logo

CHAPTER 3. “FOTO TUA WAK AMINAH”

 

 

Wak (uwak) : sebutan untuk kakak perempuan atau laki2 dari ayah atau ibumu….

 

Di kota ini, siapa yang tidak tahu foto tua Wak Aminah? Cerita seram yang ada di balik foto itu sudah sangat terkenal seantero kota. Terutama anak-anak. Cerita tentang foto itu menjadi legenda urban yang turun temurun diceritakan dari para ibu dan ayah ke anak-anak mereka, kakak ke adik, teman ke teman dan seterusnya. Dan begitulah, kota ini menjadi terkenal gara-gara foto tua Wak Aminah.
Kadang aku sempat berpikir, bahwa cerita tentang foto itu hanya kebohongan yang dibuat-buat dan kebetulan menyebar dengan cepat.

Lalu kemudian, secara sengaja menjadi bagian dari publikasi kota ini. Benar atau tidaknya, tidak ada yang peduli, karena cerita foto itu ikut membawa berkah di kota ini. Berkat cerita seram Wak Aminah banyak wisatawan yang datang ke kota ini, khusus hanya untuk melihat foto tua Wak Aminah.

Tidak sedikit yang ingin melihatnya pada waktu malam. Sensasi seramnya lebih dapat, begitu kira-kira alasan para wisatawan. Mereka sampai rela menginap dan menyewa kamar rumah pada penduduk sekitar. Kalau tepat, para wisatawan itu akan mendapat harga yang murah, meski tidak sedikit yang mengeluh harga sewa kamar yang terlalu tinggi. Berkah cerita Wak Aminah jadi keberuntungan bagi warga kota ini.

Foto tua Wak Aminah adalah foto yang dipajang di perpustakaan kota. Diletakkan di dinding yang bisa terlihat jelas dari lorong ruang baca blok 4. Blok yang khusus untuk menyimpan catatan tua dan arsip sejarah kota. Ukuran fotonya sangat besar. Dibingkai dalam pigura kayu berwarna beludru yang setiap dua hari sekali dibersihkan oleh petugas jaga.

Foto itu berisi gambar hitam putih seorang wanita yang mengenakan gaun panjang, sedang duduk di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar mewah. Meskipun terlihat agak tua, wanita dalam foto itu tampak cantik dengan bola mata berbinar dan senyum lebar yang memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. Dengan rambut disanggul menawan, wanita dalam foto itu memegang kipas yang dilipat, yang disandarkan pada lututnya.

Konon kalau diperhatikan terus menerus, kau akan merasa wanita dalam foto itu seperti berteriak kepadamu. Entah apakah itu hanya ilusi optik karena sudut pengambilan gambarnya atau sugesti horor yang diceritakan secara terus menerus, tapi kemahsyuran foto itu sudah sampai kemana-mana.

Tentu saja, kemahsyuran foto Wak Aminah, membuat perpustakaan menjadi ramai. Atas banyaknya permintaan wisatawan, perpustakaan akhirnya dibuka 24 jam. Walikota senang, karena akhirnya banyak orang berbondong-bondong datang ke perpustakaan. Meskipun tidak untuk membaca buku, melainkan melihat langsung seperti apa foto Wak Aminah yang mahsyur itu. Dan setiap akhir pekan, halaman depan perpustakaan akan disulap menjadi pasar kaget yang menjual segala jenis barang. Mulai dari cinderamata sampai jajanan oleh-oleh.

Kalian tahu? Berkah ini ikut pula dirasakan anak-anak seumurku yang dengan berani menjadi pemandu wisata dadakan. Perpustakaan beralih fungsi. Tidak ada lagi orang yang datang membaca buku. Semua orang datang hanya untuk melihat seperti apa foto Wak Aminah itu.

Ada banyak kisah tentang siapa sebenarnya Wak Aminah. Tapi yang paling menyebalkan adalah kisah yang diceritakan Pak Odin, penjaga perpustakaan angkatan pertama. Pak Odin menjadi saksi yang mengetahui secara persis asal mula dan alasan foto Wak Aminah bisa dipajang di perpustakaan. Menurut Pak Odin, perpustakaan ini dibuka pertama kali sekitar 60 tahun yang lalu. Tuan Wahid bin Syahrir, seorang pedagang besar yang membukanya.

Atas persetujuan pemerintah, perpustakaan ini kemudian dibuka untuk umum. Selain buku-buku ilmu pengetahuan, ada juga buku sastra dari dalam dan luar negeri. Tuan Wahid, kata Pak Odin, adalah orang yang menyukai seni, sehingga tidak hanya buku yang ia beli dari luar negeri untuk menambah koleksi perpustakaanya, tapi juga barang-barang antik seperti perhiasan dan lukisan.

Pak Odin masih berumur 15 tahun saat pertama kali diterima bekerja di perpustakaan. Pada saat baru seminggu bekerja, foto tua Wak Aminah itu datang ke perpustakaan. Foto itu dikirim bersama beberapa barang antik lainnya. Awalnya foto itu hanya berupa gulungan saja dan belum dibingkai.

“Itulah kenapa aku merasa geli saat orang-orang mengira itu adalah foto, padahal Wak Aminah itu sebuah lukisan,” kata Pak Odin sambil terkekeh.

“Lalu siapa Wak Aminah itu?” ketika sudah muncul pertanyaan ini, Pak Odin akan pura-pura tak peduli sampai ia mendapat sebungkus rokok kretek kesukaannya. Aku dulu juga begitu. Aku dan beberapa temanku sampai patungan membeli sebungkus rokok untuk sekedar membunuh penasaran kami atas jati diri Wak Aminah.

Setelah menerima rokok, Pak Odin yang sudah tua itu dengan segera menyalakan sebatang dan kemudian melanjutkan ceritanya lagi.

“Wak Aminah itu, bukan siapa-siapa, hahahaha. Dia itu cuma lukisan seniman Melayu yang kebetulan datang bersama barang-barang antik murahan lainnya,”

Sial benar bukan? Ditipu untuk membelikan sebungkus rokok untuk sebuah cerita yang tidak memuaskan rasa ingin tahu. Tapi begitulah yang terjadi, Pak Odin akan memberikan jawaban yang sama setiap kali orang bertanya tentang Wak Aminah.

 

*****

 

Warga kota sepertinya sudah tidak peduli lagi apakah foto Wak Aminah itu adalah sebuah foto atau lukisan. Para wisatawan yang mabuk kisah mistis juga sudah tidak peduli. Setelah Pak Odin meninggal dua tahun yang lalu, cerita tentang Wak Aminah semakin menjadi-jadi. Ada kisah yang mengatakan, Wak Aminah itu penduduk asli kota ini yang kehilangan suaminya dalam perang. Sebelum bunuh diri, ia minta difoto untuk menyambut suaminya yang mungkin masih hidup dan tiba-tiba pulang ke rumah.

Ada kisah lain yang menceritakan Wak Aminah adalah penyihir jahat yang dikutuk oleh penyihir baik dengan mantra pengikat jiwa. Membuat roh Wak Aminah terjebak dalam bingkai agar tidak lepas dan melakukan kejahatannya lagi. Beberapa cerita lain mulai bermunculan tentang Wak Aminah. Imbasnya, tentu saja kota kami yang mendapat berkah.

Aku sendiri juga sudah tidak terlalu peduli dengan kebenaran cerita tentang Wak Aminah. Sama seperti penduduk kota lainnya, aku hanya merasa ikut senang karena kota ini menjadi tempat wisata yang memberikan penghasilan bagi kami. Rumahku sendiri hanya berjarak tak sampai 100 meter dari perpustakaan. Karena itu, ayahku memutuskan menyulap loteng rumah menjadi kamar yang bisa disewakan kepada para wisatawan yang datang setiap akhir pekan.

Jadi, cerita mana yang benar tentang Wak Aminah, bagi keluargaku sudah tidak penting. Yang penting setiap akhir pekan, ada uang yang bisa kami dapat dari menyewakan loteng rumah kami.

Saat ada kru film dari ibukota berencana membuat film tentang Wak Aminah, rumah kami disewa selama beberapa minggu untuk kru yang sedang melakukan observasi. Beberapa kali, aku bisa dengan sangat dekat melihat langsung artis yang biasa kulihat di televisi, sedang makan dan istirahat di ruang tamuku. Bisa kalian bayangkan, betapa pengalaman ini menjadi sebuah kisah kebanggaan yang dapat kusombongkan kepada teman-temanku sekolah.

Sayangnya, film tidak jadi diproduksi. Menurut kabar, si produser terlalu takut membuat film Wak Aminah. Beberapa kali kru mengalami kesurupan dan kejadian yang hampir mencelakakan. Aku sendiri tidak tahu, karena saat rumah kami disewa, aku dan keluargaku mengungsi di rumah kerabat yang jaraknya agak jauh.

Meskipun kami masih diijinkan mondar-mandir untuk mengambil barang-barang di rumah, dengan kartu khusus yang diberikan salah satu kru.

Berita kegagalan pembuatan film itu, tentu semakin memperkuat cerita mistis tentang Wak Aminah. Kata ayahku, mungkin Wak Aminah tidak suka menjadi terkenal dan jadi bintang film. Lelucon garing yang enggan kukomentari. Aku merasa kesal saja, karena gagalnya pembuatan film, membuatku kehilangan bahan cerita untuk kusombongkan di sekolah.

 

*****

 

Bulan Juni. Saat pertama kali diumumkan liburan panjang semester sekolah, menjadi bulan yang ditunggu-tunggu seluruh warga kota. Selain pesona mistis Wak Aminah, kota kami memiliki agenda karnaval yang diadakan setiap tahun di bulan juni. Karnaval ini akan diikuti oleh seluruh penduduk kota yang akan memakai bermacam-macam kostum. Karnaval dibagi menjadi tiga sesi. Pagi karnaval untuk anak-anak, menjelang siang pawai makanan dan kue yang akan dibagikan secara gratis kepada penonton, dan puncaknya saat malam, karnaval orang dewasa yang kemudian dilanjutkan dengan melepas ribuan lampion di alun-alun.

Saat hari itu tiba, aku sudah siap berangkat ke alun-alun kota sejak jam 7 pagi. Aku berangkat bersama ayah dan ibu serta Lily, adik perempuanku yang masih bayi. Kami tak butuh waktu lama untuk sampai di alun-alun kota karena jaraknya juga sangat dekat dari rumah. Karnaval masih dimulai jam 9, jadi ada dua jam tersisa untuk mencari tempat yang pas menonton karnaval. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ayah dan ibu membebaskanku untuk pergi sendiri mencari tempat yang strategis. Ayah dan ibu lebih suka menunggu di cafe tenda yang ada di sebelah utara alun-alun.

Karena sudah janjian dengan Rudy dan Stefanie, teman sekelasku, aku pergi ke sebelah barat. Persis di depan perpustakaan Wak Aminah. Cuaca hari itu cerah. Sangat mendukung suasana suka cita yang dirasakan seluruh penduduk kota. Aku, Rudy dan Stefanie berhasil mendapat tempat yang kurasa tepat untuk menonton karnaval. Dan tentunya tempat yang bagus saat pawai kue berlangsung, karena kami ada di barisan paling depan.

Jam 9 persis sebuah dentuman meriam terdengar membumbung di angkasa. Meriam dari kantor Walikota itu dibunyikan sebanyak 3 kali untuk menandai dimulainya acara karnaval. Semua orang berteriak senang dan gembira. Tepuk tangan dan sorak sorai terdengar riuh bercampur teriakan kebahagiaan. Barisan pertama sudah berjalan dari garis start di sebelah kananku. Jaraknya cukup dekat dari tempatku berdiri. Barisan itu terdiri dari anak-anak usia TK yang mengenakan kostum bertemakan buah-buahan. Warna-warni dan lucu. Cara berjalan mereka semakin menjadi ketika para penonton di kanan kiri mulai menyoraki. Beberapa orang berhambur ke tengah area sekedar untuk berfoto bersama peserta karnaval.

Aku, Rudy dan Stefanie tak kalah bersorak ramai ketika barisan peserta karnaval sudah melewati kami. Kami larut dalam hiruk pikuk kegembiraan yang begitu terasa.

Entah darimana mulainya, tiba-tiba sorak sorai para penonton dan musik pengiring karnaval berhenti mendadak. Benar-benar mendadak. Seperti diperintah untuk berhenti seketika. Rudy dan Stefanie tampak penasaran memeriksa apa yang terjadi. Aku menoleh ke arah kanan, ke arah garis start karnaval.

Rudy yang mulai menyadari pertama. Ia memegang erat lengan kananku. Seperti meremasnya dengan kuat, sampai kurasakan sakit. Sementara aku masih sempat melihat Stefanie menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Aku bisa merasakan, semua orang di sebelah kanan kiriku, dan juga barisan penonton di seberang seolah mematung.

Masih tiga barisan peserta karnaval yang berjalan. Setelah kostum tema buah, barisan kedua yang keluar bertema prajurit masa lampau, sementara barisan ketiga adalah barisan dengan tema fauna.
Aku melihatnya. Diantara barisan ketiga itu. Sesuatu yang membuat semua orang seketika terdiam dan mematung. Aku melihatnya jelas. Dan aku rasa, bukan cuma aku yang melihatnya. Semua orang jelas ikut melihatnya.

Seorang perempuan setengah baya, mengenakan gaun panjang sambil memegang kipas yang terlipat. Rambutnya disanggul dengan menawan. Perempuan itu berjalan dengan anggun. Menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian. Menyapa para penonton dengan bola mata berbinar dan senyum lebar yang memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. Ada yang aneh dari cara berjalannya.

Aku menyadari langkah kaki perempuan itu biasa saja, tapi entah kenapa ia seolah berlalu dengan cepat diantara barisan peserta karnaval yang tiba-tiba juga ikut terdiam. Ketika persis melewati tempat dimana aku, Rudy dan Stefanie berdiri, aku merasa perempuan itu mendelik ke arahku. Bulu kudukku berdiri. Aku merasa suasana pagi yang terang benderang ini, tiba-tiba menjadi malam yang menyeramkan.

Aku terdiam. Sementara Rudy hanya bisa melihatku dengan tatapan yang kosong. Dan Stefanie sudah menangis sesungukan di sebelahku. Dan secara tiba-tiba semua peserta karnaval yang masih anak-anak itu, menangis keras secara bersamaan. Suasana riuh, para orangtua yang ada di barisan penonton dalam diam menjemput anak mereka satu per satu.

Secara teratur, masih dalam diam orang-orang mulai berhamburan pergi. Ayah dan ibu menjemputku di tengah perjalananku kembali. Ibu tak henti-henti menenangkan Lily yang menangis. Selama perjalanan pulang, kami tak berbicara. Semua orang seolah tak saling menyapa. Bahkan dengan tetangga di sebelah rumah pun, ayah dan ibu tak menyapa. Mereka hanya saling menganggukkan kepala saja. Sementara aku, masih belum bisa menghilangkan bayangan Wak Aminah mendelik dan seperti berteriak ke arahku.

 

*****

 

Seminggu berlalu sejak karnaval. Tidak ada pembahasan apapun tentang peristiwa aneh yang terjadi saat karnaval. Semuanya berjalan normal. Hanya saja, semua orang lebih banyak pulang ke rumah masing-masing dengan cepat. Malam di kota kami menjadi sepi.

Sebulan berlalu, keadaan mulai berjalan normal. Kami seolah sudah melupakan peristiwa aneh saat karnaval. Orang-orang mulai berani keluar malam. Hanya saja, kota kami mulai sepi dari kunjungan wisatawan.

Cerita yang kudengar dari pembicaraan ayah dan teman-temannya di suatu malam, perpustakaan kota sudah tidak lagi punya pengunjung. Katanya, foto tua Wak Aminah tidak lagi menarik. Mau menarik bagaimana, jika gambar perempuan dalam foto itu tiba-tiba menghilang. Yang tersisa hanya bingkai berisi gambar sebuah kursi di dalam kamar mewah.

Kata ayah, Wak Aminah pergi. Mencari bingkai yang lebih bagus lagi untuk ditempati. Barangkali, Wak Aminah ingin juga masuk dalam frame gadget biar lebih modern. Lelucon garing lagi. Kalian tahu? Setidaknya, tidak ada salahnya jika kalian  mulai memeriksa galeri foto di gadget kalian. Jika ada Wak Aminah disana, tolong sampaikan untuk segera pulang. (SELESAI)

 

 

 

In Portfolios