logo

CHAPTER 5. “DI PERON”

 

 

Malam yang dingin di bulan November. Sekarang tanggal 23. Persis seperti yang tertera dalam tiket online kereta api milik Hasni. Perempuan manis yang bekerja sebagai jurnalis Majalah Hastag itu, sedang mendapat tugas liputan ke luar kota. Ia harus berangkat malam ini, agar besok pagi sudah sampai ke kota tujuannya. Hasni merapatkan sweter berwarna abu2 yang dipakainya.

Barang yang dibawa Hasni tak terlalu banyak. Hasni hanya membawa tas ransel yang ia gendong dan satu tas berisi kamera kesayangannya.
Hasni tidak mau terlalu ribet. Ia memang perempuan yang sangat simple. Se-simple sudut pandangnya dalam memahami sesuatu.

Dari rumah kost-nya, Hasni berangkat dua jam lebih awal sebelum jadwal keberangkatan keretanya. Kalau dipikir lagi, sebenarnya tugas liputan ke luar kota ini, bukanlah tugasnya. Melainkan tugas Ameera, jurnalis yang juga satu kantor dengannya. Usut punya cerita, Ameera tidak bisa berangkat. Ibunya sakit dan harus dirawat di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama. Karena itu, Ameera meminta Hasni untuk menggantikannya berangkat liputan.

Seminggu yang lalu, dalam rapat redaksi, permintaan Ameera disetujui Pak Handi, pemimpin redaksi Majalah Hastag. Hasni pun setuju. Ia tidak tega menolak permintaan Ameera yang sedang dirundung kesedihan.

Jarak antara rumah kost Hasni ke stasiun lumayan jauh. Hasni memutuskan berangkat lebih awal untuk memastikan ia sampai di stasiun tepat waktu. Ia tidak mau merasa konyol di “damprat” Pak Hadi karena gagal liputan hanya gara2 ketinggalan kereta. Belum lagi, betapa pentingnya liputan itu bagi eksistensi majalahnya.
Hasni beruntung mendapat tiket kelas eksekutif. Ia juga mendapat fasilitas hotel untuk menginap yang sudah di-reservasi atas namanya oleh kantor. Perjalanan aman, batin Hasni.

Jam sebelas-dua puluh menit, Hasni tiba di stasiun. Ia turun dari taksi yang mengantarnya. Hasni turun di area parkir di sisi timur stasiun. Selain mobil para pengantar dan penjemput yang memadati area, Hasni juga dapat melihat papan nama stasiun yang menyala terang di atas pintu gedung utama.

Hasni berjalan santai menuju ke dalam stasiun. Sampai di teras stasiun, Hasni tidak buru-buru menuju loket. Ia memilih masuk ke toko waralaba lebih dulu. Berencana membeli air mineral dan camilan, sebagai teman membaca buku saat di kereta nanti. Keluar dari toko, Hasni menuju loket digital dan mencetak ulang tiketnya. Dunia benar-benar dalam genggaman sekarang. Barangkali antri di loket akan menjadi budaya yang punah sebentar lagi, pikir Hasni sambil berjalan masuk ke peron.

 

*****

 

Hasni masuk ke peron, setelah tiketnya diperiksa dan dipastikan oleh petugas jaga. Kereta Hasni masih belum datang. Masih ada waktu satu jam bagi Hasni untuk duduk-duduk sambil menunggu keretanya datang. Hasni berencana menyusun kembali kalimat pengantar untuk bahan artikel hasil liputannya nanti. Biasanya, dalam menulis berita, seorang jurnalis atau wartawan yang cerdas, lebih suka membuat plot-nya lebih dulu, ketika tema dari materi liputan sudah diketahui. Sementara hasil liputan akan menjadi catatan tambahan yang menguatkan sudut pandang tulisan saja. Tidak semuanya seperti itu sih, tergantung dari masing-masing orang. Tapi Hasni lebih suka seperti itu. Lebih simple, katanya. Selain untuk mengisi waktunya yang luang.

Hasni berhasil mendapat bangku yang kosong di sebelah barat peron. Memperhatikan sekitar, Hasni merasa peron ini terlalu sepi. Hanya ada beberapa orang calon penumpang yang duduk secara terpisah. Stasiun di kota Hasni memang sangat besar. Ada sekitar 6 track jalur kereta, yang secara teratur, menyambut dan mengantar kereta yang datang dan pergi silih berganti.

Dulu, saat masih kanak-kanak, seingat Hasni, sebelum di-restorasi, stasiun adalah tempat menyebalkan yang penuh sesak dengan ribuan orang yang hendak pergi atau pulang. Tidak hanya penumpang, para pedagang dan pengamen juga berseliweran dengan bebas. Sebebas rumah sendiri. Berpengaruh pada resiko penumpang kehilangan barang berharganya, karena pencopet dan pencuri juga ada dalam kerumunan. Tidak mau larut dalam pikirannya soal stasiun, Hasni mengambil laptop dari dalam tas ranselnya. Dengan cepat ia menyalakannya, dan mulai memeriksa artikel yang sudah ia kerjakan beberapa hari ini.

Seraya sibuk menghadap layar laptop yang dipangkunya, Hasni merasa ada sesuatu yang mengusik perhatiannya. Sesuatu yang ada jauh di seberang tempatnya duduk. Hasni awalnya tidak terlalu peduli, tapi semakin lama, ia semakin tidak kuat menahan matanya untuk sekedar mengintip dan membunuh rasa penasarannya. Sambil kepalanya terus menunduk ke layar laptop, Hasni memainkan bola matanya agar bisa melihat apa yang ada di depannya itu.

 

*****

 

Di seberang jalur kereta, Hasni melihat seperti rombongan sebuah keluarga sedang berdiri memperhatikannya. Mereka tidak bergerak dan hanya berdiri diam menghadap ke arah Hasni. Beberapa kali Hasni mengintip, tapi tetap sama. Rombongan itu masih diam seperti patung. Angin berhembus, menembus sweter Hasni yang tipis. Entah kenapa, Hasni merasa, rombongan itu terus saja memperhatikannya. Karena risih, Hasni menutup laptopnya, dan memberanikan diri untuk beradu tatap dengan mereka. Barangkali mereka memang mengenal Hasni dan hanya berusaha meyakinkan diri sebelum menghampirinya. Mungkin takut salah orang.

Hasni dan rombongan keluarga itu saling menatap. Meskipun jaraknya agak jauh, Hasni yakin rombongan keluarga itu seperti sengaja menatapnya. Ada yang aneh, Hasni tak mengenali mereka. Dan sepertinya mereka memang tak saling mengenal. Hasni menghitung, rombongan itu terdiri tujuh orang yang berdiri berdampingan. Dua orang lelaki dewasa, dua orang wanita dewasa dan tiga sisanya, dua anak lelaki dan satu perempuan, berusia antara 6 sampai 12 tahun. Anak yang perempuan mungkin si bungsu, jika melihat dari perawakannya.

Ia paling mencolok karena terlihat menggendong boneka beruang berwarna biru seukuran lengannya. Hasni membayangkan, mereka adalah satu keluarga yang terdiri dari sepasang kakek nenek dan sepasang suami istri dengan tiga orang anak mereka. Mereka mengenakan pakaian yang teramat rapi bagi Hasni. Para lelaki mengenakan kemeja lengan panjang yang dilipat sampai siku, sedangkan yang perempuan mengenakan dress terusan dibawah lutut.

Termasuk si anak bungsu yang terlihat begitu menggemaskan menurut Hasni. Di sebelah lelaki yang terlihat sebagai ayahnya, terlihat tas koper dan kardus-kardus besar yang bisa jadi isinya oleh2. Hasni tersenyum, ia hanya mencoba menerka-nerka saja. Hasni yakin, mereka bisa melihatnya tersenyum. Meskipun agak kecewa karena mereka masih saja diam tanpa ekspresi.

Kalau dipotret tentu sangat menarik, batin Hasni. Jika melihat urutan berdirinya juga sudah seperti pose foto keluarga. Ketiga anak berada di tengah. Diapit oleh pasangan suami istri yang merupakan ayah, ibu dan kakek nenek mereka. Bagi Hasni pemandangan itu sangat menarik untuk diabadikan. Apalagi latarnya juga sangat eksotis dengan ornamen interior jaman kolonial.

Tanpa berpikir panjang, Hasni segera mengeluarkan kamera dari tas-nya. Dengan gerakan cepat, ia menyiapkan memori dan menyetel settingan cahaya yang menurutnya sesuai dengan kondisi cahaya malam ini. Ia merasa beruntung suasana peron sangat terang karena dipasangi lampu-lampu besar berwarna putih. Semoga saja, keluarga itu tidak keberatan untuk dipotret. Setidaknya akan ada alasan untuk menghampiri mereka nanti dan memperlihatkan hasil fotonya. Kalau beruntung, dan  mereka ternyata akan satu gerbong, lumayan sebagai teman bicara.

Hasni mengangkat kameranya, membidik ke arah keluarga itu berada. Persis dari dalam teropong lensanya, Hasni mendapati keluarga itu sudah tidak ada di tempatnya. Deg !

Hasni menurunkan kameranya. Benar juga. Tidak ada siapa-siapa disana. Antara percaya dan tidak, Hasni merasa jantungnya berdegup kencang. Tidak mungkin mereka pindah tempat secepat itu. Kalaupun berpindah tempat, Hasni tentu masih bisa melihatnya. Hasni berdiri dan memeriksa lagi ke depan, melempar pandangannya ke seluruh penjuru peron di seberang.

Tetap sepi dan tidak ada siapa-siapa. Hanya ada satu orang tampak duduk sambil tidur di di salah satu kios yang terkesan seperti tidak ingin didatangi pembeli.

Hasni mencoba berpikir rasional. Kalau ini halusinasi atau ilusi optik gara-gara kantuk, rasa-rasanya juga tidak mungkin. Hasni jelas-jelas melihat rombongan keluarga itu tadi. Persis berdiri berdampingan seperti sedang menunggu kereta. Apalagi mereka saling beradu tatapan untuk waktu yang cukup lama dan dalam keadaan yang sangat sadar.

Hasni menoleh ke samping kanan kirinya. Para penumpang yang menunggu kereta terlihat menahan kantuk mereka masing-masing. Hasni menoleh ke belakang. Tak jauh dari tempatnya, ia melihat seorang petugas sekuriti tampak melintas tenang. Sepertinya hanya orang itu yang bisa diajaknya bicara. Hasni memang butuh orang untuk diajak bicara, untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Hasni buru-buru memasukkan kembali laptop dan kameranya ke tempat semula. Ia lalu berlari menghampiri petugas sekuriti yang tadi dilihatnya. Saat sudah berhadapan, Hasni segera menyapanya.

“Pak, permisi,”

“Ya, mbak, ada yang bisa dibantu,” kata si petugas dengan ramah.
Hasni yang sedikit terengah-engah karena berlari, menoleh dan menunjuk ke arah peron di seberang.

“Tadi disana, hhhh..hhh..,” Hasni mencoba menata kalimat dan nafasnya sendiri. Si petugas ikut melihat ke arah yang ditunjuk Hasni.

“Tadi disana, saya lihat ada rombongan keluarga berdiri persis di pinggir rel,” Si petugas terlihat celingak celinguk sambil berusaha memahami apa yang dikatakan Hasni.

“Coba diperiksa pak, saat mau saya potret, mereka hilang,”

“Hilang?” tanya si petugas.

“Iya, hilang. Mereka tiba-tiba sudah tidak ada di tempatnya,” Hasni merasa agak konyol juga mengajak si petugas bicara. Hasni merasa si petugas tidak akan percaya pada ceritanya. Si petugas terlihat tersenyum. Hasni sedikit tersinggung juga merasa ceritanya direspon dengan senyum tidak percaya dari si petugas.

“Tidak ada apa-apa disana,” kata si petugas.

“Maksudnya?” tanya Hasni bingung.

“Bukankah disana juga peron untuk para penumpang?”

Si petugas tersenyum lagi. Hasni makin geregetan. “Peron?” kata di petugas seolah mempertegas pertanyaan Hasni.

Hasni mendengus kesal. “Iya, peron!”

“Coba lihat lagi, mbak mungkin lagi ngantuk ini,” kata si petugas yang kemudian pamit untuk kembali berpatroli. Hasni kesal, tapi ia juga tak mungkin memaksa petugas mempercayai ceritanya begitu saja. Menuruti apa yang dikatakan si petugas, Hasni kembali menoleh ke belakang, ke arah peron di seberang.

Pemandangan berubah. Hasni tidak lagi melihat ada peron di seberang. Tidak ada gedung disana. Yang terlihat hanya dereton gerbong barang yang mangkrak dan berkarat. Sekali lagi, Hasni merasa dipaksa berpikir tidak rasional. Apa ini? batin Hasni. Si petugas sudah berlalu pergi meninggalkan Hasni sendirian. Hasni melihat ke sekitar, pemandangan ikut berubah. Ia tidak lagi berada di peron yang sama seperti saat pertama ia datang.

Tidak ada orang. Semua calon penumpang yang tadi dilihatnya juga menghilang. Perasaan mencekam yang dirasakannya tiba-tiba, membuat Hasni semakin kalut. Lampu-lampu terang berwarna putih, berganti dengan lampu berwarna kuning temaram. Suasana peron mengingatkannya pada stasiun sebelum di-restorasi. Hanya saja, tidak ada orang yang berkerumun. Hasni menyadari, ia sedang sendirian disana.

Dalam keadaan yang serba bingung, Hasni memutuskan untuk tetap diam. Ia berharap apa yang dialaminya hanya sekedar halusinasinya saja. Ia tidak mau berpikir terlalu rumit. Tak lama kemudian, bunyi nada pengantar khas yang menandai datangnya kereta terdengar dari mikropon di sudut peron.

Teng teng teng tung, tung teng teng tung, teng teng tung tung, tung tung teng teng……

Hasni masih diam. Ia sudah tak ingin beranjak kemana-mana. Suara kereta meraung dari arah timur. Hasni melihat kereta datang, melaju dengan kecepatan yang berusaha dikurangi. Perlahan-lahan, kereta akhirnya berhenti. Menyisakan raungan mesin yang keras dan menyeramkan. Hasni berdiri tak jauh dari jalur kereta. Ini jelas bukan keretanya, batin Hasni.

Pintu gerbong nomor 3, yang berada persis sejajar lurus dengan Hasni, terbuka secara otomatis. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Hasni berhenti menghitung jumlah penumpang yang turun dari dalam gerbong nomor 3. Hasni mendongakkan kepalanya, melihat ke arah penumpang. Deg !

Rombongan keluarga itu sekarang ada di depanya. Si ayah yang terlihat menggendong anak bungsu, dengan cepat segera menurunkannya. Mereka diam berdiri sejajar, persis berjarak tak sampai sepuluh meter dari tempat Hasni berdiri. Tidak ada yang berbeda dari wajah mereka, yang masih bisa Hasni ingat. Kecuali, rombongan itu mengenakan pakaian yang sama. Mirip seperti daster berwarna putih lusuh yang panjangnya sampai menutupi kaki. Secara kompak, mereka mengangkat tangan kanan mereka dan melambai ke arah Hasni. Angin berhembus menembus sweter tipis Hasni. Hasni masih diam dan terpaku.

Ia kemudian menyadari bahwa keluarga itu beranjak menghampirinya masih dengan tangan yang melambai. Sebelum jarak mereka semakin dekat, Hasni berdoa komat kamit, berharap agar mereka tidak marah karena sempat akan dipotret tadi.

Kalian tahu? Mulailah berhati-hati mengambil gambar sembarangan. Apalagi di peron. Tidak semuanya suka dipotret. (SELESAI)

In Portfolios