak mengira ia tidur begitu nyenyak. Sekilas ia melihat Timy menaiki sepeda roda tiganya melaju ke dalam rumah.

“Dek, sudah malam lho, kok belum bubuk?” tanya Han. Timy hanya cekikikan dan mengayuh sepedanya lebih cepat, berusaha menghilang dari pandangan Han.

Han beranjak bangun, dan membawa satu batang lilin yang ada di meja. Sebelum masuk ke dalam untuk mengejar Timy, ia memastikan pintu rumahnya sudah dikunci. Han berjalan pelan ke arah pintu dan menguncinya. Setelah itu, ia menuju ke belakang. Dalam keadaan gelap begini, Han berjalan dengan sangat berhati-hati. Penglihatannya juga belum begitu jelas sehabis bangun tidur. Di ruang tengah, Han melihat sepeda roda tiga Timy ada di sebelah lemari koleksi buku-buku Han. Mana Timy? Batin Han.

“Dek? Timy, dek, Ainin….” Han mencoba memanggil-manggil anak dan istrinya. Tidak ada yang menyahut. Han hanya mendengar suara kesibukan dari dapur yang bisa terlihat dari ruang tengah kalau saja keadaan tidak gelap gulita. Sayangnya Han tak bisa melihat apapun di dapur. Han pikir, itu pasti Ainin.

Han baru akan melangkah menuju dapur, ketika gadgetnya berbunyi nyaring. Panggilan masuk dari Ainin tertera di layar gadget Han. Han terdiam cukup lama, membiarkan dering telepon berbunyi memecah keheningan. Sementara di dapur, Han bisa mulai melihat dengan jelas, siluet seorang perempuan yang mirip dengan Ainin sedang berdiri membelakanginya.

Apa ini? Han sempat berpikir Ainin hanya mencoba menggodanya dengan lelucon horor yang sama sekali tidak lucu. Dering telepon terus berbunyi, beradu kebisingan dengan suara mirip orang mengiris bawang di atas talenan dari dapur. Han mencoba tenang dan mengatur nafasnya yang mulai naik turun. Ia tidak mau kalah dengan perasaan takut terhadap hal-hal mistis. Hantu itu takhayul, batin Han. Memberanikan diri, Han mengangkat telepon.

“Halo, kok susah banget sih ditelepon dari tadi pagi,” suara Ainin terdengar jelas dari balik telepon.

“Ka..mu dimana?” tanya Han dengan suara berbisik. Ia masih mendengar jelas suara berisik orang memasak di dapur.

“Apanya yang dimana?!!” sentak Ainin.

“Papa,” sebuah suara anak kecil terdengar menyahut diantara percakapan Han dan Ainin.

Belum sempat Han menjawab Ainin, ia dikejutkan oleh seorang anak yang menarik-narik kemejanya. Anak itu persis berdiri di sebelah Han. Han menoleh ke arah anak itu. Tangan kirinya yang memegang lilin mulai gemetaran. Sementara tangan kanannya masih terus memegang gadget yang ia tempelkan di telinga.

Bulu kuduk Han berdiri serentak. Ada hawa dingin menyeruak di tengkuknya secara tiba-tiba. Han melihat Timy hanya mengenakan singlet dan celana pendek sibuk menarik-narik kemejanya. Seolah melakukan gerakan merajuk saat meminta sesuatu yang diiinginkannya.

“Papa, papa…” kata Timy. Sial bagi Han, ketika lilin yang dipegangnya mati secara tiba-tiba. Seperti ditiup seseorang. Ya, Han seperti mendengar ada suara orang meniup lilinnya sampai mati. Blep…

Tidak menunggu waktu lama, Han menyadari, anak yang dilihatnya itu bukan Timy. Dan perempuan yang ada di dapur jelas bukan istrinya. Han berlari menuju ruang tamu dengan tergopoh-gopoh. Saat sampai di depan pintu keluar, kunci rumah yang tadi masih menempel di lubang kunci, menghilang. Han berusaha membuka pintu tapi terkunci. Di balik gadget yang masih dipegangnya, sayup-sayup terdengar suara Ainin panik memanggil-manggil Han. Setelah sadar pintu sudah tak bisa dibuka, Han memutuskan untuk duduk di bawah dan bersandar pada pintu. Han seolah bersiap menghadapi apapun yang barangkali mengikutinya ke ruang tamu. Setelah merasa tidak ada apa-apa, Han mengangkat teleponnya lagi.

“Halo, mas, ada apa sih? Kenapa sih?” Suara panik Ainin membuncah memecah pikiran Han yang masih berusaha menangkap logika dari peristiwa yang dialaminya sekarang.

“Dek, nin, dek…” Han tergagap.

“Mas, kenapa sih kamu? Dimana kamu, hayo dimana sekarang!” suara Ainin masih meninggi bercampur curiga yang tak biasa.

“Aku di rumah. Ada pemadaman listrik, aku pikir kamu di rumah,”

“Hah, di rumah?! Kamu aneh. Makanya jangan kebanyakan ngabisin waktu di ruang tamu sambil mainan HP, sampai jadi pikun,” Ainin mulai mengomel. Han sudah tak peduli dengan omelan Ainin. Ia justru merasa senang mendengar suara istrinya itu.

“A…a..ku, ta..di, nge..lihat, Timm my..” suara Han sedikit berbisik. Nafas Han mulai terengah-engah. Sebesar apapun usahanya berpikir bahwa yang dialaminya itu adalah sesuatu yang masuk akal, tak bisa membendung perasaan takut yang dialaminya saat ini.

“Timy? Timy lagi sama aku, ini dia baru saja tidur di sebelahku, kamu kenapa sih mas?” belum sempat Han menjawab dan menceritakan apa yang dialaminya, telepon terputus. Hening. Gadgetnya mati, kehabisan batere. Han cuma bisa mendengus kesal. Sial benar, batin Han.
Han masih duduk bersimpuh, bersandar pada pintu. Ia hanya berjarak tak sampai dua meter dari lilin yang masih menyala di meja ruang tamu. Lilin yang dipegangnya tadi jatuh di ruang tengah saat ia berlari.

Han tidak mau berbuat sembrono hanya untuk kembali mengambil lilin di ruang tengah. Agak lama Han melihat lilin yang tinggal setengah batang di meja. Hanya lilin itu satu-satunya cahaya yang membantu Han melihat kondisi di sekitar. Han menutup matanya. Han membayangkan jika lilin itu mati, tak akan ada bedanya ia membuka mata atau menutup mata.

Dalam keadaan panik dan takut yang tak bisa ia jelaskan sendiri, Han baru ingat kalau kemarin pagi, ia mengantar Ainin dan Timy ke stasiun untuk naik kereta menuju rumah orang tua Ainin di luar kota. Ia juga baru sadar, tadi malam saat ia memasang weker di kamar, adalah saat ia mendengar ledakan petir yang membuat lampu rumah di kompleks perumahannya mati. Han lupa, setelah pulang dari stasiun, hujan lebat tak kunjung reda sampai malam harinya.

Tak banyak yang Han pikirkan saat ini kecuali, bayangan bahwa perempuan yang tadi pagi diciumnya di dapur bukanlah Ainin, sudah  membuatnya merasakan takut yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kalau perempuan itu bukan Ainin, lantas, siapa dia? Belum lagi Timy yang dilihatnya di ruang tengah. Han ingin mengumpat, menyesali keputusannya tidak ikut acara pengajian. Kalian tahu? Han hanya bisa mengutuk kebodohannya sendiri. Ide gila untuk berteriak minta tolong kepada para tetangga tentu adalah sesuatu yang konyol. Han tidak mau jadi bahan perbincangan dan tertawaan orang se-kompleks hanya karena ketakutannya pada sesuatu yang tidak nyata.

Dengan posisi mata yang masih terpejam, Han merasa mendengar suara langkah dan derit roda sepeda Timy yang sangat dikenalnya. Suara itu terdengar mendekat ke arah Han. Han  semakin memejamkan matanya. Ada sebersit keinginan untuk mengintip, tapi imajinasi atas apa yang akan dilihatnya nanti membuat nyali Han menciut. Langkah itu berhenti tak jauh dari tempat Han duduk.

“Fuuhh,” dalam keadaan senyap, Han mendengar jelas suara orang meniup lilin. Han yakin, siapapun atau apapun yang meniup itu, pasti berusaha membuat lilin di ruang tamu mati. Han masih tak berani membuka matanya. Meski Han merasa ingin sekali berteriak dan mengusir apapun yang mengganggunya, tapi ketakutannya terlalu besar untuk ia kalahkan.

Agak lama, Han merasa peniup lilin hanya berdiri di tempatnya dan tak melakukan gerakan. Han merasa seolah ia sedang diawasi. Selang beberapa detik, terdengar lagi suara langkah dan derit roda sepeda Timy. Kali ini suaranya tidak mendekat, tapi seolah menjauh dan kembali ke dalam rumah. Han masih tak berkutik. Lilin sudah mati, jika Han membuka mata, percuma juga karena hanya gelap yang akan dilihatnya. Han tidak tahu sampai kapan ia akan dalam keadaan ini. Ia hanya berharap, listrik segera menyala, dan apa yang dialaminya hanyalah perasaan syok yang masih bisa diterima akal sehat.

Entah berapa lama. Sepuluh menit atau kurang dari itu, Han yang masih terpejam tapi tidak tidur, merasa silau oleh bias cahaya lampu ruang tamu. Han tahu, listrik pasti sudah kembali menyala. Han ingin membuka matanya, tapi tak segera ia lakukan. Ia masih terlalu takut membayangkan kalau-kalau itu hanya perasaannya saja. Jangan-jangan, ini ulah dari para pengganggunya, yang hanya berusaha membuatnya membuka mata.

Hening. Bias cahaya masih membuat Han silau. Mau tidak mau, Han merasa konyol kalau begini terus. Dengan tekad yang sudah ia siapkan, Han membuat perhitungan sendiri untuk membuka mata. Satu, dua, ti…ga…

Han membuka mata. Lampu ruang tamu yang menyala membuat mata Han harus beradaptasi karena terlalu lama terpejam. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu.  Han menengok kanan kirinya, dan memeriksa keluar rumah dari jendela untuk memastikan listrik memang sudah menyala. Ia melihat lampu jalan dan lampu di rumah para tetangganya sudah menyala. Han menghela nafas, merasa lega, meskipun masih ada sisa-sisa ketakutan yang dirasakan. Han baru saja akan beranjak, ketika seketika lampu kembali padam. Blep….

Han sudah tak sempat menutup matanya lagi. Blep, lampu kembali menyala. Kali ini, Han sudah tak bisa berkata-kata. Di depannya, Han melihat sekelompok lelaki mengenakan pakaian khas untuk pengajian, duduk melingkar memenuhi ruang tamu sambil bergumam lafal yang tak pernah Han dengar sebelumnya. Tidak ada yang menakutkan dari wajah mereka. Semuanya biasa saja. Hanya saja, Han merasa risih menjadi objek yang mereka awasi secara bersamaan. Blep…. lampu kembali padam, lilin di meja menyala. (SELESAI)

 

 

In Portfolios