logo

CHAPTER 4. “DIANDRA DI KACA”

 

 

“Kamu boleh pulang sekarang,” kata Suster Hanny kepada Diandra. Mata Diandra berbinar senang. Seolah tidak menunggu jawaban dari Diandra, Suster Hanny berlalu pergi meninggalkan kelas begitu saja. Dengan suara pelan, Diandra mengucap syukur. Ia melihat buku tulis yang ada dihadapannya. Sepertinya, tidak ada lagi kertas kosong yang tersisa dari buku itu. Diandra sudah memenuhi setiap halamannya dengan kalimat penyesalan, sesuai perintah Suster Hanny.

Diandra meregangkan tangannya. Lalu memukul-mukul pundaknya sendiri untuk mengusir linu dan ngilu gara-gara tak berhenti menulis sejak siang tadi, sepulang sekolah.

Diandra sedang dihukum. Saat bel tanda pulang sekolah berbunyi, ia tak boleh langsung pulang. Ia harus tinggal di kelas untuk menulis kalimat penyesalan dengan huruf latin satu buku penuh. Ya, satu buku dengan 40 lembar halaman bolak-balik. Alasannya sederhana. Diandra tidak mengumpulkan tugas sekolah. Dan yang paling disesali Diandra adalah, ia bukannya tidak mengerjakan tugas itu, melainkan karena kecerobohannya sendiri, tugas dari Suster Hanny tersebut bisa tertinggal di rumah. Suster Hanny tidak mau tahu. Bagi Suster Hanny, Diandra tetap dianggap melakukan kesalahan dan harus dihukum.

Diandra sekolah di SMA Katolik St. Maria. Sekolah khusus putri yang memang terkenal atas kedisiplinannya. Suster Hanny, yang menjadi wali kelasnya, adalah guru yang memang tidak pernah menolerir apapun bentuk kesalahan di dalam sekolah. Diandra sebenarnya sangat malu karena kejadian ini. Dua tahun  bersekolah di St. Maria, tak pernah sekalipun Diandra melakukan kesalahan, apalagi sampai mendapat hukuman. Diandra selalu menjadi juara kelas, dan kerap diundang mewakili sekolahnya dalam beberapa kompetisi akademik.

Karena itu, kenyataan bahwa Diandra akhirnya harus dihukum, adalah aib yang mungkin akan ia sesali seumur hidup.

“Aku harus tetap adil dalam bersikap. Jadi, aku harap kamu menerima hukuman ini dengan tulus,” kata Suster Hanny tadi pagi. Diandra cuma menunduk malu.

Jesica, teman sebangku Diandra, menawarkan diri untuk menemaninya mengerjakan apa yang diperintah oleh Suster Hanny. Tapi Diandra menolak. Meskipun Diandra tahu, Jesica tidak akan keberatan menunggunya menyelesaikan hukuman. Toh, Jesica juga tinggal di sekolah. Jesica adalah satu dari sekian ratus murid St. Maria yang tinggal di asrama. Tidak seperti Diandra yang setiap hari harus pulang pergi dari rumah ke sekolah. Jadi tidak akan ada alasan bagi Jesica untuk keberatan melakukan itu.

St. Maria memang menyediakan asrama bagi murid yang berasal dari luar kota. Berhubung Diandra bukan berasal dari luar kota, dan mama tidak akan setuju untuk berpisah dari Diandra, akhirnya Diandra hanya bersekolah saja di St. Maria, tidak seperti kebanyakan murid lain yang lebih memilih tinggal di asrama.

Diandra menengok jam tangannya. Sudah jam setengah lima sore. Ia memeriksa keluar gedung sekolah dari jendela besar di sebelahnya. Awan mendung menggantung seperti menyelimuti langit. Jika melihat gerak dedaunan dari pohon besar di halaman sekolah, Diandra bisa merasakan angin sedang berhembus kencang.

St. Maria adalah sekolah yang sangat luas. Selain gedung utama yang berlantai enam, agak menjorok ke selatan juga ada gedung asrama yang dihuni sekitar 700-an siswi St. Maria. Kelas Diandra ada di lantai dua gedung utama. Diandra tak mau berlama-lama di dalam kelas. Ia tadi sempat meminta mama menjemputnya jam lima. Tapi hukumannya selesai persis jam setengah lima. Meski bukan sebuah kebanggaan, hal itu patut juga disyukuri Diandra.

Usai membereskan buku dan peralatan menulisnya, Diandra beranjak keluar kelas. Sudah tidak ada siapa-siapa. Suasana sepi membuat langkah kaki Diandra terdengar seperti memberi efek gema yang cukup membuat risih.

Baru saja menutup pintu kelas dan akan beranjak pergi, terdengar suara dari belakangnya. Diandra menoleh ke arah sumber suara. Sepi. Ia memeriksa sekitar, tak ada siapa-siapa. Lorong yang menghubungkan lantai dua menuju tangga juga terlihat sepi. Hanya ada cahaya lampu yang memantul dari kaca besar yang menempel di dinding dekat anak tangga. Selebihnya, tidak ada siapa-siapa. Padahal Diandra seperti mendengar orang sedang berbicara sambil berbisik-bisik. Diandra tidak mau terlalu penasaran dan memutuskan untuk cepat-cepat turun ke bawah. Diandra mempercepat langkah kakinya.

Entah kenapa, Diandra jadi takut sendiri membayangkan suasana sekolahnya saat tidak ada orang sama sekali. Sebenarnya Diandra tahu, para suster masih ada di ruangannya. Tapi ruangan guru dan staff ada di bawah. Diandra tiba-tiba merasa menyesal menolak tawaran Suster Hanny untuk menyelesaikan hukuman di ruangannya. Diandra malah lebih memilih mengerjakannya di kelas.

Lantai dua berisi ruang-ruang kelas yang berdampingan dan ruang seminar yang jarang sekali digunakan. Kelas Diandra berada nomor dua paling ujung lantai dua. Dekat dengan ruang seminar. Jika mau turun ke bawah, jelas Diandra harus berjalan menyusuri lorong yang jaraknya tak kurang dari lima puluh langkah. Persis di ujung lorong menuju anak tangga, dipasang sebuah kaca yang digunakan sebagai cermin besar membentuk L yang disesuaikan dengan bentuk jalur tangga yang menjorok serong ke kiri. Kalian tahu? Berjalan di lorong sendirian di lantai dua, Diandra seperti bisa membaca ketukan suara langkah sepatunya dengan jelas.

Sebenarnya Diandra tidak menyadari ada yang aneh. Sampai ketika ia melewati dua ruangan kelas, ada bunyi lain yang mengikuti ritme langkah kakinya. Kira-kira seperti ini bunyinya, tak tuk|tuk|tak tuk|tuk|tak tuk|tuk….

Ketika dihitung dengan cermat, Diandra yakin, ada satu derap langkah tambahan setiap kali ia melangkah. Seperti ada kaki yang mengikutinya. Ritmenya sama, tapi kenapa hitungannya ganjil? Mana ada orang berjalan dengan satu kaki bisa selancar ini, batin Diandra.

Ketika Diandra berhenti, suara ketukan derap langkah tambahan itu ikut berhenti. Diandra tak berani menoleh ke belakang. Ia sudah cukup merasa telah diikuti seseorang, dan tidak ingin menebak ada apa di belakangnya. Diandra mencoba meyakinkan lagi bahwa derap yang terdengar hanya halusinasinya saja. Diandra melangkahkan kaki kanannya,

tak|tak…..

Diandra yakin, derap kaki yang terdengar terakhir bukan miliknya. Karena kaki kiri Diandra sama sekali belum ia gerakkan. Keringat dingin mulai mengucur. Ada keinginan untuk lari secepat kilat, tapi kedua kaki Diandra seolah berat untuk diajak bergerak. Diam. Sepi sekali.

“Diandra….” suara lembut mirip orang berbisik itu tiba-tiba lewat persis di telinga kanan Diandra.

 

*****

 

Diandra tak bergerak. Kakinya mulai gemetaran. Ia merasakan bulu kuduk di seluruh tubuhnya merinding tak karuan. Terasa ada hawa dingin di bagian tengkuk lehernya. Diandra ingin menangis saat ini. Matanya sudah panas menahan perasaan kesal, takut dan marah yang datang sekaligus. Perasaan yang benar-benar tak bisa ia jelaskan dengan akal sehat. Dalam agamanya, Diandra memang diajari bahwa di dunia ini  ada kekuatan iblis yang jahat. Tapi hantu? Diandra tak pernah percaya pada takhayul. Setelah sekian detik mematung, Diandra memberanikan diri berlari sekuat tenaga. Derap langkah kakinya yang cepat beradu dengan derap kaki di belakangnya. Seolah Diandra dikejar seseorang.

Diandra sudah sampai di ujung tangga dan akan melangkah turun, ketika tiba-tiba Suster Hanny berjalan naik dari lantai bawah menuju ke lantai dua. Diandra tersentak kaget. Ia mundur dan hampir menabrak kaca besar yang memantulkan bayangannya. Sejenak kemudian, Diandra tersenyum senang. Perasaan lega seketika berhambur mengusir kegelisahan dan ketakutannya. Diandra memberi senyumnya ke Suster Hanny. Saat Diandra mendekati Suster Hanny, Diandra malah diacuhkan. Suster Hanny berjalan dengan tenang melewati Diandra, seolah tak melihat kehadirannya. Diandra mengeryitkan dahinya.

“Suster,” panggil Diandra. Suster Hanny terus berjalan menuju ke ruang kelas Diandra, seperti tak mengindahkan panggilan Diandra.

“Suster…., suster….,”

Suster Hanny terus berjalan. Sementara Diandra yang kebingungan mulai panik. Apa ini? Diandra mencoba menalar semua yang dialaminya se “masuk akal” mungkin. Soal suara sepatu menjadi tidak menakutkan dibandingkan keadaan bisa melihat Suster Hanny tapi tak bisa memanggilnya. Kalau Suster Hanny hanya menggodanya, rasa-rasanya tidak mungkin. Suster Hanny orang yang terlalu serius untuk lelucon sekonyol ini. Diandra masih melihat Suster Hanny berjalan menjauh.

“SUSTERRR HANNY…!!!!” tiba-tiba Diandra begitu saja berteriak dengan kencang memanggil Suster Hanny. Ayolah, kalau ini memang lelucon dan bagian dari hukumannya, tentu sudah sangat berlebihan.

Benar saja. Suster Hanny tampak berhenti berjalan. Ia menoleh ke belakang. Melihat tepat ke arah Diandra berdiri di lorong. Diandra tersenyum. Kalau memang ia harus dihukum atas ketidaksopanannya karena berteriak, ia sudah siap. Entah kenapa, Diandra merasa Suster Hanny seperti orang kebingungan. Suster Hanny seperti mencari-cari sesuatu dengan melempar pandangannya ke sekitar. Suster Hanny masih tidak bisa melihat Diandra. Tak berapa lama, Suster Hanny melanjutkan langkahnya ke arah kelas Diandra.

Jantung Diandra berdebar sangat kencang. Akalnya masih belum bisa menangkap satu pun argumen untuk menjelaskan apa yang dialaminya saat ini. Diandra kemudian berlari menyusul Suster Hanny. Sempat terbersit untuk turun saja ke bawah dan langsung pulang. Tapi nalurinya mengatakan hal yang sebaliknya. Diandra mengikuti Suster Hanny kembali ke kelasnya.

Di depan pintu kelas, Diandra tak langsung masuk. Ia memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan Suster Hanny melalui jendela. Jantung Diandra berdegup. Tidak lagi berdebar seperti tadi. Seolah jantungnya memompa terlalu banyak darah yang mengalir naik ke ubun-ubun dan membuatnya merasa pusing seketika. Diandra mundur dan bersandar pada pintu. Ia masih belum mengerti apa yang dilihatnya di dalam kelas. Diandra mengatur nafasnya. Kemudian, dengan keberanian dan keputus-asaan yang tersisa ia kembali menengok ke dalam kelas dari jendela.

Suster Hanny tampak berdiri persis di depan meja Diandra. Ia tampak bicara pada seseorang yang duduk disana. Saat Suster Hanny beranjak keluar meninggalkan kelas, Diandra yang masih syok, bisa dengan jelas melihat dirinya sendiri duduk memandang keluar jendela. Diandra mundur beberapa langkah ketika Suster Hanny keluar dari dalam kelas dan melewatinya dengan tenang. Entah itu benar atau tidak, Diandra sekilas sempat melihat bibir Suster Hanny membuat garis senyum tipis, persis saat mereka berpapasan. Diandra lemas. Ia menjatuhkan dirinya di lantai. Duduk bersimpuh dengan kedua lututnya dilipat ke belakang. Diandra masih belum bisa menerima apa yang dialaminya. Ia ingat mama selalu menyuruh berdoa jika sedang dalam kesulitan.

Tapi, saat ini, untuk berdoa pun, Diandra merasa tidak sanggup. Diandra memejamkan matanya. Bagaimanapun, hanya dengan berdoa Diandra bisa menyelamatkan dirinya dari situasi yang aneh ini. Diandra mulai berdoa dalam hati, tapi kemudian sambil terisak, Diandra menyuarakan doanya dengan lantang.

“Tuhan, tolong aku tuhan, aku tidak tahu apa yang musti kulakukan. Aku kangen mama tuhan,” Diandra berhenti berdoa ketika ia menyadari dirinya yang lain baru saja keluar dari dalam kelas. Ia melihat dirinya yang lain itu seperti orang yang dikejutkan sesuatu. Sepertinya, dirinya yang lain baru saja mendengar suara tangis dan doanya tadi.

Tak lama kemudian, Diandra yang baru saja keluar dari dalam kelas mulai berjalan ke arah tangga. Diandra yang masih menangis, secara refleks langsung berdiri dan mengikuti dirinya yang lain dari belakang. Meskipun sangat dekat, Diandra tak bisa menyusul dirinya yang lain yang berjalan dengan cepat. Di tengah lorong, setelah melewati dua ruang kelas, Diandra berhenti ketika dirinya yang lain berhenti berjalan. Diandra melihat dirinya yang lain itu diam mematung. Diandra ingin membuat dirinya yang lain juga bisa melihatnya. Setidaknya dari dia, Diandra bisa mendapat penjelasan.

Meskipun jarak mereka sangat dekat, tapi Diandra tak bisa menyentuh dirinya yang lain itu. Sekuat tenaga tangannya mencoba meraih dirinya yang lain, tapi tak pernah berhasil. Kesal karena usahanya sia-sia Diandra menghentakkan kakinya ke lantai. Setengah putus asa Diandra berteriak menyebut namanya sendiri.

“DIANDRAAAA….!”

Seketika itu, ia menyesali tindakanya. Bukannya menoleh, Diandra yang lain berlari cepat ke arah tangga. Diandra sontak langsung ikut berlari menyusul dengan langkah kaki terseok-seok. Diandra hampir bisa menyentuh tubuh Diandra yang lain ketika tiba-tiba ia merasa tubuhnya terdorong ke belakang. Ia didorong oleh Diandra yang lain yang tampak berhenti mendadak. Diandra persis berada di belakang Diandra yang lain. Ia bersandar di kaca besar dekat tangga. Diandra terkejut ketika melihat Suster Hanny berjalan naik dari lantai bawah. Tunggu dulu. Ini persis dengan apa yang dialaminya tadi.

Diandra hanya bisa terbengong ketika menyaksikan adegan Diandra yang lain berusaha memanggil-manggil Suster Hanny yang tampak mengabaikannya. Diandra terdiam. Kepalanya teramat pusing untuk memahami apa yang dialaminya. Ia menyandarkan tubuhnya yang lemas pada kaca besar di belakangnya. Diandra yang lain tampak berlari mengikuti Bu Hanny. Melihat itu, Diandra hanya diam saja. Rasa-rasanya ia sudah tidak kuat lagi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Diandra hanya memikirkan mama yang mungkin sudah ada di depan sekolah untuk menjemputnya. Diandra sudah menyerah. Terlalu lelah untuk memahami peristiwa ini.

Suster Hanny berjalan keluar kelas dengan tenang. Ia tersenyum senang ketika melihat Diandra tampak bersandar pada kaca besar di ujung lorong di dekat anak tangga. Diandra tampak menunduk, ia yakin Suster Hanny masih belum bisa melihatnya. Suster Hanny berjalan tenang ke arah Diandra. Jelas Suster Hanny akan turun ke bawah. Diandra sudah enggan untuk melakukan apapun. Toh Suster Hanny tidak bisa melihatnya. Suster Hanny mendekat, dan saat persis berada di depan Diandra, Suster Hanny berhenti. Ia menatap ke arah Diandra. Diandra mendongakkan kepalanya, melihat dengan jelas tatapan Suster Hanny.

“Kamu boleh pulang sekarang,” kata Suster Hanny kepada Diandra. Suaranya tenang dan terkesan dingin. Teramat dingin sampai Diandra bisa merasakan hawa dingin itu, menusuk ke dalam tulangnya. Sebelum beranjak pergi, Suster Hanny sempat memberi isyarat agar Diandra menoleh ke belakang dengan anggukan kepalanya. Seperti sebuah sihir, Diandra mematuhi apa yang diminta Suster Hanny. Ia menoleh ke belakang dengan gerakan yang sangat pelan.

 

*****

 

Di dalam kaca, Diandra melihat ratusan atau mungkin ribuan dirinya sendiri. Mereka berkerumun dan saling berjejalan sampai sejauh mata Diandra melihat ke dalam kaca. Ada Diandra yang terlihat diam, ada Diandra yang menangis , ada yang menari-nari seperti orang gila, ada juga Diandra yang terlihat berbicara asyik dengan Diandra-Diandra yang lain. Sebelum sempat berteriak, Diandra sudah didorong masuk ke dalam kaca. Sejenak kemudian, yang ada di pikiran Diandra, hanya mama yang mungkin saat ini sedang khawatir menunggunya pulang, di depan sekolah.

Di dalam kelas, Diandra menengok jam tangannya. Sudah jam setengah lima sore. Di luar, awan mendung menyelimuti langit. Kalian tahu? angin juga berhembus kencang saat itu. (SELESAI)

 

 

In Portfolios